Matahari
sudah tertidur sekitar enam jam yang lalu. Namun Kriwil belum juga menikmati
bantalnya yang empuk. Entah apa yang dia pikirkan. Bukan suatu perkara yang
menyedihkan, memang, justru sebaliknya. Lihat saja, pandangannya seolah menatap
jauhhhh ke depan. Meskipun di depannya hanyalah tembok bercat pink muda yang
sudah mengelupas di sana-sini, namun bayangan di matanya adalah sebuah taman
yang indah. Taman dimana seharian tadi dia bertemu dengan seseorang.
Namanya
Ucrit. Sebut saja begitu. Ucrit. Seorang anak yang termenung di antara puluhan
teman-temannya. Ucrit nampak begitu tenang, meskipun teman-temannya sudah
membuat seisi taman menjadi riuh. Dan itulah saat dimana Ucrit dipertemukan
dengan Kriwil. Kisahnya seperti dalam FTV. Di taman, jalan sambil ngalamun,
tiba-tiba ditubruk seseorang yang melaju dengan skeatboard, jatuh, ditolong,
hampir berpelukan, grogi, malu, diem-dieman, minta maaf, bilang nggak pa pa,
akhirnya kenalan, dianter pulang, minta nomer hape, minta uang, minta makan,
minta minta, minta nguik nguik, stop! Kebablasan!
Tidak
demikian. Kriwil dan Ucrit hanyalah dipertemukan dengan suatu kebetulan saja.
Hanya karena memang sang pembuat kisah menentukan mereka bertemu. Jangan
protes. Coba lihat sekali lagi pada Kriwil. Em...sampingnya. Ya. Di samping
Kriwil. Itulah Ucrit. Mereka duduk di kursi panjang, berdua. Jaraknya hanya
sekitar sejengkal. Namun Kriwil tetap memandang ke depan, bukan ke samping ke
arah Ucrit. Nah, sekarang lihatlah
Ucrit, apa yang dia pandang, sama saja.
“Crit,
apa kau tau betapa senangnya aku?”, Kriwil mulai membuka pembicaraan, tanpa
memindahkan arah pandangnya.
“Mungkin
lebih dari yang kurasa, padahal aku tidak bisa mendefinisikan betapa aku
bahagia di sini”, Ucrit tersenyum, masih tetap menerawang jauh ke depan,
menembus tembok.
“Crit,
apa kau melihatnya?”, Kriwil menyipitkan mata memandang ke suatu titik di
depannya, sesekali tersenyum.
“Ya,
aku tidak buta. Aku melihatnya. Sungguh. Itu membuat aku betah tinggal di sini.
Aku pasti bahagia”, Ucrit menggeser duduknya, setengah jengkal.
“Crit,
apa kau pernah merasakan betapa berharganya engkau?”, Kriwil melirik Ucrit.
“Aku
tak pernah merasa diriku berharga, namun di sini aku bersyukur aku punya
kebahagiaan”, Ucrit menengadahkan wajahnya, langit-langit tampak kosong, namun
baginya ribuan bintang menghiasinya.
“Crit,
bukankah akan lebih mudah bagimu ikut bersama mereka, darimana di sini hidup
dalam khayalan?”, Kriwil memandang Ucrit yang masih menatap langit-langit.
“Wil,
untuk apa kau pertanyakan itu? Ini nyata. Lihat itu!”, Ucrit menoleh ke arah
Kriwil, kemudian melempar pandangannya ke arah satu titik di depan mereka.
“Nyata?
Tidak, Crit. Bagi mereka kita hanyalah khayalan. Hanya dia, kita, dan teras ini
yang tau keadaan sebenarnya,” Kriwil memandang mata Ucrit yang berbinar.
“Sudahlah,
jangan kau pikirkan mereka lagi. Bukankah mereka telah mencampakanmu di taman
siang tadi? Untung ada dia yang mempertemukan kita, dan membawa kita ke sini,”
Yang sedari tadi dipandang akhirnya menoleh, sorot mata mereka bertemu.
“Kau
benar, Crit. Aku senang melihatnya menari-nari di teras. Jemarinya begitu
lentik, kakinya lincah, irama lompatan-lompatan kecilnya indah, sepertinya dia
tak pernah kehabisan semangat, atau dia mahir menyembunyikan kesedihan,” Senyum
kembali merekah di bibir Kriwil. Rambutnya yang kriting itu sedikit tersibak
oleh hembusan angin malam.
“Iya,
apalagi ketika jemarinya membelai lembut tubuhku. Ah, geli, lembut, hangat, aku
tak pernah mau jauh darinya,” Ucrit memejamkan mata, mengingat beberapa saat
tadi dia dibelai dan dipeluk.
“Aku
paling suka ketika dia menimangku di takupan telapak tangannya yang hangat, dan
mengajakku bernyanyi, menari, bercerita, tertawa, menangis. Ah...aku merasa menjadi
bagian dari hidupnya, dan dia bagian dari hidupku,” Mata Kriwil mulai
berkaca-kaca, Kriwil tertunduk.
“Hidup?
Apakah kita benar-benar hidup, Wil?”, Ucrit tiba-tiba menyandarkan kepalanya di
pundak Kriwil.
“Apa
maksudmu?”, Kriwil kaget, diangkatnya kepalanya.
“Ah,
tidak. Tidak apa-apa. Ini akan menjadi malam pertama yang indah. Aku suka
tariannya. Aku suka duduk di teras ini,” Ucrit menggelengkan kepalanya yang
masih ambruk di pundak Kriwil.
“Teras
ini. Tadi dia menyebut teras ini... em....”, Kriwil mengernyitkan dahi.
“Siblu”,
Tangan Ucrit memainkan segerombolan rambut kriting Kriwil yang menjuntai di
pipinya.
Udara
dingin masih berkeliaran di sekitaran teras. Namun aku masih menari, bercinta.
Di teras ini. Di depanku, Kriwil dan Ucrit sedang melambungkan angannya hingga
menembus langit-langit dan melihat bintang dari dekat. Di belakangku, sebuah
tembok berdiri kokoh. Rencanaku, sejak malam ini aku akan menghabiskan waktu
bersama Kriwil dan Ucrit, di terasku yang bernama Siblu. Ini malam pertama. Akan
aku tumpahkan seluruh rasaku pada dua sosok yang kupertemukan tadi. Jika
biasanya aku hanya menari sendiri dalam sepi di teras Siblu ini, maka mulai
malam ini akan ada yang kuajak menari, melihatku menari, bertepuk tangan, membaca
bekas-bekas jejeak tarianku, bertukar pendapat, memberiku selamat, menemaniku
kemana saja, dan menerimaku apa adanya.
Jemariku
terasa dingin, kakiku lelah, punggungku ngilu hebat, mataku pun meredup.
Kulihat Kriwil dan Ucrit masih menikmati khayalan mereka sembari tersenyum
melihatku menari. Aku menghentikan tarian cintaku. Kemudian menggapai
tangan-tangan mereka. Menimang dalam takupan tanganku. Membawanya pergi dari
teras, menuju kasur empuk mereka. Kutinggalkan Siblu, kubiarkan dia istirahat, mendoakan
lalu mengecup punggungnya.
Sudah
lewat tengah malam. Kriwil dan Ucrit berdekapan di pelukanku. Malam ini, akan
kuungkapkan seluruh rasaku. Kuceritakan kisahku, hingga mereka terlelap sama
seperti Siblu. Ah...sekarang aku tak susah tidur gara-gara kebelet cerita, dan
nampaknya Ucrit, Kriwil, dan Siblu, akan menikmati semua tarianku, aku tak
perlu membuat pamflet atau iklan untuk pentasku, ada mereka, ini lebih baik
daripada kuhancurkan dunia orang lain hanya untuk sebuah pentas yang tiada
berarti. Ini duniaku. Dunia kami. Aku, Kriwil, Ucrit, dan Siblu.
Duniaku, 20-21
Desember 2012
Sepulang berkelana di sekaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar