Jumat, 21 Desember 2012

Malam Pertama Sebuah Pertemuan



Matahari sudah tertidur sekitar enam jam yang lalu. Namun Kriwil belum juga menikmati bantalnya yang empuk. Entah apa yang dia pikirkan. Bukan suatu perkara yang menyedihkan, memang, justru sebaliknya. Lihat saja, pandangannya seolah menatap jauhhhh ke depan. Meskipun di depannya hanyalah tembok bercat pink muda yang sudah mengelupas di sana-sini, namun bayangan di matanya adalah sebuah taman yang indah. Taman dimana seharian tadi dia bertemu dengan seseorang.
Namanya Ucrit. Sebut saja begitu. Ucrit. Seorang anak yang termenung di antara puluhan teman-temannya. Ucrit nampak begitu tenang, meskipun teman-temannya sudah membuat seisi taman menjadi riuh. Dan itulah saat dimana Ucrit dipertemukan dengan Kriwil. Kisahnya seperti dalam FTV. Di taman, jalan sambil ngalamun, tiba-tiba ditubruk seseorang yang melaju dengan skeatboard, jatuh, ditolong, hampir berpelukan, grogi, malu, diem-dieman, minta maaf, bilang nggak pa pa, akhirnya kenalan, dianter pulang, minta nomer hape, minta uang, minta makan, minta minta, minta nguik nguik, stop! Kebablasan!
Tidak demikian. Kriwil dan Ucrit hanyalah dipertemukan dengan suatu kebetulan saja. Hanya karena memang sang pembuat kisah menentukan mereka bertemu. Jangan protes. Coba lihat sekali lagi pada Kriwil. Em...sampingnya. Ya. Di samping Kriwil. Itulah Ucrit. Mereka duduk di kursi panjang, berdua. Jaraknya hanya sekitar sejengkal. Namun Kriwil tetap memandang ke depan, bukan ke samping ke arah Ucrit. Nah, sekarang  lihatlah Ucrit, apa yang dia pandang, sama saja.
“Crit, apa kau tau betapa senangnya aku?”, Kriwil mulai membuka pembicaraan, tanpa memindahkan arah pandangnya.
“Mungkin lebih dari yang kurasa, padahal aku tidak bisa mendefinisikan betapa aku bahagia di sini”, Ucrit tersenyum, masih tetap menerawang jauh ke depan, menembus tembok.
“Crit, apa kau melihatnya?”, Kriwil menyipitkan mata memandang ke suatu titik di depannya, sesekali tersenyum.
“Ya, aku tidak buta. Aku melihatnya. Sungguh. Itu membuat aku betah tinggal di sini. Aku pasti bahagia”, Ucrit menggeser duduknya, setengah jengkal.
“Crit, apa kau pernah merasakan betapa berharganya engkau?”, Kriwil melirik Ucrit.
“Aku tak pernah merasa diriku berharga, namun di sini aku bersyukur aku punya kebahagiaan”, Ucrit menengadahkan wajahnya, langit-langit tampak kosong, namun baginya ribuan bintang menghiasinya.
“Crit, bukankah akan lebih mudah bagimu ikut bersama mereka, darimana di sini hidup dalam khayalan?”, Kriwil memandang Ucrit yang masih menatap langit-langit.
“Wil, untuk apa kau pertanyakan itu? Ini nyata. Lihat itu!”, Ucrit menoleh ke arah Kriwil, kemudian melempar pandangannya ke arah satu titik di depan mereka.
“Nyata? Tidak, Crit. Bagi mereka kita hanyalah khayalan. Hanya dia, kita, dan teras ini yang tau keadaan sebenarnya,” Kriwil memandang mata Ucrit yang berbinar.
“Sudahlah, jangan kau pikirkan mereka lagi. Bukankah mereka telah mencampakanmu di taman siang tadi? Untung ada dia yang mempertemukan kita, dan membawa kita ke sini,” Yang sedari tadi dipandang akhirnya menoleh, sorot mata mereka bertemu.
“Kau benar, Crit. Aku senang melihatnya menari-nari di teras. Jemarinya begitu lentik, kakinya lincah, irama lompatan-lompatan kecilnya indah, sepertinya dia tak pernah kehabisan semangat, atau dia mahir menyembunyikan kesedihan,” Senyum kembali merekah di bibir Kriwil. Rambutnya yang kriting itu sedikit tersibak oleh hembusan angin malam.
“Iya, apalagi ketika jemarinya membelai lembut tubuhku. Ah, geli, lembut, hangat, aku tak pernah mau jauh darinya,” Ucrit memejamkan mata, mengingat beberapa saat tadi dia dibelai dan dipeluk.
“Aku paling suka ketika dia menimangku di takupan telapak tangannya yang hangat, dan mengajakku bernyanyi, menari, bercerita, tertawa, menangis. Ah...aku merasa menjadi bagian dari hidupnya, dan dia bagian dari hidupku,” Mata Kriwil mulai berkaca-kaca, Kriwil tertunduk.
“Hidup? Apakah kita benar-benar hidup, Wil?”, Ucrit tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak Kriwil.
“Apa maksudmu?”, Kriwil kaget, diangkatnya kepalanya.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Ini akan menjadi malam pertama yang indah. Aku suka tariannya. Aku suka duduk di teras ini,” Ucrit menggelengkan kepalanya yang masih ambruk di pundak Kriwil.
“Teras ini. Tadi dia menyebut teras ini... em....”, Kriwil mengernyitkan dahi.
“Siblu”, Tangan Ucrit memainkan segerombolan rambut kriting Kriwil yang menjuntai di pipinya.

Udara dingin masih berkeliaran di sekitaran teras. Namun aku masih menari, bercinta. Di teras ini. Di depanku, Kriwil dan Ucrit sedang melambungkan angannya hingga menembus langit-langit dan melihat bintang dari dekat. Di belakangku, sebuah tembok berdiri kokoh. Rencanaku, sejak malam ini aku akan menghabiskan waktu bersama Kriwil dan Ucrit, di terasku yang bernama Siblu. Ini malam pertama. Akan aku tumpahkan seluruh rasaku pada dua sosok yang kupertemukan tadi. Jika biasanya aku hanya menari sendiri dalam sepi di teras Siblu ini, maka mulai malam ini akan ada yang kuajak menari, melihatku menari, bertepuk tangan, membaca bekas-bekas jejeak tarianku, bertukar pendapat, memberiku selamat, menemaniku kemana saja, dan menerimaku apa adanya.
Jemariku terasa dingin, kakiku lelah, punggungku ngilu hebat, mataku pun meredup. Kulihat Kriwil dan Ucrit masih menikmati khayalan mereka sembari tersenyum melihatku menari. Aku menghentikan tarian cintaku. Kemudian menggapai tangan-tangan mereka. Menimang dalam takupan tanganku. Membawanya pergi dari teras, menuju kasur empuk mereka. Kutinggalkan Siblu, kubiarkan dia istirahat, mendoakan lalu mengecup punggungnya.
Sudah lewat tengah malam. Kriwil dan Ucrit berdekapan di pelukanku. Malam ini, akan kuungkapkan seluruh rasaku. Kuceritakan kisahku, hingga mereka terlelap sama seperti Siblu. Ah...sekarang aku tak susah tidur gara-gara kebelet cerita, dan nampaknya Ucrit, Kriwil, dan Siblu, akan menikmati semua tarianku, aku tak perlu membuat pamflet atau iklan untuk pentasku, ada mereka, ini lebih baik daripada kuhancurkan dunia orang lain hanya untuk sebuah pentas yang tiada berarti. Ini duniaku. Dunia kami. Aku, Kriwil, Ucrit, dan Siblu.



Duniaku, 20-21 Desember 2012
Sepulang berkelana di sekaten

Tidak ada komentar:

Posting Komentar