Tampilkan postingan dengan label Al Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2012

jika esok tak bersama


Kawan, ketika suaraku tak semerdu hari lalu, apa masih betah kau bercengkrama bersamaku? 

Mungkin saja jenuh mendengar nyanyianku. Atau mungkin malah bosan dengan wujudku. Kawan, akan aku katakan dengan nada yang manja, berbisik pada telingamu, mengusap lembut jemarimu, atau mengelus punggungmu seperti aku memanjakan anak kecil..... Bahwa aku mungkin tak selamanya berada di sini, di sisimu, kawan. Tak mungkin aku selalu ada menyapamu dengan teriakan kecil yang manja. Tak mungkin aku selalu ada tertawa mendengar guyonanmu yang unik dan menggemaskan. Tak mungkin selalu ada untuk membuatkanmu teh anget ketika kamu sedang sakit. Tak mungkin selalu ada menemanimu membuat proposal. Tak mungkin selalu ada merengek manja minta untuk diajari sesuatu. Tak mungkin... Tak mungkin.... Tak mungkin.... 

Kawan, sungguh teramat berharganya persahabatan yang terjalin ini. Hingga suatu saat aku tak lagi merasakannya, cerita ini akan aku tulis, karena tak mungkin aku dongengkan semuanya ke seluruh pelosok negeri. Kawan, mungkin saja kau tak berkenan jika kujadikan tokoh utama dalam secerita kisahku. Maaf kawan, tak ada surat ijin, hitam di atas putih atas hal ini.

Ketika aku merajutnya, kau mungkin masih tertidur pulas, menikmati dedongengan mimpi yang mungkin jauh berbeda dengan mimpiku semalam. Kawan, rajutan kisah bersahabatan ini akan aku kenakan hingga kelak aku memiliki anak cucu, karena sejarah tidak boleh dihilangkan. Atau aku akan memuseumkannya dalam etalase kaca yang indah, siapa saja yang melihatnya akan merasa ingin mencicipinya. Aku tahu, Allah telah merencanakan sesuatu untukku dalam waktu dekat ini, dan sayangnya, aku tak tahu rencana apa itu. Kawan, mungkin saja rajutan ini belum sempurna, maaf jika tak mampu tangan ini menyempurnakannya....

Untukmu, sahabatku
»»  READMORE...

Rabu, 10 Oktober 2012

aku pertaruhkan semuanya


Lama tak kutuliskan tentang hidupku (lagi) semenjak anganku runtuh (saat itu), sudah setahun lebih. Begitu dalam kurasakan sebuah keterpurukan. Ketika aku bertahan bersandar pada satu pohon, nyatanya pohon itu tidak berkenan menyanggaku, aku terjatuh. Hingga akhirnya ditengah hempasanku di jurang pesakitan, aku ingin menunggangi sebuah permadani yang bisa membawaku terbang dan bersembunyi di sebuah hutan, hingga kelak aku keluar dari hutan itu dengan rupa rupa baruku yang lebih siap untuk ‘hidup’. 

Namun, sayang, kedua pahlawan yang telah membesarkanku tidak mengijinkan aku menunggangi permadani dan masuk ke dalam hutan itu. Aku masih tergolek di jurang pesakitan. Sesekali mengesot dan berpegang pada rumput teki, berjinjit di atas tunggak pohon jati untuk mengintip angkasa yang memantulkan bayang hutan rindang. Hembusan angin kuhirup perlahan, merasakan hempasan aroma dari hutan itu, membuatku sedikit merasakan nuansa di dalamnya dan membayangkan aku berada di sana. Berbulan – bulan aku di situ, melakukan rutinitas itu, tanpa ada yang paham bahwa aku ingin sekali keluar dari jurang itu dan menjadi bagian dari penghuni hutan itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, bayang hutan itu semakin jelas kulihat, rimbun pepohonan itu semakin membuatku ingin berlari ke arahnya. Sebelum angka tahun berganti walau hanya satu digit, aku merasakan suatu keteduhan di tempat dimana aku terduduk dalam jurang. Kutengadahkan wajah sayuku, mendapati sebuah pohon rindang melambai ke arahku, memayungiku dari terik mentari. Aku seperti mendapati sebuah  bayang nyata hutan itu, meskipun pohon itu tidak serindang pohon – pohon yang ada di tengah hutan sana, dan juga tidak sekokoh pohon yang dulu menjatuhkanku. Kuulurkan sulurku, membiarkan aku dan batang pohon itu berlilitan, hingga aku bisa merasakan nuansa hutan yang sesungguhnya. Hingga akhirnya di tengah perjalananku berbelit dengan batang pohon itu, di antara cabang – cabang itu, aku berpapasan dengan sulur – sulur lain yang lebih dulu melilitnya dan bahkan yang baru saja mulai melilitnya. Aku dan mereka saling mencari tempat untuk melilit. 

Ah…. Tuhan….Begitu sulit jalan ini kutempuh. Aku tak mungkin berebut dengan mereka. Aku tak mungkin serakah. Namun aku tak mungkin mampu berbagi tempat, jika hanya dengan sejengkal ruas pun aku akan menggantung di udara tanpa ada yang menyangga. Tuhanku…. Aku terlanjur melilit di sini, apa mungkin aku berbalik arah untuk melepas lilitanku?? Tuhanku, maafkan aku… Aku yang lengah… Aku yang telah bodoh, hanya karena kecintaanku akan sebuah impian untuk merasakan hutan itu, aku pertaruhkan semuanya… 

Allah, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan Engkau selalu menyayangiku.. Namun aku telah berdosa besar. Aku telah salah jalan. Untuk menggapai cinta-Mu melalui hutan itu, aku menyemai cintaku untuk membelit pohon ini yang nyatanya mempunyai banyak cabang bersulur yang membuatku tak bisa bergerak. Allah, maafkan aku…. Mungkin Engkau cemburu, hingga Kau tunjukan betapa banyak sulur – sulur itu melilit pohon yang kulilit. 

Maafkan aku…. Allah, jika ini adalah pohon yang tepat untukku melanjutkan langkah, ijinkan aku mencari tempat di sini untukku melilit tanpa ada sulur lain. Tapi jika bukan pohon itu tempatku, maka bantulah aku berbalik arah melepas lilitan yang terlanjur erat ini, aku tak mau menggantung di udara mobat mabit tertiup angin tanpa penyangga. Dan kepada para sulur itu, maafkan aku yang pernah serakah mencari tempat untukku membelit melanjutkan perjalananku. Maafkan keserakahanku.

Kini, bukan kepada pohon manapun aku memapankan diri. Aku ingin kembali pada kecintaan impian yang dulu. Entah bagaimana pun caranya. Telah lama aku membeku di sini.

Rinda Asy Syifa

»»  READMORE...

Minggu, 07 Oktober 2012

Aku Tak Akan Menggadaikan Cinta-Mu


Wahai Tuhanku, Allah...
Mungkin tak pernah kupahami sebelumnya
Tentang apa apa yang telah Kau ciptakan untukku
Hanya untukku, spesial untukku.

Ketika semua ini hanya tampak seperti sebuah bola salju
Yang dingin menyenangkan dan terlempar pecah di hadapku
Itu hanya permainan belaka yang tak pernah ada maksud baiknya
Aku yang memunguti bola-bola salju yang tercecer itu
Terkadang merasa beku di ujung jemarianku

Tak mungkin
Tak mungkin
Dan tak mungkin

Terus-terusan saja aku menelan kosakata TAK MUNGKIN
Bukan karena aku tak percaya bahwa Kau Maha Berkehendak
Namun, ini adalah perkara TAK MUNGKIN yang lain

TAK MUNGKIN kau ridhoi aku memunguti bola-bola salju itu
Bahkan melemparkannya kembali ke tempat asal
Hingga terjalin lelemparan yang menyenangkan
Yang seperti menimang-nimangku dalam buaian fana!

FANA! Dan FATAMORGANA!!

Allah, Kau yang sebut Tuhanku..
Tidak pantaslah aku memohon yang terlalu lebih dari ini.
Yang aku tak pernah menghitung jumlah dari semua itu
Rumus mana yang harus kugunakan, tak ada

Jika apa yang Kau beri adalah sebagai wujud CINTA-MU padaku
Etisnya aku MEMBALAS CINTAMU
Memang Kau tak mengirimkan sekuntum bunga mawar atau sepucuk surat cinta
Namun lebih dari itu
Kau mengirimkan SURAT CINTA dengan sabar
Bahkan aku mengacuhkannya!!
Surat cinta yang kau titipkan pada seorang lelaki tampan itu
Beliau yang tersemat gelar Al Amin

Sungguh, Allah...
Aku telah mengacuhkan surat cinta itu
Maaf..
Baru aku sadari, bahwa KAU MEMANG BENAR CINTA...!
CINTA-MU yang membelaiku selama ini
Hingga aku bisa merasakan banyak rasa
Malahan, apa yang kau beri sebagai wujud CINTA-MU itu
Aku jadikan alat untuk mencintai MAKHLUK CIPTAAN-MU

APAKAH KAU CEMBURU, WAHAI ALLAHKU...
Jika benar Kau cemburu,
Jalan mana yang harus aku tempuh
Untuk menukar rasa cemburu itu dengan segenggam ampunan

Entah apa yang kuyakini selama ini
Imanku yang seolah seperti gelombang tsunami yang tak menentu
Maaf jika cinta-Mu seolah tergadaikan
Tapi sungguh,
Aku ingin
AKU TAK KAN MENGGADAIKAN CINTA-MU


»»  READMORE...

Senin, 06 Agustus 2012

Menuju Rumah Panggung


Aku percaya bahwa ibuku lah yang melahirkan aku. Sama halnya aku percaya bahwa Allah telah menjadikan aku seorang manusia yang mereka sebut perempuan atau wanita atau cewek atau wadon atau wedok atau wanodya atau apa lah itu. Sama halnya juga dengan aku percaya bahwa aku diciptakan lengkap dengan dua atributku, yaitu kelebihan dan kekurangan. Sama juga demikian aku percaya bahwa Allah pasti telah tepat memilihkan jalan untukku.

Di malam yang agak mendung ini, berjalan menyendiri menyisiri setapak demi setapak perjalanan kurengkuh. Bebatuan menyambutku, namun tidak menyumbatku, hanya menggelitik di telapakan kakiku. Semut dan beberapa temannya berlarian montang manting lantaran takut terinjak olehku. Ada juga guguk dan angsa yang mendekati dan mengolokku sambil membuntuti bahkan menjajariku. Beberapa perwujudan lainnya (yang sebangsa denganku) berkelebat di sekitarku, sesekali mendahuluiku dengan berlari. Ya, berlari menggunakan sepatu mirip kepunyaan pesepak bola. Ada juga yang berjalan santai gontai tak jauh dari aku. Dan di tepian sana, ada juga yang hanya duduk sambil mengacungkan tangannya ke arahku dan berteriak berbagai macam teriakan, “mengapa tak kau kenakan sepatu seperti mereka??!”, “tak usahlah tergesa-gesa, mereka tak akan menggigitmu!!”, atau “sudahlah, untuk apa lagi? Lihat, dibelakangmu itu, mereka santai.” Bahkan ada yang berteriak “cepat!! Kau tak boleh kalah! Apalah artinya sepatu, itu sama saja!!”, dan juga “terserah kamu!! Itu perjalananmu!” dan “apaan sih kalian ini!! Biasa aja!!”

Aku percepat langkahku, hingga aku setengah berlari. Bukan karena aku takut, namun aku ingin segera bersimpuh di sebuah rumah panggung dengan semilir angin buritan yang membelai perasaanku. Namun ditengah perjalanan sesaat setelah aku terengah-rengah karena berlari, aku melihat berkas cahaya di sudut jalan sana. Semakin dekat, dan dekat. Uh, ini pun yang kualami beberapa kali di waktu yang lalu, seberkas cahaya menghampiriku. Aku tak bermaksud mengajaknya ikut serta, namun berkas itu meloncat begitu saja di atas kepalaku. Entah. Mungkin dia ingin punya teman. Ya, di atas sana, dia punya beberapa teman yang beberapa waktu yang lalu juga melakukan hal yang sama dengannya. Aku tak mengusirnya dari sana, biarkan saja.

Aku melanjutkan perjalanan, ditemani beberapa berkas cahaya yang berada di atas kepalaku, membentuk setengah lingkaran. Persis seperti mahkota boneka barbey kepunyaanku dulu. Berkasan itu menyinari jalan setapak di depanku, tidak membiarkan kakiku meraba-raba sendiri bebatuan tajam di saentoro jalan. Mereka-mereka yang melontarkan uneg-uneg tadi terdiam sejenak, melihat aku yang tak mempedulikannya dan terus mengikuti arah bias cahaya dari atasku. Sesekali aku menoleh dan tersenyum pada mereka, sekedar memberitahukan bahwa aku akan baik-baik saja, di kegelapan ini, tanpa sepatu, dan sendiri. Sunyi.
Kadang aku ingin berhenti dan duduk di tepian jalan, melepas penat yang erat, atau mungkin mencari tempat adanya angin yang menyejukan. Namun setiap kali aku berniat ingin menghentikan kepenatan itu, setitik berkas cahaya melompat di atas kepalaku. Semakin banyak titik berkas cahaya yang menyertaiku, semakin berat aku menjunjung kakiku sendiri namun semakin jelas mata ini menerawang. Mereka memang berat. Tak seperti senter yang ringan. Lebih berat dari berat badanku sendiri. Dan jika aku berhenti, sungguh-sungguh berhenti, maka satu demi satu cahaya itu perlahan akan padam. Padam, dan berakhir gelap gulita. Jangankan melihat jalan setapak itu lagi, untuk menunjuk hidungku saja mungkin akan sulit.

Akhirnya aku putuskan untuk tetap melangkah. Berirama seirama biasan cahaya yang tersorot. Lelah yang mendera tak sempat aku pensiunkan dari bangku pejabat rasaku. Aku melangkah, dan mereka yang ada di tepian itu kembali melempar berbagai teriakan (lagi). Kupendam semua keinginanku seperti mereka yang duduk santai di tepian jalan (walau bukan rumah panggung) ditemani semilirnya angin. Tenang. Aku percaya aku kelak juga akan merasakannya. Entah dimana. Entah kapan. Yang jelas itu pasti akan indah pada waktunya. Dan ibuku pasti akan tersenyum bahagia, air mata itu akan berarti keharuan atas kebahagiaan, dan bapak pasti mengelusku lembut,, saat aku bersimpuh di hadapan mereka, dan ditemani angin semilir yang membelai hatiku dengan segala kehalalannya. Dan kupersembahkan segala berkas cahaya di atas kepalaku kepada ibuku, ibuku, ibuku, dan bapakku,, dan beberapa khusus untuk angin itu. Hingga ibu percaya bahwa ibu telah dipercaya untuk melahirkan seorang anak yang penuh perjuangan, dan bapak bersyukur karena titipan Allah ini akan tangguh seperti ibunya. Dan angin itu pun akan mengerti bahwa kekuatan itu bukan terletak pada sepatu atau jaket tebal, itu terletak pada dinding-dinding hati.
»»  READMORE...

Jumat, 09 September 2011

Jalan Dakwah Tak Hanya Satu


Perlahan Syifa mengusap pipinya dengan kedua telapak tangan. Jilbab biru muda yang berjuntai Itu pun telah berubah warna mejadi biru tua karena butiran air hujan telah melukisinya. Lengan bajunya yang panjang pun sudah cukup dingin, basah. Antara air hujan dari sang langit dengan air hujan dari sepasang mata pun tak dapat dia bedakan. Langkah kaki Syifa berjalan perlahan menyusuri jalanan sepi yang tergenangi luapan air selokan depan gedung mahasiswa.

Sudah malam, memang sudah malam, adzan isya’ telah dikumandangkan sekitar satu jam yang lalu. Masjid kampus  tak terlampau sepi juga, ada bergerombolan ikhwan yang sesekali sorak sorai ketika tontonan mereka membuat geger. Gooollll..... Alhamdulillah! Teriakan mereka sampai terdengar riuh dari depan gerbang gedung ini. Syifa menyapu kelopak matanya dengan sapu tangan yang sebenarnya sudah basah. Mengibas-ibaskan tangannya di depan mata, memastikan bahwa matanya sudah tidak berkeringat lagi.

Kreeekkk. Syifa membuka gagang pintu, “kula nuwun, assalamualaykum”, uluk salam sembari melongok ke dalam. Syifa tak tau apakah salamnya dijawab atau tidak oleh mereka yang ada di dalam. Syifa langsung terduduk di sebagian tempat yang longgar. Komunitas di dalam ruangan ini tak sama dengan komunitas di mana Syifa tadi beruraikan senyum basah, maka Syifa tak kan mencampuradukkan antara keduanya. Mereka asik masing-masing. Syifa pun juga demikian.

Rintik hujan di luar sana semakin deras. Riuhnya gerombolan di masjid tadi terdengar samar, juga karena di sini pun ada segerombolan yang menonton siaran yang sama. Syifa tak terpengaruh oleh teriakan mereka, Syifa tetap diam menerawang jauh. Tangannya memeluk kakinya yang sengaja ditekuk, duduk di pojok ruang ini. Merasakan kehangatan tersendiri. Sesekali Syifa menatapi layar hape yang tergeletak di sampingnya. Diam. Diam. Diam. Syifa menanti sebuah jawaban...

Pintu kamar mandi dia paksakan untuk dikunci dari dalam. Tak mempermasalahkan betapa kotornya kamar mandi itu. Tanpa Syifa rencanakan sebelumnya, Syifa tumpahkan air dalam gayung itu seperti Syifa menumpahkan air dari kelenjar air matanya. Sejadi-jadinya Syifa melakukannya. Tak ada yang tau kan? Hanya Allah yang tau. Ada rasa mencekik di leher ketika Syifa mencoba menghentikan isak tangisnya. Syifa takut teman-temannya di luar sana mengetahuinya. Syifa terus-terusan menumpahkan air dalam gayung, byur..byur..byur.. Bunyi air itu sedikit membuat brisik, sehingga tangisannya aman tak terdengar dari luar.

Pesan masuk yang beberapa menit yang lalu mengetuk hapenya masih Syifa pandangi saja, layar hape pun sudah terbasahi oleh air mata Syifa. Syifa sebenarnya tak ingin menangis seperti saudari-saudarinya tadi. Memang tangis Syifa tak seperti mereka. Mereka terharu atas perjalanan dakwah selama setahun ini, namun Syifa justru menyesali ketidakpahamannya akan kasih sayang bapaknya. Bapak Syifa sayang sekali kepada anak keduanya itu. Seperti saat ini, sudah tiba saatnya Syifa pulang ke rumah namun Syifa belum terlihat juga di ujung jalan, bapak pasti menanyakan kabar walau sekedar lewat sms. 

Syifa bocah yang tak bisa membohongi orang tuanya. Dan jika jawaban itu dirasa menggelisahkan sang bapak, Syifa masih bisa merangkai kata supaya sang bapak merasa tenang dan tidak mengkhawatirkan Syifa. Namun tidak untuk yang satu ini, Syifa merasa menyesal sudah menjadikan hati sang bapak resah gelisah mengkhawatirkan kabar Syifa. Kasih sayang bapak sungguh besar, bapak melindungi Syifa mati-matian. Bapak rela mengeluarkan sepotong kata yang tajam, demi kebaikan Syifa. Walaupun Syifa sudah mengatakan bahwa Syifa baik-baik saja, Syifa bisa jaga diri, Syifa sudah besar, Syifa tau mana yang baik mana yang buruk, Syifa nggak akan seperti apa yang bapak khawatirkan, Syifa tetap Syifa anak bapak, Pak.. Itu yang memberontak di batin Syifa. Namun sang bapak kukuh pada prinsipnya, “sekali tidak tetap tidak, mau jadi apa kamu nanti jika tidak patuh pada orang tua! Apa kamu tega kepada orang tua yang melahirkan kamu?”. Sungguh, kasih sayang yang sangat luar biasa, sang bapak tak pernah ketinggalan kabar tentang Syifa. Syifa salut akan perlindungan yang Allah berikan melalui sang bapak.

“Jalan dakwah itu tak hanya satu,Ukht”, suara lembut itu tak asing lagi di telinga Syifa. Syifa terbangun dari mimpinya, ketika tangan dari ukhti itu mengusap lembut juntaian jilbabnya. “Siapa?”, batin Syifa dalam hati, mencoba mengingat suara tadi. Di atas karpet tebal dalam kamar kos itu Syifa masih tak beranjak juga. Di kamar itu memang tak ada kasur busa yang empuk seperti milik teman-teman Syifa, Syifa dengan senang hati mematuhi perintah dari dokternya untuk tidak tidur beralaskan kasur empuk, apa pun alasannya, hanya terkadang Syifa pun melanggarnya karena kepengen. Masih di karpet itu, matanya sesekali memancarkan seberkas harapan yang membuat bibirnya tersenyum lagi, maklum sudah beberapa hari ini Syifa seperti orang yang kebingungan. Nama ukhti itu pun belum ketemu juga di memori otaknya, tiba-tiba hapenya berdering.. Itu bukan sms atau telpon, itu hanya nada alarm yang sengaja dia setting jam tiga. Syifa bergegas mengambil hapenya dan menyalakan tombol lampu senter. Lampu ruang tengah dan sekaligus lampu sumur mati beberapa hari yang lalu dan belum laporan kepada bapak kos yang berbeda rumah itu, jadi Syifa harus memakai senter ketika keluar dari kamar pada malam hari.

Air wudhu terasa dingin sekali di kulit Syifa. Itu membuat Syifa cepat-cepat menyelesaikan wudhunya dan segera kembali ke kamar untuk sholat. Dalam tahajudnya, Syifa melaporkan semua kabarnya beberapa hari ini kepada Allah. Syifa pun tau, sebenarnya, bahwa tanpa Syifa melaporkannya pun Allah sudah tau, karena Dia Maha Mengetahui. Namun hanya dengan begitulah hati Syifa menjadi tenang dan damai. Merasakan suatu kelegaan, Syifa telah curhat, curhat kepada yang tak akan pernah berkhianat, curhat kepada yang tak kan pernah ‘ember’, ya, curhat kepada Sang Khaliq.

Beberapa minggu kemudian...
Nuansa masjid di pojok tikungan itu tak seperti beberapa bulan yang lalu. Puluhan pasang sandal berjajar rapi di depan tangga masjid. Beberapa sepeda pun menempati tempat parkir di sebelah dapur masjid. “Tepuk anak sholeh! Aku...”, suara polos anak-anak di serambi masjid itu membuat orang-orang yang berlalu-lalang pasti ingin melirik sejenak, sekedar memastikan siapa yang ramai di masjid itu. Masjid itu dekat dengan persawahan, maka tidak heran jika yang berlalu-lalang adalah para simbah-simbah petani. Sebagian dari mereka hanya tersenyum ketika melihat seorang gadis kecil yang berdiri di depan papan tulis dengan cuwilan kapur, berjinjit karena tak dapat menggapai bagian atas papan tulis. Tak ayal, gadis itu pun hanya menebar senyum pada mereka, sesekali menyapa. Seperti biasanya, seperti ketika gadis itu pulang dari perantauan dan berhenti di ujung area sawah sana kemudian berjalan menyusuri persawahan, gadis itu terbiasa menyapa mereka. Tidak heran jika mereka sudah saling akrab, meskipun namapun tak hafal.

Ya, Syifa, nama gadis lugu yang menemani anak-anak itu bermain riang. Di sini, di masjid ini, Syifa mendapat tempat yang nyaman. Syifa memang suka dengan anak-anak. Membersamai mereka bermain sambil belajar, menjadi hiburan tersendiri untuk seorang mahasiswa semester tiga itu. Syifa tak lagi mendapat “pengawasan khusus” yang sering berujung pada air mata seperti pada waktu itu ketika Syifa mengikuti salah satu kegiatan di kampus. SMS jawaban yang menjadikan Syifa menumpahkan air satu kolah di kamar mandi Gedung Mahasiswa itu sudah dihapus dari inboxnya. Syifa sudah menemukan jalan yang lebih baik. Jalan dakwah yang dimaksud oleh seorang ukhti di mimpinya itu. Jalan di mana Syifa merasa tenang dan nyaman melaluinya. Syifa berharap jalan ini akan menjadi jalannya ke depan, menjemput masa depannya, menjemput ridho Allah, menjemput kesempurnaan hidupnya, dan bahkan menjemput jodohnya.

Selepas menemani adik-adik TPA, Syifa sering bersepeda keliling desa, sekedar bermain sambil mencari kabar terkini di seputar desa. “Mbak, ditunggu lho tulisane, apik!” teriak seorang ibu muda di seberang jalan. Syifa hanya tersenyum manis sambil menjawab “enten kabar napa nggih?”. Akhir-akhir ini Syifa senang menulis berita seputar desanya. Syifa sengaja membuat web blog atas nama karang taruna yang memuat kabar-kabar seputar desanya khususnya dusun di mana Syifa tinggal. Facebook pun sudah berjalan dengan dukungan yang lumayan ramai. Awalnya Syifa hanya ingin belajar mempraktekkan apa yang Syifa pelajari di perantauan sana, namun tak dinyana ternyata tulisan Syifa mendapat respon yang baik dari para tetangga. Syifa merasa senang, walaupun usaha Syifa belum sepenuhnya bisa mengumpulkan kembali karang taruna yang berantakan beberapa tahun ini.

Wajar sana jika Syifa suka kepada anak-anak, Syifa pun mempunyai dua orang adik, satu masih berumur dua tahun dan yang lain usia kelas satu SD. Syifa, gadis kecil berparas bundar yang berbalut jilbab itu juga ingin membersamai adik-adik PAUD yang beberapa bulan ini sedikit terabaikan. Namun Syifa masih merasa kecil, Syifa tak layak mengambil tindakan sendiri. Syifa menunggu putusan dari sang pemimpin dusun.
Syifa ingin mengerti akan kedewasaan, Syifa ingin mengerti akan kebersamaan, Syifa ingin mengerti akan pengabdian, Syifa ingin mengerti akan mengasihi, semuanya. Sekarang Syifa sedang belajar mengertikan itu semua. Dan jika di perantauan sana Syifa masih belum mampu mengerti seluruhnya, maka Syifa akan mengertikannya di kampung halaman. Syifa mulai beranjak dari persembunyiannya, Syifa kecil yang dulu selalu bersembunyi di kamar, kini sedang berjalan keluar, menyapa setiap mereka yang lewat, Syifa ingin berguna bagi tanah kelahirannya. Jalan dakwah tak hanya satu. Banyak sekali. Di jalan itu pula akan ditemukan sepenggal kisah tentang kedewasaan.

»»  READMORE...

Selasa, 31 Mei 2011

Beringsut


Beringsut dari pembaringan semalam, seperti mendapati rasa sosok tubuh yang ngambang njomplang-njomplang. Tidak lupa juga akan perjalanan kemarin sore yang cukup formatif kreatif inovatif dan primitif. Hah..istilah apa lagi itu? Setelah gliyer-gliyer di kampus akhirnya pulang e kos hujan-hujanan dan bermaksud pulang ke rumah orang tua (hah?). Menebengkandiri di belakang kakakku, kukira akan aman dan nyaman untuk kepalaku yang masih nyut-nyutan. Ternyata justru diajak muter-muter mencari sesuatu sepesial untuk calon kakak iparku (lhoh?). Angin jalanan pun membuat badanku agak menggigil nggak jelas. Setelah perjalanan lumayan muter-muter itu, dengan kekuatan alakadarnya aku pastikan kepalaku masih tertancap di leher. Tiba-tiba… Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…tittttttttt..tiiiiiittttttt.. Beberapa kali kakakku hampir membahayakan orang lain (termasuk aku dan dia sendiri). Akhirnya kami berhenti di tepian sawah sebelah barat jembatan progo. “Ngapa e?”, ucapku agak konyol juga menanyakan sesuatu yang sudah jelas. Tanpa sekecap kata, kakakku menyandarkan motor lalu turun dan merebahkan tubuhnya di atas tepian kalen tepi jalan raya. Satu kata, “ngantuk”. Tiba-tiba… merem, tidur. Fyuh…aku mengela nafas agak panjang. Beranjak dari tempatku berdiri, aku ndheprok di dekatnya. Tak peduli lagi siapa yang lalu lalang di jalanan. “Ah..ra kenal kok”. Hehe. Sedetik dua detik, semenit dua menit, sejam..(oh, tidak, tidak sampai sejam). Ah, itulah cerita yang nggak jelas, mengapa harus kuteruskan untuk menulis? Hm..

Tak ingatkah aku bahwa kemarin saat kembali ke jogja pun aku mengalami kisah yang agak dramatis? Ketika aku berdiri di bis gedhe dan ada simbah-simbah terjatuh di sampingku. Lalu di pasar gamping aku kehabisan bis jalur 15, hanya ada satu bis terakhir, aku ikut dan aku diturunkan secara agak terpaksa di demak ijo. Kebingungan nggak ada ojek, padahal shalter trans jogja berkilo-kilometer (emang iya? Nggak tau juga sih). 

Dalam kebingungan itu, aku ingat sesuatu, kunci kamarku ketinggalan. Fyuh, luar biasa. Mencoba tetap bersikap tenang dan senang, agar tak mengundang hasrat calon ‘penjahat’ yang (mungkin) berseliweran. Ketika adzan maghrib sudah selesai, aku baru mendapat solusi untuk ikut bis gedhe jurusan magelang. Oke, aku cegat dia, aku ikut dia, menumpang samapi di terminal Jombor. Krik krik krik..agak bingung dalam bis, karena belum pernah tau letak terminal Jombor itu di mana, inilah aku yang nggak gaul dengan situasi jogja. Haha. “Mbak, njombor, mbak.”, kata pak kenek. 

Aku diturunkan. Sejenak menikmati dan menghayati suasana terminal yang sepi.. Hi.. What am i going to do here? Hihi. Yups, di sebelah sana ada shalter transjogja. Oke, segera berjalan cepat hampir berlari menujunya. “Panti Rapih, Mbak”, ucapku sambil menyodorkan uang. “2B”, katanya. Dalam batin aku bilang : udah tauuuuuuu. Hehe. Agak tenang ketika di dalam bis trans jogja walaupun kedinginan AC. Brrrrr… 

Yah, ini juga cerita nggak penting, mengapa harus kutulis? Hm.. Tak usah aku ceritakan bahwa aku juga berjalan kaki 15 menit sendiri di keramaian dan kesepian jalanan depan maskam UGM. (lhoh?? bukankah dengan begitu sama saja aku cerita? Hu..dasar). Alhasil aku menjebol gembok kamar, dan fyuh…. Tergeletak, dan makan, dan mengurusi tugas, dan baru ingat kalau belum mandi, dan mandi. Haha. 

Sudahlah..
Itu cerita basi. Sekarang? Sekarang? Sekarang aku bingung untuk mengutarakan isi hatiku. 

“Rinujit rujit jroning atiku, sakabehe kang dadi amanahku katon sangsaya abot nggangdhul ana pundakku. Pundakku abot, gegerku lara, mlakuku kaseret-seret. Panduluku wus krasa panas, panas, panis. Merem ora lali, melek ora kuat. Yen kok takoni kenangapa, laraku udu lara awak. Laraku udu lara ati. Laraku lara pikir. Kepara malah lara jiwa.”, jangan kira ini keadaanku sekarang, ini adalah cuplikan cerkak berjudul..em….berjudul….em……”aku wis gedhe”. Hah? 

Sungguh..judul yang konyol. Hehe..cengengesan.
Sudahlah, ini hanya pelampiasan nikmatnya suatu proses pendewasaan… 
Untuk tugas kuliahku yang belum finish 100% : Buku Ekspresi Tulis, Buku Ajar, Kamus Konotatif, Semantik, Filologi. Dan untuk tugas nonkuliah : Laporan PKM untuk besok kamis. Dan untuk tugas kampung : Proker Karang Taruna, Atribut PIK-R, Rekapan tabungan santri, Pendataan perpus masjid, dan minggu depan wartawan amatir ini beraksi pada kampanye bupati di desa. Untuk semua pegawean rumah tangga, baik di rumah maupun di kos. Untuk semuanya : BUDAYAKAN ANTRI…!

Akhir tulisan,
Syifa sedang akan beranjak dewasa, sungguh dia masih anak-anak.
31 Mei 2011 (12:27)
»»  READMORE...

Rabu, 25 Mei 2011

Aku Bukan Mesin


Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, pada rumput-rumput teki di sebawah semak belukar, pada pucuk-pucuk pinus yang menjulang, pada tepian daunt alas yang kadang menggoyangkan butir air, juga pada seekor semut di atas batu hitam itu. Aku katakan bahwa aku bukan mesin.
Tak sadar mereka memberi julukan pada semua saudara mereka, masing-masing terlihat menyenangkan. Lalu apa julukan untuk seorang kecil macam aku? Hah. Si Mesin! Apa yang ada dibenak mereka tentang aku? Si Mesin kecil ini.
Aku punya mata, dua, sama seperti mereka. Aku punya tangan, dua, sama seperti mereka. Aku punya hidung, mulut, kaki, perut, dan lain lain semua sama seperti mereka. Lalu kalau aku mereka sebut “mesin”, lalu mereka apa? Teman mesin, solar, bensin, batu bara, gas LPJ, apa lagi? Itu pun bukan!
Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, aku bukan mesin. Mereka kurang benar jika memandangku sebagai sebongkah mesin yang punya tombol-tombol untuk dipencet sesuka hati dan mengendalikannya. Seperti ketika menyalakan magiccomku, aku nyalakan lalu aku tinggal pergi lalu pas aku kembali nasinya sudah matang. Hah! Aku bukan magiccom! Juga bukan blender! Buka juga mesin cuci! Aku bukan mesin!
Andai mereka tau. Gelundungan tulang belulang yang mereka sebut “mesin” ini kadang ingin rehat dari semuanya. Ketika dia terlalu keras mempekerjakan seluruh bagian-bagiannya, nafasnya itu kadang tersengal. Siapa yang paham kalau mesin punya pernafasan, bahkan nafas itu sesak. Konyol sekali jika ada berita “mesin pun sesak nafas”. Hah…lelucon konyol.
Sebenarnya, aku adalah alien. Alien yang berasal dari planet R. Alien yang mereka pandang sebagai “mesin”. Sebenarnya ini bukan planetku, aku hanya mampir, karena mendapat dhawuh dari sespuh untuk mampir ke planet ini. Aku adalah alien! Aku adalah penyusup! Aku adalah tamu! Tamu yang menjadi mesin di rumah si tuan rumah. Lelucon apa lagi. Sama sekali hambar!
Alien kini lelah. Mesin itu kini sudah panas. Aku bukan mesin. Aku bukan mesin. Karena aku bukan mesin. 
»»  READMORE...

Kamis, 05 Mei 2011

Awal Penghujung 18


Hujan pagi ini terasa hangat menyapaku. Ketika sepasang sepatuku kudapati dalam keadaan basah di depan kamar. Kehangatan yang kurasakan, bahkan lebih hangat daripada perapian tungku di dapur. Dinginnya air di kolah tak lagi terasa dingin oleh poriku. Tetesan air dari atap sana tak terasa olehku. Aku membeku.

Mungkin airmataku lebih dingin dari semua itu. Hingga suhu abstrak yang dia ciptakan jauh dibawah suhu alam yang mengitarinya. Basahnya hatiku olehnya, lebih membekukan daripada kubangan-kubangan di tepian jalanan.

Maaf kepada aku yang sedang menikmati acara pelapukan. Mirip seperti keterangan ibu guru di SMP dulu, pelapukan terjadi karena perubahan suhu dadakan yang sangat kontras. Benar saja, pelapukan sungguh terjadi.

Hujan menyapaku, sekali lagi, hujan menyapaku. Desir suara rincikan air merasuk sumsum tulang belakangku. Mengingatkanku pada masa itu, saat aku terbaring di balik tirai kamar rumah sakit, ditemani puluhan jarum di sekujur badanku. Masih ingat betul suara pak dokter yang lemah lembut menghibur anak kecil yang meneteskan air mata ini. Masih ingat betul pamitan bapak ketika meninggalkanku keluar kamar. Masih ingat betul sambutan mamak di depan pintu penuh kasih, tetap menghibur aku yang menyerahkan foto rongsen dengan pasrah. Masih ingat betul hiburan masku dan adikku yang tak henti, membujuk aku untuk keluar kamar lantaran aku mengurung diri. Masih ingat betul. Hujan ini, sama seperti hujan pada masa itu, hujan yang menemaniku bercinta dengan jarum.

Tak terasa memang, sudah dua tahun lebih masa itu berlalu. Namun memoir tentang itu masih lekat erat di benakku. Tulisan tangan pak dokter yang tertera di amplop besar itu, “Nn Rinda, 16 thn”. Masih terlalu labil gadis seusia itu untuk menerima kenyataan, bahkan itu adalah saat menjelang ujian nasional, sungguh jika saja ada yang mau merasakan, mungkin akan paham tentang perjuangannya yang dahsyat. Vonis itu, berita datangnya adik baru, percikan api kecil dalam silsilah, berpadu menyatu menemaninya menyambut ujian nasional. Walhasil dengan keterpurukan psikis yang menyerangnya, gadis itu mampu merampungkan masa SMA nya dan melesat meninggalkan masa kepenjarahan itu.

Maaf, memang seperti ini nostalgia ketika hujan menyapa. Sapaan yang hangat. Menghiasi al kisah penghujung 18 ku. Memutar momoar masa lalu untuk instroprksi diri dan mengukur serta up grade kualitas diri. 


»»  READMORE...

Rabu, 04 Mei 2011

hati goyah karena si dia


Malam minggu, seperti yang lalu, sendirian di rumah. Kakakku ngeBand, bapak-mamak-adik2ku, semua ke rumah simbah. Dan aku jaga rumah (tentunya di rumah) sendirian. Yah, sudah agak terbiasa. Jadi aku senam jemari saja. Hm... kali ini senam bejudul “ketika hati goyah karena si dia”.

Dia..dia..dia. Mirip lagunya lelaki berkacamata dan bersuara agak empuk serak basah. Dia lagi, dia lagi. Seakan bayangan si dia ada di setiap pandangan mata kita. Ketika kita menikmati hamparan bintang-bintang di langit, bukan bayangan betapa agungnya Sang Penciptanya, namun bayangan si dia yang tampak. Ketika kita melihat pemandangan dari atas bukit bintang, mungkin (padahal aku nggak tau bukit bintang itu kayak apaan. hehe), bukan ucapan pujian untuk Sang Pencipta yang kita gumamkan, tetapi segala hal tentang si dia yang terpatri di ingatan kita. Pun ketika kita dalam perjalanan ke kampus, ketika sedang mendengarkan dosen berSesorahRia, ketika jam istirahat, ketika ngantri di warung makan, ketika on line, ketika pulang ke kosan, ketika nyuci baju, ketika nyetrika, ketika ngerjain tugas, ketika beres-beres kamar, bahkan ketika membuang sampah pun yang ada di benak khayal kita hanya dia, dia, dan tetap dia. Bahayanya lagi, jika sampai ketika kita sholat dan membaca Qur’an kita tetap memikirkannya. Bahaya!! Yang semacam ini sudah terjangkit virus hakcih stadium akhir. (Lhoh???!!.... Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian)

Kalau sudah begitu, hari-hari kita menjadi kacau hanya gara-gara fokus kita tersamarkan oleh bayangan si dia. Sungguh kacau, kacau, dan kacau. Hingga terasa hambar bin hampa, melalui hari-hari yang nggak jelas. Yang ada hanya lamunan, lamunan, dan lamunan. Entah lah, memang segala tentang si dia telah mendikte software di otak kita. Lantas kalau sudah terlanjur virusen, bagaiaman lagi? Bayangkan jika kita adalah sebuah hand phone, kita harus mereset semuanya. Atau jika kita adalah flashdisk, kita harus diformat ulang. Atau jika kita adalah laptop, kita harus diinstall ulang. Hanya saja, kita adalah seonggok daging yang diliputi selang-selang pembuluh darah, yang bergerak karena ada unsur otot dan tulang, yang bernafas. Dimana bisa kita temukan tombol reset? Pilihan format atau istal ulang? Dimana? Apa kau menanyakannya kepadaku?

Entah jenis virus trojan atau apa, aku tidak pernah berkenalan dengan koloni virus di laptopku. Dan aku beri nama virus yang membuyarkan pandangan ini adalah virus hakcih. Ya, hakcih. Kedengarannya seperti bunyi bersin tetangga, namun bukan itu maksudku. Tidak akan dipermasalahkan mengenai maksud dari penyematan nama itu, yang utama adalah bagaimana tindakan kita jika terindikasi virus tersebut. Begini, ehem..

Ketika  kita merasa sudah terjangkit virus memabukkan itu, segeralah kita cuci muka!! Mungkin Anda akan bertanya, mengapa cuci muka? Karena menurut penelitian (hanya khayalan oleh ilmuwati bernama Rinda. Haha), cuci muka atau yang biasa kita sebut ‘raup’ dapat merangsang otot wajah kita kembali fresh dan rileks segar kembali setelah lesu lelah melamun. Ya! Kukira semua orang sudah tahu akan hal itu. Hehehehe. Itu hanya cuci muka! Bagaimana kalau berwudhu saja sekalian? Tentu saja itu akan membuat semangat kita kembali seperti semula, pikiran pun akan jernih. Dengan catatan wudhunya dengan sebenar-benarnya, bukan sekedar basah saja. Ketika kita membasuh telapak tangan, bayangkan apa saja kerjaan si tangan ini yang telah mengundang virus itu (misal : sms-an, rajin sms walau jarang dibalas. Hahahahaha). Ketika kita berkumur, bayangkan ucapan apa saja yang menjadi bumbu menyubur virus itu (misal : crewet hanya untuk cari perhatian. Heheh). Ketika kita membasuh muka, bayangkan berapa jam waktu yang kita habiskan untuk melamunkannya (sampai2 tidur pun susah. Hihihi). Ketika kita membasuh tangan, bayangkan apa saja yang telah kita perbuat hanya untuk menarik perhatiannya (misal : banyak ‘pertolongan’ yang tidak ikhlas, mengharap balasan berupa perhatian. Hayooo...). Ketika kita membasuh kepala dan telinga, bayangkan berapa sering otak dan telinga kita tiba-tiba blank saat perkuliahan atau saat mengerjakan tugas hanya karena bayangan si dia berseliweran (horoooh..). Pun ketika kita membasuh kaki, bayangkan berapa ribu langkah yang telah kita lakukan hanya untuk bertemu dengannya (dibela-belain muter lewat jalan yang jauh hanya untuk berpapasan. Hohoho). Sudah selesai?? Kok? Semua organ tubuhmu kau gerakkan hanya untuk sidia?? Lalu mana bagian untuk teman, para sahabat, bahkan mana untuk orang tua kita??!! Kalau semua itu saja belum menduduki posisi atas, lalu bagaimana dengan Tuhan kita?? Bagaimana dengan Allah?? Apakah Allah masih menduduki peringkat teratas di data ‘perhatian’ kita??? (...)

Jika wudhu kita sudah sebenar-benarnya wudhu, maka lima puluh persen konsentrasi kita akan kembali pulih, bayangan sidia sedikit bergeser. Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencapai konsentrasi yang optimal?? Tentunya kita laksanakan kewajiban kita, yaitu sholat. Tentunya dengan sholat yang sebenar-benarnya sholat, tidak asal, orang jawa bilang ‘waton jengkang-jengking’. Hehehe (sepertinya aku adalah orang jawa. Hah!). Setiap gerakan sholat kita lakukan dengan sungguh-sungguh, itu akan merangsang otot menjadi rileks dan aliran darah ke otak menjadi lancar. Kenapa? Ketika kita rukuk, tulang belakang kita merenggangkan syaraf-syarafnya, dan aliran darah lancar. Ketika kita sujud, darah akan mengalir ke otak, sehingga suplai oksigen ke otak kita meningkat, hal itu akan mengembalikan konsentrasi kita. (Wuaaa...jadi sebelum memasuki ruang ujian, sebaiknya kita bersujud dulu. Heheheheee). Yah, penjabaran tentang keajaiban wudhu dan sholat kita cukupkan dulu, habis. Lain kali dilanjutkan. Sudah terlalu mbliber-mbliber, hihihii.

Kita. Ya, memang kita. (Siapa yang nggak mau ikut? Ya sudah, berarti “kita semua kecuali kamu”. Hahahaha). Itu lah kita semua kecuali kamu. Hehe. Begitu. Sebenarnya ini terinspirasi dari beberapa buku yang menjabarkan tentang percintaan. Tentang “jomblo adalah pilihan”, tentang “nikah dan pacaran”, tentang “kujemput jodohku”, tentang semuanya. Apa lagi?? Entah, aku lupa. Namun terlalu berat pembahasannya, yang menurutku “iiihhhh.....sok banget sih! Terlalu perfect..!”. Opsss...sebenarnya tidak begitu, aku saja yang lebai. Memang, aku tak akan menyangkal jika kita pernah atau bahkan sedang terjangkit virus hakcih itu. (Lhoh...?). Itu wajar, kata seorang psikolog. Itu godaan setan, kata seorang ustadz. Dan apa kataku? Itu nyata, kataku. Hehehehee. (semrawut.com).

Akhirnya aku pun kehabisan kata-kata (baru menyadari bahwa aku itu boros, boros kata). Kita harus bangkit! Wujudkan mimpi indah masa depan! (yah, ini contoh konsentrasi buyar gara-gara lapar, pembahasan sudah tidak kohesif dan koheren apa lagi komprehensif. Hahaha.. ingat mata kuliah deh jadinya).

Ketika hati goyah karena si dia. Pokoknya, tenanglah, “masa itu” akan tiba, dan akan lebih indah... Tenanglah.
»»  READMORE...

Senin, 02 Mei 2011

Aku Menemukannya


Pagi ini, udara terasa dingin menusuk tulangku. Ujung kakiku tampak pucat, dingin, namun aku masih bernafas. Sehelai jarik berpatik parang ini menyelimutiku. Entah, aku enggan beranjak dari pembaringan. Aku tau, tumpukan pekerjaan rumah masih antri, banyak. Namun mata ini masih belum mau beralih pada beberapa buku yang tertumpuk di sampingku. Tangan ini belum melepaskannya, dan membiarkan sorot mataku menjelajahinya dengan leluasa. Sesekali tangan ini mengambil jajan oleh-oleh bapak dari pulau seberang semalam (entah apa namanya, aku nggak tau). Posisiku pun terus beralih, mulai dari tiduran, tengkurep, miring, njengking, duduk, ada ada saja cara biar aku tak memasukan kode kejenuhan kepada si skoliku. Meski mata ini lelah, lantaran kacamataku rusak dan aku tidak memakainya selama liburan ini, namun belum ingin berhenti juga.

Bapak pergi kerja, ibu menemani adik ke PAUD, adikku ke sekolah, kakakku entah mandi entah ngapai di kawasan sumur sana. Dan aku? Masih di sini, ditemani tumpukan buku yang baru saja selesai kuberi pakaian semalam.

Di tengah kedinginan dan keasyikan, aku sempat menitiskan air mata (biar saja, toh di sini aku sendirian) saat mataku terperangkap pada sebuah alinea di pojok halaman sebuah majalah islami. Itu tentang sholat. Ya, tentang sebuah kewajibanku, sholat. Entah, tiba-tiba aku merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Terlalu besar, dan akibat dari perbuatanku itu telah aku rasakan. Ya, Allah telah membalasnya. Bukan di akhirat, namun di dunia. Aku telah berbuat dosa, sebut saja itu adalah dosa.

Jika balasan di dunia saja sudah kurasakan sedemikian berat dan menguras air mataku sejak tiga taun lalu, apa yang akan terjadi dengan balasan di akhirat kelak? Aku samasekali tak menyangka bahwa peristiwa tiga taun silam adalah sebuah ‘balasan’ dan juga peringatan. Mengapa selama ini aku tak menyadarinya? Kemana saja aku? Betapa ‘ndhableg’nya aku. Mengapa baru sekarang aku mengetahuinya?

Penyesalan yang hampir terlambat, kawan. Lihat, mentari masih bersinar di ujung sana, meskipun kau tetap kedinginan. Lihat, ocehan burung di luar sana masih ramai, meskipun kau sendirian. Berharaplah esok masih ada mentari, dan masih ada ocehan burung.

Ya, ini adalah secercah sinar yang kutuju beberapa watu lalu ketika aku berada di taman. (mungkin). Sejuta rasa yang aku rasakann, tentang hidupku, tentang ridho Allah yang tak henti kuharapkan. Terlalu hina diri ini untuk mengarap ridho-Nya, jika ‘peringatan’-Nya pun aku tak paham, jika bersyukur pun aku jarang.
Untuk bapak-mamak-adik2-kakak, tenanglah, aku tak akan mengeluhkannya lagi, hingga kelak aku mencium bau surga. Untuk para sahabatku, maaf jika telah merepotkan kalian dengan berbagai keluh kesahku. Untuk dokterku, maaf pak dokter, pasienmu telah kabur tanpa kabar.
Aku bersyukur, telah kutemukan obat penyembuh sakitku.


»»  READMORE...

Sabtu, 26 Februari 2011

Gethek Tanpa Sangga


Terasa sangat hambar ketika aku mencoba mencicipi beberapa garam dan gula. Tapi ketika aku beralih menyajikan sejimpit sambal pada juluran lidahku, terasa sangat beragam. Sinyal-sinyal aneka rasa yang kurasakan seperti ujung-ujung tombak yang mengujam pada uliran pohon pisang. Entah apa yang salah dengan indera perasaku, semua tak saling berkoneksi, atau kadang ada kadang tidak. Semacam gelombang hotspot internet ini yang membuatku geregetan.

Bukan apa, apa, mengapa aku menulis hal yang mungkin “nggak jelas”. Pasalnya, posisiku sedang dalam masa transisi dari seberang sungai ke seberang yang lain. Tak ayal jika segala rasa khawatir dan was was, senang, maupun sedih menyelimuti lekukan hati yang tengah sedikit enggan  melukis lagi. Melukis tentang dua gunung yang menghimpit separuh matahari dan di hiasi gumpalan awan yang menggulung teratur seperti bunga, dan ada pula sebatang jalan yang mengalir dari ujung tengah dua gundukan itu menuju arahku. Entah lah, itu terkonsep dengen jelas di memoarku, jelas sekali, dan selalu tergambar ketika aku dibebani oleg seseorang untuk mengekspresikan jiwaku dengan media selembar kertas buku gambar yang sering dengan sengaja aku bagi menjadi dua kolom. Aku seperti itu. Dulu. Bukti otentik karya-karyaku masa lalu masih ada beberapa tersimpan dalam file-file hiden di pojok monitor jiwa. Ya, memang begitu adanya.

Itu masalah sebelah sisi sana, seberang sana, melompatan ke arah sana dari sungai ini. Sedangkan arah yang berlawanan dari itu, aku tak tau dengan pasti seperti apa macam bentukan yang akan kugambar seperti aku menggambar dua gundukan tadi. Seberang yang aku tuju, baru tampak beberapa persen saja yang tersamarkan oleh embun dan kabut. Apalagi mataku yang melupakan entah dimana letak kacamataku, itu membuat aku tak mengerti seperti apa kondisi tanah seberang.

Disini, di sungai ini. Aku berdiri pada sebuah gethek yang tanpa ada yang menyangga kecuali guliran air yang mengalir dengan irama indah. Sebilah bambu kupegang erat, erat sekali, walau terkadang lugut-lugut itu menyibak pori-pori telapakan tangan kananku, hingga aku mempekerjakan tangan kiri untuk membantu pengerjaannya. Walau kekuatannya tak sama, setidaknya itu membantuku tetap seimbang di atas alat penggerak ini. Entah apa kata orang tentang kelakuanku ini. Jika saja ada yang mau melakukan penelitian berobjekkan aku, aku persilahkan. Sekedar menghitung intensitas penggunaan tangan kanan dan tangan kiriku. Lalu membuat rumus presentase atas hal itu. Hingga kelak aku mencapai seberang itu lebih dominan mempekerjakan tangan yang mana dari mereka. Boleh saja, jika mampu, bahkan aku pun tak akan melakukannya.

Di atas gethek ini, hanya berbekal garam, gula, dan sambal. Hanya sambal saja yang kurasakan aneka rasa, dan mewakili semua rasa dengan komposisi tertentu, walau tetap saja pedas mengetuainya. Ya, garam dan gula hanya pelengkap yang mengenyangkan entah kapan akan menyenangkan.



»»  READMORE...

Jumat, 25 Februari 2011

Bagaimana Aku Bersikap?


Bagaimana Aku Bersikap? Maaf, pertanyaan itu berjingkat-jingkat di seputaran memoriku yang konon katanya sudah agak di bawah rata-rata daya ingatnya. Apa?? Mengapa aku menanyakan “Bagaimana aku bersikap”? Bahkan itu sangat tidak penting sekali untuk aku jadikan sebuah tulisan di catatan kecil ini. Toh, pasti mereka akan berkata “apa sih maksud tulisanmu? Pola pikirmu sama sekali tak sama dengan pola pikir manusia pada umumnya! Berhentilah bertele-tele.”

Fyuh. Helaan nafas yang lumayan agak panjang itu terhenti secara mendadak dan kemudian berlanjut dengan hembusan yang tak beraturan ketika sepotong demi sepotong aku memunguti sesuatu yang tercecer. Yang tercecer? Ya, awalnya aku hanya sekelebat melihat sepotong terjatuh begitu saja, di hadapanku (oh, agak kesamping kanan di depanku, persis di dekat sepasang sandal yang kulepas karena basah). Ku biarkan saja potongan itu. Beberapa detik kemudian sepotong yang lain melesat membentuk garis gerak parabola dari sudut kiri itu menuju ke titik sekitar dua depa di arah barat daya sana jika aku menghadap ke barat. Tak sampai dua detik, disusul potongan lain yang melompat terjun langsung ke bawah seperti elang yang menukik tajam mengincar ikan cethul. Dan seterusnya dan seterusnya. Interval frekuensinya semakin sering dan sering, hingga tak mustahil ada kesejajaran dalam mencecerkan diri. Dihiasi dengan berbagai gaya, entah salto, guling-guling, smash, kupu-kupu, stradle, dan lain sebagainya. Itu membuat sepasang mata ini merasakan mendapati sesuatu yang lumayan semrawut lantaran mereka “blederi” tempat yang telah aku bersihkan sebelumnya. Tercecer. Begitu. Saja.

Lalu apa hubungannya dengan “bagaimana aku bersikap”??? Keterceceran potongan sesuatu dengan teoritis cara bersikapku. Oke. Memang, semua hanya teori. Hanya. Bukan, teori tidak dapat di”hanya”kan. Kadang memang kita mencap si teori itu sebagai sesuatu yang PERFECT, IDEAL, SEMPURNA. Tanpa pernah mengingat anomali air, mungkin. Hehe. Ketika kita mendapat predikat ‘gagal’ dalam berkarya dan merasa bahwa ‘aku sudah benar, hanya kenyataan di sekitarku saja yang tidak mendukung kebenaranku ini’, bahkan mengatakan ‘alaaaah...semua itu hanya teori, tidak realistis!’. Stop. Itu aku yang memikirkannya. Ketika aku menuliskannya pun sebenarnya aku memikirkan ketidakjelasan pada tulisanku ini, jemariku bebas meloncat-loncat dengan indah kesana kemari, otakku bebebas mengirimkan pesan perintah kepada mereka, mataku pun enjoy it. Kita salah, ops..maaf, aku salah. Justeru dengan adanya teori itu lah kita hidup. Why??

Hidup adalah rentetan kejadian yang terolah karena adanya masalah. Itu menurutku. Entah apa menurut para ahli di buku-buku tebal yang membuatku kenyang itu. Dalam artian hidup yang seperti itu, dapat di simpulkan bahwa hidup ada karena ada masalah. Katakan pada MASalah : “Aku ada kar’na kau pun ada, dengan cinta kau buat diriku HIDUP selamanya” (ditembangkan dengan lagunya Radja ‘). Hah??! Sssttt.. Apa sih masalah itu? Siapa sih MASalah itu? Kali ini aku akan merunut kata-kata dosenku “masalah adalah kesenjangan antara apa yang terjadi (kenyataan) dengan apa yang seharusnya terjadi (teori)”. Kesenjangan itu lah yang menjadikan kita mencari jalan keluar untuk menjembatani antara keduanya.  

Ketika manusia purba (katanya) ingin makan daging binatang, maka mereka menyulap batu menjadi kapak untuk berburu di hutan, ketika graham bell merindukan seseorang di tempat yang jauh maka dia mengaryakan seonggok mesin lumayan kecil disebitu pesawat telephone, ketika ary ginanjar keluar kelas dan berjalan di lorong sekolahan hanya untuk memikirkan tentang jati dirinya dan tuhannya maka dia pun mendalami ke’semrawutan’nya itu dan mengupayakan penjawaban yang memuaskan dan akhirnya launchinglah ESQ, ketika ...hem..ketika.. apa lah. Semua itu, maksudku benturan atau ganjalan yang janggal di pikiran kita itulah yang menjadi pecut amarasuli (eh bukan!) menjadi batu loncatan bagi kita untuk mengembangkan diri dan meraih anak tangga di atas kita, itu artinya jika kita berhasil melaluinya berarti kita hidup. Namun jika benturan-benturan itu justru membuat kita letih lemah lesu lunglai lapar luweh lama lama lebai, aku sebut itu tidak hidup.
Yah, yah, yah..

Omyangan ini tidak akan berakhir jika kubiarkan jemariku menari terus. Bahkan intinya pun belum akan jelas lugas runut terpadu, sebelum semua uneg-uneg ini aku cecerkan di layar laptopku dan diedit hingga ratusan kali. Cara berpikir yang sat set berbuntut pada kesemrawutan. Itulah suatu suasana dalam diri yang kurang tertata. Hingga kembali pada topik pertama tadi “bagaimana aku bersikap”, itu semrawut pada realitanya. Selentingan itu menurut beberapa orang adalah termasuk cabang MASalah “sikapku agak tidak baik”. Jadi menurutku pasti ada teorinya. Jadi menurutku juga itu indikator kehidupanku. Jadi menurutku juga aku mendapat amanah abstrak untuk membangun jembatan antara dua kubu, kubu teori dan realita, yang mungkin bisa membantu aku meloncat meraih anak tangga di atasku. Dan sekarang aku sedang memunguti potongan-potongan material yang tercecer tadi untuk dijadikan bahan membangun jembatan.
  

Kuningan i 23, 00:10 WIB
»»  READMORE...

Kamis, 23 Desember 2010

Untukmu, rinduku,


akhwat (2).jpgKembali bertuliskan tentang sejimpit kerinduan dalam hati, yang semakin kuat aku rasakan. Satu rindu yang teramat panjang jalan ceritanya. Dia yang dahulu adalah yang mula-mulanya membersamaiku, yang menuntun aku, yang mengajariku ini itu, yang menghiburku saat aku sedih, yang mengenalkanku pada kesejatian cinta.

Sejuknya untaian perkataannya merajalela di pori-pori hatiku. Aku merindukannya...
Indahnya senyuman itu. Aku merindukannya...
Hangat jabatan tangannya. Aku merindukannya...
Aku merindukan segala tentangnya...

Rindu yang mengucur deras, sebenarnya telah lama aku rasakan. Semenjak aku berbelok arah, sedikit mengambil sudut atas ini dan itu. Semenjak aku terpana pada sebongkah ‘emas’ yang berhasil membuatku mengalah memalingkan wajah darinya. Semenjak terpaan angin doremifasol dari sang tetua keluarga terngiang kuat di telingaku. Semenjak saudaranya sepatu terkuliti dari kakiku. Semenjak pertemuan ujung dua kain segi empat itu tak lagi membuat aku terlambat kuliah.

Sejak itu, aku terjebak dalam persimpangan yang teramat aneh, hingga aku dan dia terpaut beratus-ratus kilometer. Tertutupi oleh beteng transparan yang tebal, terlihat namun tak dapat berkomunikasi. Aku memandanginya saja. Dia masih tersenyum padaku, namun tak seperti dulu. Aku mengintipnya. Dia melambaikan tangan ke arahku, namun tak seperti dulu. Aku mencoba menyapanya. Dia berbinar menyambutku dengan ceria, walau tetap tak seperti dulu.

Meskipun tak seindah dulu, aku tetap merindukannya. Dia begitu setia, saat aku mendua dengan yang lain dan lebih memperhatikan yang lain itu, dia tetap melambai mengajakku bersamanya. Mungkin dia pun masih tetap indah seperti dulu, dan bahkan malah lebih indah, hanya saja aku terlanjur merasa bersalah karena aku telah mendua.

Kesejukan bersamanya, masih teringat jelas. Aku merindukan kesejukan itu...
Kuharap aku akan menjumpainya esok pagi. Aku akan menghirup wewangian itu lagi. Aku akan merasakan kesejukan itu lagi. Apa mungkin esok lusa setelah pertemuan itu aku tetap bersamanya? Restu pun tak kudapat, dari sang bapak, pun dari sang ibu. Namun aku percaya, jika Allah merestui, maka semua akan terjadi.
Wahai kau yang ku rindu, maafkan atas sikapku yang menduakanmu..
Untukmu, rinduku,
Al Huda

Kos Ceria , 23 Des 2010
Rindha Rindhu
»»  READMORE...

Senin, 29 November 2010

Aku Mulai Merasakannya


Yang dulu hanya aku dengar dari ceritaan mereka-mereka yang mengalaminya, mereka duluan. Kini aku percaya bahwa itu benar adanya. Membuatku semakin merasa bersalah atas kematian sahabatku. Dulu aku terlalu mengacuhkan ceritaan mereka-mereka itu, hingga aku terlalu berbaik sangka terhadap apa yang dirasakan sahabatku.

Apa aku salah ya. Mempositifkan pikiranku, bahwa sahabatku pasti akan baik-baik saja, tidak akan seperti mereka-mereka yang bercerita menakut-nakutiku. Namun nyatanya, aku mengalami apa yang mereka alami. Allah membuktikan kebenaran cerita mereka. Sahabatku meninggal, sama seperti ceritaan mereka, yang dulu aku anggap terlalu lebai, dan aku tak mau menjadi penakut.

Sesak, memang sesak sekali rasanya. Ketika terlalu lelah tubuh ini menyongkong beban. Ketika tas punggungku seperti berpuluh-puluh kali lebih berat. Ketika lenganku memaksakandiri untuk menjinjing ember itu. Ketika adikku rewel dan aku mencupcupnya dengan menggendongnya jalan-jalan keliling rumah hingga tepian sawah tetangga. Ketika ketika ketika dan ketika yang lain.
Mungkin yang aku rasakan tidak lebih buruk dari apa yang dirasakan oleh mereka-mereka dan oleh almarhumah sahabatku sendiri. Memang derajatku belum begitu parah, atau entahlah aku juga belum pernah menanyakan pada dokter berapa derajatku, apakah tergolong ringan-sedang-atau berat. Aku belum pernah tahu tentang itu. Yang aku tahu hanyalah kurva tulang punggungku yang sepertinya punya nilai seni tinggi, lengkungan yang indah memang. Dua-tiga-atau empat tahun yang lalu atau berapa (tidak tahu pastinya) aku memilikinya, dan foto rongsen itu masih kusimpan. Aku tak membelinya dengan harga yang mahal. Aku mendapatkannya secara gratis. Aku diberi. Hadiah dari Allah. Hadiah terindah, disaat aku mencecap dunia SMA. Hadiah yang akan tetap kumiliki hingga aku mati kelak.

Aku tak mau mengatakan kepada teman-teman dan sahabatku tentang ini lagi. Cukup mereka tahu sebatas skoliosis yang aku punya. Tidak usahlah dijelaskan tentang gejala sesak nafas yang mulai kurasakan ini. Biarkan aku istirahat, mengumpulkan oksigen lagi, yang kadang susah kudapati ketika aku beraktifitas. Sering kuanalogikan pada merosotnya daya tangkap otakku, lantaran suplai oksigen ke otak mungkin sudah tak sebanyak dulu waktu aku kanak-kanak. Sudahlah. Aku hanya tak mampu membayangkan, seperti apa aku kelak ketika sudah berumah tangga, mampu kah aku, bertindak layaknya ibu rumah tangga yang banyak kerjaan mengurus rumah seisinya, sebagai istri yang senantiasa setia melayani suami, sebagai ibu dari anak-anakku yang mungkin tak akan membayar baby sitter untuk mengasuh mereka, apa aku mampu, dan bahkan jika kelak aku tinggal bersanding dengan mertua dimana aku yang memegang tanggung jawab mengurus mereka. Yah, aku harus mampu.... Harus Mampu.... Sakitku tak akan mengalahkanku.. Aku akan mengalahkan penyakitku.. Walau mungkin tanpa obat ataupun operasi. Aku yakin Allah selalu ada untukku... Allah pasti menunjukan kekuasaannya. Mungkin keajaiban yang aku alami.. J
»»  READMORE...

Selasa, 09 November 2010

Ati-ati, Pengrusuh


[Selasa, 9 November 2010]
Dhek mau bengi aku melu latian klonengan. Ya mumpungane aku prei, mumpungane aku nang ngomah. Biyasane aku nang kos, mulih mung pendhak kemis apa jemuah, mengko mbalik yoja meneh dina minggu, dadi ora tau bisa melu latian. Ya iki aku mangket sepisanan.

Grimis ora nggawe aku wegah menyat. Bar ngisakan, aku langsung menyang daleme mbah Marto. Mbah Marto kuwi ya isih sedulurku, prenahe, mbah Marto kuwi maratuwane pakdheku. Aku mangkat diterke masku.

“Kula nuwun...”. “Mangga...”. Mak-dheg!! Aku langsung dadi bingung dhewe. Ana ruang kono wis akeh uwong, wis mulai nabuh, mung kedadak liren jalaran aku teka. Aku kenal. Apa maneh sing lenggah ngarep dhewe, kuwi guruku, guru basa jerman dhek biyen aku pas SMA. Walah.....

Aku ditakoni werna-werna, nggo basa jerman. Eladalaaaaahh.....aku ora ngerti apa artine. Walah, Pak Keman ki.. L

Marang guruku kuwi, aku crita ngenani kuliahku. Anane mata kuliah kerawitan, mata kuliah tembang, lan liyane...akeh. Aku ya matur yen aku nang kono mung arep melu ngrusuhi, merga aku ngerti yen kuwi lagi padha gladhi resik nggo pentas sesuk awan. Awale aku dikon melu Gerongi. Ning aku ora wani, durung tau. Njuk malah dikon ngendhang, ya padha wae, aku durung wani. Akire aku nuthuk kenong, merga sing ditugasi nuthuk kenong malah ora rawuh.Oke.

Takkira kepenak yen mung nuthuk kenong. Jebul uangel....aku bingung. Lha lagi pisan kuwi krungu gendhinge. Wis kaya gendhing nek nang wayangan kae. Ana sing nembangi barang. Gek mengko isih ana  istilah “dhawahan”, “srapag enem”, “ngelik”, apa apa apa, mbuh. Akeh banget istilah-istilah asing. Aku durung kenal. Apa maneh aku ora duwe cathethan dhewe, mula kau barengan karo mbokdhe Ceplis sing nuthuk kethuk nang sandhingku. Sethithik aku bisa. Ning mengko yen gerongane wis muni, wis ana keplok-keplok, wis mawut mawut, aku kelangan ketukan, njuk bubrah, njuk thuthuke tak glethake, tak tinggal mimik teh karo maem cemplon. Hahaha J

Wengi kuwi aku sinau akeh banget.. Sing marakke aku mawut mawut. Ana Ladrang Gonjing Miring, Ladrang Wahyu, Manyura Sewu, Witing Klapa, Asmarandana apa....ngono, liyane aku lali, kuwi kabeh sing arep nggo pentas sesuk awan, minangka nyambut tamu seka dinas sing arep mbiji desa tawangsari. Hiya, dudu desa tawangsarine, ning padukuhan Garang, padukuhanku. Dusun Garang katut lolos lomba POSDAYA tingkat nasional.

Aku ora melu urun apa-apa. Malah aku ngrusuhi anggone padha latian. Ati-ati, pengrusuh.
Hehe

Aku mung urun tenaga, ewang-ewang nang pawon, motokopi cathethan gendhing, +++ sie dokumentasi. J
Muga Sukses!!!!
»»  READMORE...

Selasa, 05 Oktober 2010

Syawalan Swalayan


[05 Oktober 2010]
Pojokan cine club memang terasa dingin oleh syarafku, entah syaraf hati maupun syaraf ragaku. Yang kemudian menjadikan aku menyeruakan kata-kata yang mungkin tak semestinya aku katakan, walau hanya dalam hati. Hening. Batinku saja. Aku tak lagi mendengar alunan lagu yang mendayu-ndayu dari meja si mamacaca, karena rasanya aku ingin sekali marah pada telingaku.  Aku tak lagi mendengarkan cengkramaan yang ngalor ngidul ngetan ngulon di belakangku. Aku tak lagi memikirkan baju apa yang aku kenakan. Batik entah model apa, yang jelas banyak yang menyamainya.

Sekarang?

Si mamacaca sedang berdoremi ria di depan sana, entah tempat apa itu, aku tidak jelas sangat akan hal itu. Dulu pernah aku berkenalan, namun sekarang seakan melupakan teman barunya ini. Teman baru yang terlupakan, sayang sekali, ada ada saja predikat untuk seorang teman baru yang terlupakan ini. Aku? Mungkin, lantas sipa lagi. Sekarang apa lagi? Pembahasan tentang : “...kula dalah panjengan sedaya minangkan titah sawantah ingkang pinurba kawasesa dening Allah Subhanahuwata’ala ingkang murbeng dumadi bla bla bla...., mungkin tak seluruhnya kupahami arti per kata-nya. Aku mendapati rentetan huruf itu dari kang guru –harusnya kutulis : kangguru—. Fyuh...entah.

Tadi sudah dipergemakan oleh seorang ukhti. Hebat sekali ukhti itu, aku ingin berguru kepadanya, mengajariku berdendang nyaring macam itu. Itu tadi, tadi juga sudah ada sekelumit sambutan dari para tetua, intinya sama saja, ya itu itu saja, tak ada jimpitan perkataan yang nggreget.

Aku sendiri termangu dalam kesibukan memainkan pola pikir orang waras yang sedang menggila –sebut : pola pikir kesemrawutan, memberi mandat kepada kelima prajuritku untuk melompat-lompat sesuai pola pikir kesemrawutan tadi. Lamalama menjadi lama, lamalama aku memutuskan suatu hal –yang sebenarnya belum pernah jadian—, aku menidurkan si LC, lantas aku membersamai kakakatin yang sedang menimba ilmu di depan sana. Ya, aku akan menimba ilmu, dari sang inspirator.

Selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya... Pembicara yang yah... bisa dikatakan dahsyat hiya, hebat hiya, keren hiya, kalem hiya, pendiam hiya, fyuhh...susah untuk digambarkan dengan kata kata. Intinya??? Maaf, tak ada istilah inti disini, ini bukan sel yang memiliki nukleous, hanya ada organela organela yang sama sekali tak jelas dimataku –walaupun sudah memakai kacamata— Tentang salamsalaman, tentang ramadhan yang menyandang gelar bulan pengupgrade iman, tentang segala sedekah – memaafkan, entah darimana beliau menghubungkan antara sedekah dengan memaafkan dan juga hubungannya dengan tema salamsalaman. Hebat sekali beliau ini. Beliau yang disebut oleh si mamacaca sebagai “raka mas”.

Setelah segala ilmu masuk dalam bebenakku, dan kemudian keluar lagi tanpa permisi, hanya meninggalkan sidik jari dan tapak kaki dalam buku catatan kecilku. Tanpa salam juga dia ngeluyur entah kemana, dan tak mau mengangkat telponku. Awalnya aku ingin mengajaknya untuk memainkan micropon, berlagak seperti sang pembicara tadi, dan menyampaikan sepenggal kata tanya yang mungkin akan menyerang balik pada diriku sendiri di depan teman-teman dan para dosen. Namun itu hanya bayanganku saja. Nyatanya tidak ada ruang untuk kami melancarkan bumerang itu. Jadi, tidak perlu untuk aku pikirkan lagi tentang hal itu, buang saja bumerang itu. Tidak akan melancarkan protes kepada si mamacaca yang tidak menggubris smsku yang menggelitik tentang pesanan ruang.

Tidak seperti dugaan awalku, adanya sepotong hiburan yang setidaknya berusaha menhibur diriku yang tak menentu suhunya ini, menghindari terjadinya pelapukan. Seperti bebatuan yang melapuk ketika perubahan suhu terlalu kontras, atau seperti gelas dingin yang disirami air mendidih dan kemudian meretakan diri. Ternyata ini adalah acara puncak dan kemudian akan disusul oleh acara topi, maksudku acara penutup. Ooohh...biasanya aku akan nyaman sekali berlama-lama disini, walau kondisinya tak sama seperti biasanya, walau memang sedang bersuhu tak menent, walau walau walau dan walau yang lain lain. Dan biasanya aku enggan sekali memakai topi, maksudku acara penutup. Tapi kali ini luar biasa.

“Aku ingin mencintaiMu, setelusnya sebenar benar aku cinta, dalam doa dalam ucapan dalam setiap langkahku. Aku ingin mendekatiMu selamanya, sehina apa pun diriku ......”. Maaf, bukan apa apa, itu penggalan lagu yang (saat ini) mengiringi jejemarianku menari nari diatas tubuh si LC. Aku suka sekali lagu itu. Apa lagi lagunya si Fika yang berjudul Doa Kalbu. Nyaman sekali mendengarnya. Tatkala juga hatiku yang sedang poyang payingan tak menentu ini mendapati setetes embun –terlalu sering berimajinasi aneh, penyakit gila nomor 571—.

Kembali pada bahasan awal. Hhmm..aku ingat, ketika tadi ada acara tambahan, mamacaca sebut itu salamsalaman. Unik memang istilahnya, salamsalaman. Ya, salamsalaman. Biar tiga gratis satu, aku tulis lagi, salamsalaman. Aku menjabattangani beberapa saudara dan saudariku yang entah aku telah berapa juta kali berdosa kepadanya, buku catatan dosaku aku titipkan pada malaikat rakib atid, aku berikan sajalah pada mereka, aku tak punya pulpen untuk mencatatnya, itu buku sepesial, tak bisa ditulisi dengan steadler, pilot, maupun snowman. Jabat tangan. !@#$%^&!@#$%^ (dianggap ada gambar jabat tangan).

“.......Adicara salajengipun inggih menika panutup. Saderengipun adicara menika kita tutup, ing mbok bilih anggenipun kula ndherekaken lampahing adicara ing siang menika kathah cicip cewet cicir kaduk cupeting nalar kiranging budi, labet kuthunging paramasastra, kula tansah mawantu wantu nyuwun lumebering sih samodra pangaksami........” kekalimatan itu masih terjiplak di memoar otakku, bekas waktu dulu itu pernah suatu kali aku berguru pada kangguru untuk memenuhi perintah atasan. Ya sekarang aku mendengarnya lagi, tapi tak kembar.

AC mati? Ya. Ooo. Baru aku sadari bahwa aku tak merasakan dinginnya belaian AC. Terlalunya aku dalam merasai dedinginan yang kadang beralih pada pepanasan dan kemudian kembali pada dedinginan lagi dan begitu seterusnya. Sepeti butuh semacam kondensator suhu yang menstabilkan suhu mesin kejiwaanku. Atau tetap pada belanjaanku siang ini di swalayan dedinginan.

Lotisan pelem, membuatku ingin pulang ke rumah orang tuaku..... Mamak..

Kamar kakakatin, 14 : 17

»»  READMORE...