Rabu, 25 Mei 2011

Aku Bukan Mesin


Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, pada rumput-rumput teki di sebawah semak belukar, pada pucuk-pucuk pinus yang menjulang, pada tepian daunt alas yang kadang menggoyangkan butir air, juga pada seekor semut di atas batu hitam itu. Aku katakan bahwa aku bukan mesin.
Tak sadar mereka memberi julukan pada semua saudara mereka, masing-masing terlihat menyenangkan. Lalu apa julukan untuk seorang kecil macam aku? Hah. Si Mesin! Apa yang ada dibenak mereka tentang aku? Si Mesin kecil ini.
Aku punya mata, dua, sama seperti mereka. Aku punya tangan, dua, sama seperti mereka. Aku punya hidung, mulut, kaki, perut, dan lain lain semua sama seperti mereka. Lalu kalau aku mereka sebut “mesin”, lalu mereka apa? Teman mesin, solar, bensin, batu bara, gas LPJ, apa lagi? Itu pun bukan!
Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, aku bukan mesin. Mereka kurang benar jika memandangku sebagai sebongkah mesin yang punya tombol-tombol untuk dipencet sesuka hati dan mengendalikannya. Seperti ketika menyalakan magiccomku, aku nyalakan lalu aku tinggal pergi lalu pas aku kembali nasinya sudah matang. Hah! Aku bukan magiccom! Juga bukan blender! Buka juga mesin cuci! Aku bukan mesin!
Andai mereka tau. Gelundungan tulang belulang yang mereka sebut “mesin” ini kadang ingin rehat dari semuanya. Ketika dia terlalu keras mempekerjakan seluruh bagian-bagiannya, nafasnya itu kadang tersengal. Siapa yang paham kalau mesin punya pernafasan, bahkan nafas itu sesak. Konyol sekali jika ada berita “mesin pun sesak nafas”. Hah…lelucon konyol.
Sebenarnya, aku adalah alien. Alien yang berasal dari planet R. Alien yang mereka pandang sebagai “mesin”. Sebenarnya ini bukan planetku, aku hanya mampir, karena mendapat dhawuh dari sespuh untuk mampir ke planet ini. Aku adalah alien! Aku adalah penyusup! Aku adalah tamu! Tamu yang menjadi mesin di rumah si tuan rumah. Lelucon apa lagi. Sama sekali hambar!
Alien kini lelah. Mesin itu kini sudah panas. Aku bukan mesin. Aku bukan mesin. Karena aku bukan mesin. 
»»  READMORE...

Kamis, 05 Mei 2011

Awal Penghujung 18


Hujan pagi ini terasa hangat menyapaku. Ketika sepasang sepatuku kudapati dalam keadaan basah di depan kamar. Kehangatan yang kurasakan, bahkan lebih hangat daripada perapian tungku di dapur. Dinginnya air di kolah tak lagi terasa dingin oleh poriku. Tetesan air dari atap sana tak terasa olehku. Aku membeku.

Mungkin airmataku lebih dingin dari semua itu. Hingga suhu abstrak yang dia ciptakan jauh dibawah suhu alam yang mengitarinya. Basahnya hatiku olehnya, lebih membekukan daripada kubangan-kubangan di tepian jalanan.

Maaf kepada aku yang sedang menikmati acara pelapukan. Mirip seperti keterangan ibu guru di SMP dulu, pelapukan terjadi karena perubahan suhu dadakan yang sangat kontras. Benar saja, pelapukan sungguh terjadi.

Hujan menyapaku, sekali lagi, hujan menyapaku. Desir suara rincikan air merasuk sumsum tulang belakangku. Mengingatkanku pada masa itu, saat aku terbaring di balik tirai kamar rumah sakit, ditemani puluhan jarum di sekujur badanku. Masih ingat betul suara pak dokter yang lemah lembut menghibur anak kecil yang meneteskan air mata ini. Masih ingat betul pamitan bapak ketika meninggalkanku keluar kamar. Masih ingat betul sambutan mamak di depan pintu penuh kasih, tetap menghibur aku yang menyerahkan foto rongsen dengan pasrah. Masih ingat betul hiburan masku dan adikku yang tak henti, membujuk aku untuk keluar kamar lantaran aku mengurung diri. Masih ingat betul. Hujan ini, sama seperti hujan pada masa itu, hujan yang menemaniku bercinta dengan jarum.

Tak terasa memang, sudah dua tahun lebih masa itu berlalu. Namun memoir tentang itu masih lekat erat di benakku. Tulisan tangan pak dokter yang tertera di amplop besar itu, “Nn Rinda, 16 thn”. Masih terlalu labil gadis seusia itu untuk menerima kenyataan, bahkan itu adalah saat menjelang ujian nasional, sungguh jika saja ada yang mau merasakan, mungkin akan paham tentang perjuangannya yang dahsyat. Vonis itu, berita datangnya adik baru, percikan api kecil dalam silsilah, berpadu menyatu menemaninya menyambut ujian nasional. Walhasil dengan keterpurukan psikis yang menyerangnya, gadis itu mampu merampungkan masa SMA nya dan melesat meninggalkan masa kepenjarahan itu.

Maaf, memang seperti ini nostalgia ketika hujan menyapa. Sapaan yang hangat. Menghiasi al kisah penghujung 18 ku. Memutar momoar masa lalu untuk instroprksi diri dan mengukur serta up grade kualitas diri. 


»»  READMORE...

Rabu, 04 Mei 2011

hati goyah karena si dia


Malam minggu, seperti yang lalu, sendirian di rumah. Kakakku ngeBand, bapak-mamak-adik2ku, semua ke rumah simbah. Dan aku jaga rumah (tentunya di rumah) sendirian. Yah, sudah agak terbiasa. Jadi aku senam jemari saja. Hm... kali ini senam bejudul “ketika hati goyah karena si dia”.

Dia..dia..dia. Mirip lagunya lelaki berkacamata dan bersuara agak empuk serak basah. Dia lagi, dia lagi. Seakan bayangan si dia ada di setiap pandangan mata kita. Ketika kita menikmati hamparan bintang-bintang di langit, bukan bayangan betapa agungnya Sang Penciptanya, namun bayangan si dia yang tampak. Ketika kita melihat pemandangan dari atas bukit bintang, mungkin (padahal aku nggak tau bukit bintang itu kayak apaan. hehe), bukan ucapan pujian untuk Sang Pencipta yang kita gumamkan, tetapi segala hal tentang si dia yang terpatri di ingatan kita. Pun ketika kita dalam perjalanan ke kampus, ketika sedang mendengarkan dosen berSesorahRia, ketika jam istirahat, ketika ngantri di warung makan, ketika on line, ketika pulang ke kosan, ketika nyuci baju, ketika nyetrika, ketika ngerjain tugas, ketika beres-beres kamar, bahkan ketika membuang sampah pun yang ada di benak khayal kita hanya dia, dia, dan tetap dia. Bahayanya lagi, jika sampai ketika kita sholat dan membaca Qur’an kita tetap memikirkannya. Bahaya!! Yang semacam ini sudah terjangkit virus hakcih stadium akhir. (Lhoh???!!.... Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian)

Kalau sudah begitu, hari-hari kita menjadi kacau hanya gara-gara fokus kita tersamarkan oleh bayangan si dia. Sungguh kacau, kacau, dan kacau. Hingga terasa hambar bin hampa, melalui hari-hari yang nggak jelas. Yang ada hanya lamunan, lamunan, dan lamunan. Entah lah, memang segala tentang si dia telah mendikte software di otak kita. Lantas kalau sudah terlanjur virusen, bagaiaman lagi? Bayangkan jika kita adalah sebuah hand phone, kita harus mereset semuanya. Atau jika kita adalah flashdisk, kita harus diformat ulang. Atau jika kita adalah laptop, kita harus diinstall ulang. Hanya saja, kita adalah seonggok daging yang diliputi selang-selang pembuluh darah, yang bergerak karena ada unsur otot dan tulang, yang bernafas. Dimana bisa kita temukan tombol reset? Pilihan format atau istal ulang? Dimana? Apa kau menanyakannya kepadaku?

Entah jenis virus trojan atau apa, aku tidak pernah berkenalan dengan koloni virus di laptopku. Dan aku beri nama virus yang membuyarkan pandangan ini adalah virus hakcih. Ya, hakcih. Kedengarannya seperti bunyi bersin tetangga, namun bukan itu maksudku. Tidak akan dipermasalahkan mengenai maksud dari penyematan nama itu, yang utama adalah bagaimana tindakan kita jika terindikasi virus tersebut. Begini, ehem..

Ketika  kita merasa sudah terjangkit virus memabukkan itu, segeralah kita cuci muka!! Mungkin Anda akan bertanya, mengapa cuci muka? Karena menurut penelitian (hanya khayalan oleh ilmuwati bernama Rinda. Haha), cuci muka atau yang biasa kita sebut ‘raup’ dapat merangsang otot wajah kita kembali fresh dan rileks segar kembali setelah lesu lelah melamun. Ya! Kukira semua orang sudah tahu akan hal itu. Hehehehe. Itu hanya cuci muka! Bagaimana kalau berwudhu saja sekalian? Tentu saja itu akan membuat semangat kita kembali seperti semula, pikiran pun akan jernih. Dengan catatan wudhunya dengan sebenar-benarnya, bukan sekedar basah saja. Ketika kita membasuh telapak tangan, bayangkan apa saja kerjaan si tangan ini yang telah mengundang virus itu (misal : sms-an, rajin sms walau jarang dibalas. Hahahahaha). Ketika kita berkumur, bayangkan ucapan apa saja yang menjadi bumbu menyubur virus itu (misal : crewet hanya untuk cari perhatian. Heheh). Ketika kita membasuh muka, bayangkan berapa jam waktu yang kita habiskan untuk melamunkannya (sampai2 tidur pun susah. Hihihi). Ketika kita membasuh tangan, bayangkan apa saja yang telah kita perbuat hanya untuk menarik perhatiannya (misal : banyak ‘pertolongan’ yang tidak ikhlas, mengharap balasan berupa perhatian. Hayooo...). Ketika kita membasuh kepala dan telinga, bayangkan berapa sering otak dan telinga kita tiba-tiba blank saat perkuliahan atau saat mengerjakan tugas hanya karena bayangan si dia berseliweran (horoooh..). Pun ketika kita membasuh kaki, bayangkan berapa ribu langkah yang telah kita lakukan hanya untuk bertemu dengannya (dibela-belain muter lewat jalan yang jauh hanya untuk berpapasan. Hohoho). Sudah selesai?? Kok? Semua organ tubuhmu kau gerakkan hanya untuk sidia?? Lalu mana bagian untuk teman, para sahabat, bahkan mana untuk orang tua kita??!! Kalau semua itu saja belum menduduki posisi atas, lalu bagaimana dengan Tuhan kita?? Bagaimana dengan Allah?? Apakah Allah masih menduduki peringkat teratas di data ‘perhatian’ kita??? (...)

Jika wudhu kita sudah sebenar-benarnya wudhu, maka lima puluh persen konsentrasi kita akan kembali pulih, bayangan sidia sedikit bergeser. Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencapai konsentrasi yang optimal?? Tentunya kita laksanakan kewajiban kita, yaitu sholat. Tentunya dengan sholat yang sebenar-benarnya sholat, tidak asal, orang jawa bilang ‘waton jengkang-jengking’. Hehehe (sepertinya aku adalah orang jawa. Hah!). Setiap gerakan sholat kita lakukan dengan sungguh-sungguh, itu akan merangsang otot menjadi rileks dan aliran darah ke otak menjadi lancar. Kenapa? Ketika kita rukuk, tulang belakang kita merenggangkan syaraf-syarafnya, dan aliran darah lancar. Ketika kita sujud, darah akan mengalir ke otak, sehingga suplai oksigen ke otak kita meningkat, hal itu akan mengembalikan konsentrasi kita. (Wuaaa...jadi sebelum memasuki ruang ujian, sebaiknya kita bersujud dulu. Heheheheee). Yah, penjabaran tentang keajaiban wudhu dan sholat kita cukupkan dulu, habis. Lain kali dilanjutkan. Sudah terlalu mbliber-mbliber, hihihii.

Kita. Ya, memang kita. (Siapa yang nggak mau ikut? Ya sudah, berarti “kita semua kecuali kamu”. Hahahaha). Itu lah kita semua kecuali kamu. Hehe. Begitu. Sebenarnya ini terinspirasi dari beberapa buku yang menjabarkan tentang percintaan. Tentang “jomblo adalah pilihan”, tentang “nikah dan pacaran”, tentang “kujemput jodohku”, tentang semuanya. Apa lagi?? Entah, aku lupa. Namun terlalu berat pembahasannya, yang menurutku “iiihhhh.....sok banget sih! Terlalu perfect..!”. Opsss...sebenarnya tidak begitu, aku saja yang lebai. Memang, aku tak akan menyangkal jika kita pernah atau bahkan sedang terjangkit virus hakcih itu. (Lhoh...?). Itu wajar, kata seorang psikolog. Itu godaan setan, kata seorang ustadz. Dan apa kataku? Itu nyata, kataku. Hehehehee. (semrawut.com).

Akhirnya aku pun kehabisan kata-kata (baru menyadari bahwa aku itu boros, boros kata). Kita harus bangkit! Wujudkan mimpi indah masa depan! (yah, ini contoh konsentrasi buyar gara-gara lapar, pembahasan sudah tidak kohesif dan koheren apa lagi komprehensif. Hahaha.. ingat mata kuliah deh jadinya).

Ketika hati goyah karena si dia. Pokoknya, tenanglah, “masa itu” akan tiba, dan akan lebih indah... Tenanglah.
»»  READMORE...

Senin, 02 Mei 2011

Aku Menemukannya


Pagi ini, udara terasa dingin menusuk tulangku. Ujung kakiku tampak pucat, dingin, namun aku masih bernafas. Sehelai jarik berpatik parang ini menyelimutiku. Entah, aku enggan beranjak dari pembaringan. Aku tau, tumpukan pekerjaan rumah masih antri, banyak. Namun mata ini masih belum mau beralih pada beberapa buku yang tertumpuk di sampingku. Tangan ini belum melepaskannya, dan membiarkan sorot mataku menjelajahinya dengan leluasa. Sesekali tangan ini mengambil jajan oleh-oleh bapak dari pulau seberang semalam (entah apa namanya, aku nggak tau). Posisiku pun terus beralih, mulai dari tiduran, tengkurep, miring, njengking, duduk, ada ada saja cara biar aku tak memasukan kode kejenuhan kepada si skoliku. Meski mata ini lelah, lantaran kacamataku rusak dan aku tidak memakainya selama liburan ini, namun belum ingin berhenti juga.

Bapak pergi kerja, ibu menemani adik ke PAUD, adikku ke sekolah, kakakku entah mandi entah ngapai di kawasan sumur sana. Dan aku? Masih di sini, ditemani tumpukan buku yang baru saja selesai kuberi pakaian semalam.

Di tengah kedinginan dan keasyikan, aku sempat menitiskan air mata (biar saja, toh di sini aku sendirian) saat mataku terperangkap pada sebuah alinea di pojok halaman sebuah majalah islami. Itu tentang sholat. Ya, tentang sebuah kewajibanku, sholat. Entah, tiba-tiba aku merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Terlalu besar, dan akibat dari perbuatanku itu telah aku rasakan. Ya, Allah telah membalasnya. Bukan di akhirat, namun di dunia. Aku telah berbuat dosa, sebut saja itu adalah dosa.

Jika balasan di dunia saja sudah kurasakan sedemikian berat dan menguras air mataku sejak tiga taun lalu, apa yang akan terjadi dengan balasan di akhirat kelak? Aku samasekali tak menyangka bahwa peristiwa tiga taun silam adalah sebuah ‘balasan’ dan juga peringatan. Mengapa selama ini aku tak menyadarinya? Kemana saja aku? Betapa ‘ndhableg’nya aku. Mengapa baru sekarang aku mengetahuinya?

Penyesalan yang hampir terlambat, kawan. Lihat, mentari masih bersinar di ujung sana, meskipun kau tetap kedinginan. Lihat, ocehan burung di luar sana masih ramai, meskipun kau sendirian. Berharaplah esok masih ada mentari, dan masih ada ocehan burung.

Ya, ini adalah secercah sinar yang kutuju beberapa watu lalu ketika aku berada di taman. (mungkin). Sejuta rasa yang aku rasakann, tentang hidupku, tentang ridho Allah yang tak henti kuharapkan. Terlalu hina diri ini untuk mengarap ridho-Nya, jika ‘peringatan’-Nya pun aku tak paham, jika bersyukur pun aku jarang.
Untuk bapak-mamak-adik2-kakak, tenanglah, aku tak akan mengeluhkannya lagi, hingga kelak aku mencium bau surga. Untuk para sahabatku, maaf jika telah merepotkan kalian dengan berbagai keluh kesahku. Untuk dokterku, maaf pak dokter, pasienmu telah kabur tanpa kabar.
Aku bersyukur, telah kutemukan obat penyembuh sakitku.


»»  READMORE...

Rabu, 20 April 2011

Durung Tiba Titiwancine



“Mbak Mar, ayo cepetan!” swarane adhiku saka jaba sinambi mlayu mlebu. Aku mrepegi playone adhiku sing lagi kelas lima SD. Yen wis ngono kuwi biasane njuk nglendhoti. Bocah siji iki pancen manja karo mbakyune, beda yen lagi karo ibune ra tau nglendhoti. Sajak bungah tenan yen lagi karo aku, nganti mau esuk wae luwih milih melu aku tinimbang melu bapak ibu menyang daleme simbah ing Salatiga. “Mangkeh, mbak Mar tak-nata buku iqra’ riyin. Nek kesusu Iva mantuk riyin,” ujarku. “Tenan, Mbak?? Aku mantuke bareng Dika karo Ratri ya, mbak!” Dhik Iva nyawang aku sumringah. Aku mung manthuk-manthuk. Bocah wadon sing nganggo jilbab kuning kuwi banjur mlayu metu nututi kanca-kancane sing wis tekan lurung. Pancen wis biasane Iva menyang-mulih saka mejid tekan ngomah bareng kanca sabarakane. Paling mengko ya mampir cakruk kulon ngomah dolanan gathengan, bekelan, apa dam-daman, apa katut Ratri bali.

Sawise aku nata sakabehane, aku banjur metu, nutup lawang serambi mejid. Pancen sengaja ora tak-kunci merga mengko isih dienggo jamaah maghriban. Lakuku tumuju pit ana latar kang dikebaki suket jalaran wis suwe ora ana kerja bakti. Nalikane aku lagi arep nggenjot  pitku, kedadak ana swara ngundang jenengku. “Dhik Mar, apa lali marang janjimu wingi?”. Swara kuwi ora asing kanggo aku. Tak-toleh saka ngendi asale swara priya mau. Jebul nang mburiku wis ngadeg jejeg Mas Gun nyawang aku sajak ngrarep-arep samubarang sing wis suwe dianti-anti.

“Apa lali marang janjimu wingi?”, Mas Gun mbaleni ukarane. “DiSMS ora mbales, ditelpon ora diangkat,” Mas Gun nyawang aku sing isih mangkring ndhuwur sedhel. Aku mudhun, nuli nuntun pit ditututi Mas Gun ana sisihku. Aku durung bisa mangsuli pitakonane priya saka sabrang kali sing sewulan kepungkur medharke pangrarepe marang aku. “Mas, kok ngertos menawi kula ten ngriki?” pitakonku. Rekane mono kanggo ngenggokke topik pembicaraan, nanging ya gandheng wong ndregil ora kalah sugih akale saka aku. “Mergane saka jroning ati sajero-jerone nyasmitakake yen kowe lagi mulang ngaji,” wangsulane eram nyawang aku. Sajatine atiku gumuyu krungu  rayuan gombal mangkono kuwi, nanging aku tetep meneng wae tanpa ekspresi, kabeh isining ati tak-pendhem jero banget. “Mau aku wis teka ngomahmu, ketemu ibumu, ora kaya sewulan kepungkur dhek aku ora panggih ibumu,” priya sing biyen dadi kanca kerjaku nang percetakan buku kuwi neruske wangsulane.

Jenggirat. Aku kaget kepati. Mas Gun ketemu ibu? Mendah kaya ngapa dukane ibu, ibu nate ngendika, “Mar, sesok Minggu Bu Warsih arep mrene nggawakke biodata priya sing arep dikenalke karo kowe. Aku percaya karo Bu Warsih, pria kuwi mesthi pantes kanggo kowe,” ngendikane ibu telung dina kepungkur isih ana ing kupingku, iki dina Setu ateges sesuk esuk Bu Warsih tindak ngomah kene. Mas Gun nuli nyekel stang pitku, merga aku kedadak mandheg. Aku isih meneng wae nalikane pitku dienggokke mandheg nangarep cakruk, kamangka omahku ana sak-wetane cakruk keletan kalen cilik.

“Mrenea, Dhik. Aku arep kandha,” Mas Gun lungguh ana sak-empere cakruk. Tanpa swara aku ngestoke kersane Mas Gun, aku lungguh rada adoh saka lungguhe Mas Gun. “Iva kok boten ten ngriki nggih, Mas,” aku nyoba nywara. “O, dhik Iva mau ncen dolanan neng kene, weruh aku teka banjur mlayu bali. Sajake Iva kesenengen takgawakke oleh-oleh gulali,” Mas Gun nyritakke. Aku mung mesem. “Ibu wau ngendika napa, mas?” pitakonku. Mas Gun gedheg-gedheg,”ora ngendika apa-apa, mung matur nuwun oleh-olehe, terus..”. Durung tutug anggone mangsuli, aku ora sranta takon, ”terus napa?”. “Ya terus aku takon kowe nandi, njuk aku pamit nggoleki kowe nang mejid,” Mas Gun njlentrehake. Aku meneng. Apa ibu ora ngerti yen priya sing tak-karepke jroning udarasaku wingi ora liya ya Mas Gun iki? Kamangka ibu ngendika yen sesuk ana priya sing nggoleki aku sakdurunge aku tepung karo Mas Wawan, ibu bakal nglarang. Ibu wis mantep karo priya pilihane Bu Warsih sinaosa durung weruh praupane.

“Dhik Maryam, sajatine nang jero atimu ki ana aku ora?” lembut swarane Mas Gun saya ngubag-ubag rasane jero dhadhaku, saya ra karuan. Aku ora wani nyawang Mas Gun, mung wani ndhingkluk nyawangi tasku sing isine kertu ngajine bocah-bocah karo amplop siji. Tanganku ngelus-elus tas nang pangkonku. Mas Gun nyedhak lungguhku. “Kandhakna sing satemene, apa sing tok-rasakke. Yen kanggoku gawe gela, aku ora bakal nesu. Yen kanggoku gawe lega, aku ya ora bakal kesusu,” Mas Gun nlesih aku.

Aku tetep ndhingkluk. Mripatku mbrambangi. Mbuh saka ngendi critane, aku isa-isane nangis nangarepe Mas Gun. Tasku nganti lujrut tak-plintir-plintir. Aku ora nyangka yen Mas Gun bakal temenan nagih jawaban tembunge sewulan kepungkur. Atiku dadi gojag-gajeg gek sida gek ora arep matur bab perkara sing taksimpen nang jero ati iki marang Mas Gun. Yen perkara iki takaturke, aku kuwatir Mas Gun bakal nelangsa atine. Nanging yen ora takaturke, aku uga bakal ora tenang. Dina iki wis tekan janji. Upama wong utang  ngono wis wancine nyaur, upama wong nyilih ngono wis wancine mbalekke, upama wong nandur ngono wis wancine ngundhuh. Pancen dina iki mujudake dina sing ora gampang kanggo aku. “Menawi kersa, nengga sewulan malih, Mas, bakal kula jawab. Kula nembe nyamaptakake ujiane murid-murid” unine SMSku nalika biyen Mas Gun nembung pengen dadi sisihanku. Nalika kuwi ibuku wis nduwe rencana ngenalke aku karo Mas Wawan.

“Mas..” aku ngudari mingsekke napasku. “Nyuwun pangapunten,” aku neruske ukaraku sinambi ngulungke amplop marang Mas Gun. “Kula pun siap menawi njenengan badhe duka, estu kula boten saged ngestokake kersane njenengan,” swaraku alon lirih karo ngulapi luh kang netes ana pipiku. Mas Gun gage mbukak amplop kuwi banjur maca isine. Mak-pleret, pasuryane Mas Gun kedadak alum tanpa swara. Saikine manungsa loro nang cakruk iki padha-padha sedhihe, gara-gara layang sing ana jero amplop kuwi, ora liya layang saka Bu Warsih sing isine pangajabe Bu Warsih aku bisa bebrayan karo sedhereke.

“Aku ora nyangka yen wiji tresna sing tak-uwur, tak-siram, tak-jaga saben dina sasuwene telung taun iki bakal pungkas ngene iki. Aku wis sabar nunggu, nyimpen sakabehane, merga aku ngerteni yen kowe ora kaya kenya-kenya liya, aku ora nempuh dalan pacaran merga kuwi wujud tresnaku, Dhik. Apa iki kekarepanmu, Dhik?” Mas Gun ngudhari isi ati kang ditaleni sasuwene telung taun sadurunge aku metu saka percetakan merga ditampa dadi guru SD nang desaku. Pancene Mas Gun wis nate nembak aku, nanging aku blaka yen aku ora gelem pacaran, aku pengen sesuk wae langsung nikah. Sanajana sajatine aku ya kesengsem marang priya sing sopan, prigel, grapyak lan sregep sholat kuwi, nanging aku tetep njaga awakku supayane sabar ora kagodha, merga ngendikane ibu kasmaran sing kepati durung tiniba titi wancine kuwi bakal mbundhetake pikir. Kuwi mono panyangkane ibu, nanging aku ya manut wae karo ngendikane ibu.

“Umurku pancen pun ngancik wayah dhawah jatukrama, kepara kanca-kanca malah pun kagungan momongan. Nanging kados pundi malih, Mas, Gusti Allah ngersakke margi sanes kangge kula lan njenengan. Ibu nepangake kula kalih Mas Wawan, sedhereke Bu Warsih tangga ler ndaleme simbah ing Salatiga. Bu Warsih niku kanca celak ibu kula wiwit alit. Kula boten saged nentang kersanipun ibu,” aku wiwit bisa crita. “Estu kula ugi gadhah menapa ingkang njenengan ....” ukaraku ora taktutuge nalika keprungu swarane Iva bengak-bengok.

“Mbak Mar, digoleki ibu,” Iva mbengok saka lurung, banjur lunga maneh karo kanca-kancane dolan. Biasane jam limanan ngene iki Iva dolan ana ngomahe Ratri cedhak mejid sisan mengko maghriban. Gage aku menyat nuntun pit. Mas Gun melu nututi aku, polate bingung kaya dene polatanku. Ana apa karo ibu.

“Assalamualaikum,” uluk salamku sinambi njranthal mlebu ngomah. “Enten napa, Bu?”, aku langsung lungguh sisihing ibu ing ruang tengah. Mas Gun ora melu mlebu, mung nunggu nang teras. Mas Gun ngrumangsani yen dheweke kuwi tamu sing ora kena melu campurtangan ngono wae. “Gunarto ngendi? Undanga mrene,” suwun ibu karo nyawang aku kebak welas asih. Aku bingung, aku kawatir yen ibu bakal ndukani Mas Gun, apa sisan karo ndukani aku. “Wis gek ndang...kon mlebu,” ngendikane ibu sajak ora sranta. Aku mlaku tumuju teras, “Mas, ken mlebet,” ujarku. Mas Gun ngerteni soroting mripatku sing sasmitane aku kawatir banget.

“Ngene, Mar, Ibu arep crita. Nalikane ibu sowan simbah mau ibu ketemu karo bulike Wawan. Kebeneran ketemu, ibu nyuwun biodatane priya kang arep dikenalke karo kowe, dadi sesuk piyambake ora usah merlokke mrene, ” ibu mandheg anggone crita, banjur mbukak lempitan kertas cilik ana ndhuwur meja. Aku karo Mas Gun mung sesawangan.  “Iki, wacanen,” pakone ibu. Aku tumuju meja, kertas cilik kuwi tak-waca. Mripatku kang mau lagi wae mari anggone mbrambangi saiki mbrambangi maneh. Rasaku campur-campur rakaruan. Aku kaget, aku bingung, aku ora percaya. “Iki fotone,” ibu ngulungke foto priya kang arep dijodhohke marang aku. Aku kepengen semaput nalika aku weruh sapa sing ana nang foto kuwi. Aku nyawang Mas Gun sing isih meneng wae nang kursi sing rada adoh. “Mas Gunarto Setiawan, Mas Wawan..”, swaraku lirih. Mas Gun rada bingung polatane, banjur nyedhak lungguh ana sisihku.

“Wis takrestoni, ndhuk, muga Gusti Allah paring dalan rancak lancar. Jebul Wawan sing dikarepke Bu Warsih kuwi ya Gunarto iki. Mau nalika Gun iki teka, ibu wis ngerti kabeh. Wawan kuwi undang-undangane nalika isih cilik, Wawan pindah omah melu wong tuwane nang Bantul mila Bu Warsih jarang ketemu. Bu Warsih uga durung taren marang Wawan perkara jejodhohan iki. Merga manut critane Bu Warsih, Wawan iki bocahe ora gampang kepencut,” ibu ngelus-elus jilbabku. Mas Gun ya Mas Wawan bungah, soroting mripate katon sumunar lembut nyorotke tresna kang wis meh wae kapungkas. Tangane reflek arep ngruket aku, nanging aku malah ngruket ibuku. Mas Gun mesem sajak isin sinambi mundhur. “Durung tiniba titi wancine, ngger,” ngendikane ibu.

Adzan maghrib wis kumandang. Aku, Ibu, lan Mas Gun menyang mejid saperlu maghriban. Dhik Iva uga menyang karo kanca-kancane. Bapak wis kawit mau ana mejid, merga bapak kalebu takmir sing ngurusi mejid. “Allahu Akbar”, swarane bapak mertandhakke sholat kawiwitan. Dongaku muga yen wis tiniba titi wancine Mas Gun uga bakal kaya bapak ing ngarep kae.

Dening : Rinda Asy Syifa, kapethik saking JAYABAYA Edisi 32 minggu II April 2011
»»  READMORE...

Minggu, 27 Maret 2011

Wulan Mei


Aku ndheprok ana ing ruang ACnan sing kebak mahasiswa. Suara keplok lan ucapan selamat wis ora tak gagas. Tangan kiwaku nyekel kertas sabendhel, tangan tengenku nyekel cek sepuluh yuta. Aku nangis tanpa suara, ora merga kesenengen oleh dhuwit semono kuwi, nanging merga aku bingung olehku arep ngecakke dhuwit kuwi mau. Angen-angenku balik nalika aku krenggosan ngepit munggah gunung.
Nalika iku Bu Tum tindak menyang pasar, Dhik Dika ora melu. Aku sing lagi entas bali saka jogja langsung dolan ana omahe Wulan, mbakyune Dhik Dika. “Mbak Wul, ana Mbak Emem”, Suarane Dhik Dika nang teras nganti krungu tekan lurung anggonku nuntun pit merga ora kuat munggah. Pancene saking cerakke, Dhik Dika wis tak anggep kaya adhiku dhewe, undhang-undhanganku Mbak Emem. Durung aku nyetandarke pit, Dhik Dika wis njaluk gendhong, narik-narik klambiku. Aku mlebu ana ing ruang tengah, nang kono Wulan teturon karo ndelok tipi. Katone aku wis suwe ora dolan, seploke aku sibuk melu organisasi nang kampus wis telung minggu ora mudik. Wulan seneng banget weruh aku teka nggendhong Dhik Dika.
Aku karo Wulan banjur ngobrol ngalor ngidul. Ora kaya biasane, Wulan katon lemes, sapisan-pisan watuk. “Sakit apa, hayo?”,pitakonku. Wulan mung ngguyu karo njawab “ora, mung watuk......”. Durung rampung anggone njawab, bocah TK sing kawit mau nang pangkonku melu urun suara,”Mbak Wulan ki ra gelem mimik obat.” Wulan mesam-mesem krungu adhine wadul karo aku. Wis tak-rayu supayane Wulan gelem mimik obat, sanajan mung obat warung. Wulan tetep ora gelem.
Mbah Marta, sing lagi nggodhog wedang, mireng anggonku ngrayu Wulan. Mbah Marta ngendika, ”Kuwi lho mbak, Wulan ki angel nek dikon maem, mulakna awake entek, njajal dimaemke”. Aku nampa sega sapiring paringane Mbah Marta. Wulan tetep wae ora gelem takdulang. Aku nganti kenteken rayuan nggo ngrayu Wulan. Akire aku malah ndulang Dhik Dika.
Seminggu itunge saka wiwitan wulan mei, aku nganakake acara syukuran ana ngomahku, mergane aku wis ngancik umur wolulas taun. Kanca-kanca sing tak-undhang mung kanca cerak, cerak ati ya cerak omah. Aku sengaja ora ngandhani Wulan, aku ora arep gawe repote Wulan.
Bubar acara maem-maem bareng kanca-kanca, aku nyiapke rong kerdus maem nggo Wulan. Sore kuwi grimis, aku ngepit, kerdus loro kuwi mau tak-delehake kranjang. Bu Tum karo Mbah Marta katon bungah weruh aku teka. Pundhakku dielus-elus karo salaman. Pancene kuwi wis dadi kebiasaan saben aku dolan mrono. “Ndhuk, grimis-grimis ngene kok ya isih gelem dolan”, ngendikane Mbah Marta. Aku mung mesem, “Nggih, Mbah, namung ajeng nyaoske niki, maem ngge Mbak Wulan.” “Lhoh...kok kerdusan, acara apa?”, Bu Tum nampani kerdus loro kuwi mau. “Wau enten syukuran ulang taun, Bu, niki jatahe Mbak Wulan”. “Ndhuk, kowe kok gemati temen karo Wulan, matur nuwun ya Nduk ya. Kae Wulan isih durung mari watuk-watukke, malah wingi sambat sesek barang.” Bu Tum ngelus-elus pundhakku maneh. “Nggih, Bu, mugi-mugi mbak Wulan enggal mantun, purun maem malih.” Ujarku. Grimis saya deres, aku langsung pamitan, ora mlebu ngomah nemoni Wulan, aku mung titip salam karo Bu Tum.
Nang dalan aku mikirke Wulan, rayuanku seminggu kepungkur jebul durung ana kasile. Aku mbatin, apa kurang pas anggonku ngrayu supayane Wulan gelem priksa nang dokter, gelem maem, gelem mimik obat. Satekane omah, aku telpon Wulan. “Wul....awul..awulan..maeme dimaem ya. Hayo, kudu gelem. Mengko nek wis maem njuk priksa nang dokter ya, watuke durung mari ta? Mimik obat aja lali. Aku nduwe sureprise lho.... Ning kowe kudu mari dhisik. Nek durung mari ya ra sida” ujarku liwat telpon. Aku karo Wulan wis kancanan enem taun, wis lumrahe yen ngobrol mesthi ana guyone.
Wengi krasa adhem, jam nang hapeku wis nggambarke jam setengah siji. Aku cekat-ceket ngrampungke karya ilmiahku. Pikiranku semangat tenan mikir Wulan, yen karya ilmiahku iki menang, dhuwite bakal taknggo tuku kursi roda nggo Wulan. Aku mesakke Wulan, saben-saben arep lunga kudu digendhong. Critane, wis kawit cilik Wulan ora bisa mlaku, nanging Wulan iku bocahe pinter, mula mbiyen sekolahe nang sekolah umum bareng karo aku. Jam loro, alhamdulillah karya ilmiahku wis dadi. Aku enggal turu.
Dina kuwi aku kudu presentasi babagan karya ilmiahku. Isuk-isuk aku wis tekan kampus. Karo nunggu giliran presentasi, aku ngalamun. Aku SMSan karo Wulan, aku ngomong karo Wulan yen wengi kuwi aku ngimpi dolanan karo dheweke. Batinku wis ngrasa ra kepenak, merga aku jarang banget ngimpi Wulan. Pikiranku wis ra karuan, aku selak pengen nukokke kursi roda nggo Wulan.
Ora let suwe, tekan giliranku maju. Aku semangat, apa sing ana nang karya ilmiahku takjelaske kanthi cetha. Bareng wis rampung, keplok rame para peserta gawe ayeme atiku.
Srengenge wis mapan ana ing sisih kulon kae. Lampu-lampu wis pada murup. Aku entas-entas memean. Hapeku muni, ana SMS. “Wulan opname, sore mau digawa nang rumah sakit. Ayo tilik.”, unine SMS saka kancaku. Aku kaget. Arep bali, nanging wis maghrib ora ana bis saka kos-kosanku tekan omah. Sawise sholat maghrib aku telpon Wulan, ora diangkat. Banjur aku telpon ibuke, Bu Tum. Bu Tum crita yen Wulan mau awan keseseken, lemes, tensine pitung puluh. Aku mung isa ngeyem-yem Bu Tum. Ndonga muga Wulan cepet mari. Aku uga pamit karo Bu Tum yen durung bisa tilik, merga aku wis nang jogja. “Bu, Wulan pun bobok napa?” takonku, pengen omong-omongan karo Wulan. “Durung, ning ora gelem dijak omongan.”
Buku abang mung takcekel, ora takwaca. Sesuk esuk ujian, nanging aku ora bisa sinau, aku isih mikir Wulan. Meneng, anteng, suwe-suwe aku keturon.
Dumadakan aku tangi, makjenggerat, krungu hapeku muni. Ana sms mlebu, saka kancaku sing uga tanggane Wulan, ngabarake yen Wulan kapundhut dening Gusti Allah. Aku ra ngandel kabar kuwi. Luhku pancen wis nglebusi kemulku, nanging durung ngandel. Hape kuwi isih takcekel, teka-teka ana telpon, ora liya saka Bu Tum. Wis ora mikir werna-werna, langsung tak-angkat. Suarane Bu Tum kamisesegan. Tangisku wis ora isa dibendhung. Ana ing kamar kos aku dhewekan nangis. Lawang isih dikunci rapet.
Aku bingung. Aku pengen bali, melu ngeterke Wulan nang makam, nanging aku esuk kuwi aku ujian. Bareng luhku wis tak-ulapi, tangisku wis mari. Aku mangkat kuliah. Soal-soal ujian wis ora kewaca, mung takjawab sakenane wae.
Bubar ujian jam sewelas. Aku langsung mlayu tekan pinggir dalan, ngadhang bis. Sajroning bis, aku mung mejeti hape. Nguyak wektu, untape layon mengko jam loro, aku isih duwe wektu telung jam. Bis mlayu kaya playone atiku nguyak wektu.
“ibuuuuu……”ujarku lirih nyawang Bu Tum jumeneng ana sapinggiring peti kang mujur ngalor ngidul. Tanpa suara sakecapa, Bu Tum ngruket aku. Luhku mili, nelesi klambine Bu Tum. Tangisku lan tangise Bu Tum gawe suasana banget sedihe. Mbah Marta dumadakan mili waspane, nyawang aku.
“Bu, mbak Wulan pun tenang. Gusti Allah mesthi maringi papan kang sae.” Suaraku seret, ngudari ruketan kuwi. Bu Tum ngulapi waspane nyawang peti kang wis arep diuntapke.
Layone mbak Wulan wis wancine diuntapke, aku ngadeg nggejejer ana mburi barisan, semono uga Bu Tum nang sisihku. Ora nyana, tangane Bu Tum sing kawit mau nggenggem tanganku selot suwe lemes. Para mudha sing padha ana jejerku dumadakan bingung, padha bingunge aku, Bu Tum semaput.
Nalikane Bu Tum dipapah ana ing kamar, aku lumaku ngetutke layone Wulan nganti tekan makam. Atiku isih terus anggone nangis, nadyan luhku kaya-kaya wis ra krasa banyu maneh. Mei kang biasane ceria, saiki ora beda karo godhogan bayem, alum. Dhuwit sepuluh yuta sing ana tasku wis ora tak gagas maneh. Ngen-ngenku tuku kursi roda nggo Wulan wis muspra. Wulan Mei.

(Dening : Rinda Asy Syifa, kapethik saking UDYANA edisi Maret 2011)

»»  READMORE...

Kamis, 10 Maret 2011

Yojawates


Dhewe ora ateges kasepen. Rungokna apa sing neng njero iki. Rame banget, nganti garuh anggonku ngrungokke, apa maneh ngrasakke, kaya swarane mesin bis sing dak-tumpaki iki. Janma manungsa pating slebar neng saindhenge Rumah Sakit Sardjito. Ana bapak tukang becak sing kewalahan nggenjot pedhal jalaran penumpange bapak-ibu-anak. Ana mbak-mbak karo mas-mas sing nganggo jubah dokter, njalari aku eling jaman semono nalikane aku mulih sekolah ngonthel mesthi liwat ngarep Rumah Sakit Wates jalaran kepengin dadi dokter utawa perawat, kuwi mau mung impen sing ora ana kasunyatane. Neng cedhak shelter Trans Jogja sisih tengenku, ana simbah-simbah mripate sing tengen ditutup perban, apa nembe wae operasi katarak, aku ora ngerti, sing dak-ngerteni ya mung simbah kakungku sing wis kapundhut dening Gusti sadurunge sempat operasi katarak. Tinimbang aku ngalamun mikirke prastawa sing wis kliwat, aku nyetel radio neng hapeku, nganggo colokan kuping (kakangku nyebut headset sing cilik kuwi colokan kuping). Wis ora perlu pindah-pindah frekuensi. Pas banget, ana lagon-lagon sing dak-senengi.
Bis mandeg jegreg. Nunggu penumpang. Aku isih asik ngrungokke radio sing colokan kupinge tak-tlesepke jilbabku, dadi ora ketok, ora ana wong weruh, weruhe ya mung aku manggut-manggut ora jelas. Kedadak mandheg anggonku manggut-manggut, aku weruh neng ngarep kono rada mendhuwur, ana jembatan penyebrangan sing durung dadi. Aku mikir meneh, kok bisa-bisane ya wong-wong kae gawe jembatan neng ndhuwur dalan gedhe ngene? Kok ora ambrol ya? Jan-jane aku ya wis ngerti nek kuwi nganggo teori, ning aku ora ngerti apa teorine. Dadi marakke ngguyu dhewe yen kelingan jaman SMP aku wis tau kepengin dadi arsitek. Ya wektu kuwi aku lagi seneng-senenge orek-orekkan nganggo petelot nggawe sketsa omah-omahan, jalaran mbiyen seneng pelajaran nggambar, dhasare gurune ya nyenengke.
Jogja Chicken, ora adoh seka jembatan kuning sing ndadekake aku kepengen nang Minangkabau jalaran ana ing sisih tengen jembatan ana omah sing kaya omah adat Minangkabau, ning ya tetep luwih apik pandapa tedja –wong Jawa je—. “Kapan ya aku mlebu nang Jogchick?”, batinku, dhasarane bocahe ndesa, durung kenal jogja chicken.
Radioku suarane pating-kresek. Sajake gelombange wis ora nyaut tekan kene, mula frekuensine dakgenti, wis ora ana lagon campursarian maneh, saiki nyetel nasyid. Dhuh Gusti paringana rahmat lan keslametan, kagem Nabi junjungan kula Muhammad... lagu kuwi nganggo limang basa, ndadekake aku sadar yen urip iku kudu ngurmati basa liyan.
Mak-grudhug, bocah-bocah sing nganggo sragam SMP lan SMA akeh sing padha numpak. Aku kaget. Jebul wis kesuwen anggonku ngalamun. Iki wis tekan.  “Mbak, mbak, aku duduk sini ya”, ana bocah sragam biru-putih njawil aku banjur lungguh ana sandhingku. Aku mung manthuk karo mesem. Aku gumun karo bocah-bocah sragam biru-putih karo klawu-putih kuwi. Ora merga klambine sing wis keciliken, ning merga guyone sing marakke aku melu ngguyu. Kaya-kaya aku kepengin mbaleni jaman sekolahku biyen, kepengin ngebis bareng kanca-kanca akeh. Ora dhewekan kaya saiki. Biyen ya mulih sekolah mung dhewekan ngonthel, merga jarang ana kancaku sing numpak pit. Ya mung seploke kuliah iki aku ngebis, malahan wis tau kesasar barang.
“Abege, anake bakule gule. Abege, aku bingung nggugu karepe...”, lagune mas-mas sing lagi ngamen. Swarane sora dak-rungokke. Neng Jl.Godean iki aku mesam-mesem krungu lagu kuwi. Lagune pancen apik. Coba nek kelompok band-ne kakangku gelem nggarap lagu kuwi, tak-acungi jempol.  “nggamping....nggamping!!” keneke bengak-bengok marakke sing lagi ngamen banjur liren.
Saka sebrang dalan kae wis katon bapak-bapak sing padha ngawe-awe. Kenek-kenek bis pancen pinter anggone golek penumpang. Aku sing lagi bingung merga ra wani nyebrang dhewe iki kedadak bungah nalikane ana kenek bis sing nyebrangke. “tindak pundi ta mbak?” ngendikane. “Wates”, ujarku. “Melu bis gedhe wae mbak”, bapak kuwi mau sajakke ngerti apa karepku, aku pancen kepengin numpak bis gedhe. Aku ora mangsuli, mung manthuk karo mesem. “Hhmm...”, aku lega oleh kursi ngarep cedhak lawang, merga mengko dadi gampang lehku arep mudhun.
Aku mung meneng wae. Pikiranku mbalik ana ing wektu kira-kira nem wulan kepungkur, nalikane aku pisanan wani ngebis dhewe. Wektu kuwi niyatku kepengin gawe sureprise nggo mamakku, aku bali dhewe, ngebis, biasane aku mbonceng masku sing kuliah nglaju. Wis semangat gawe sureprise,  jebul neng ndalan aku kesasar, njuk malah gawe bigunge wong tuwa. Dadi kejutane ora kejutan bali ngebis, ning kejutan aku kesasar.
Dhuwit limangewu tak-cepakke nggo bayar. Tak-caoske bapak-bapak kenek sing mau nyebrangke aku. Batinku, “sujakna mau sing nyebrangke aku ki kenek bis gedhe, coba nek kenek bis cilik kaya dhek wingi, mesthi mengko keneke muni-muni merga aku ora melu bise”.  
Dalanan kebak kendaraan, rame, pating-sliwer. Weruh kendaraan pating-sliwer kuwi marakke sirahku mumet gliyeng-gliyeng. Ning ya karang kursi jejerku kosong, dadi ora ana sing bisa tak-jak ngobrol, dadi aku mung dadi tukang ngalamun.
“Ndalangan...ndalangan...!!”, swara kuwi nggawe aku kaget. Jebul aku keturon. Enggal-enggal aku siap-siap mudhun, kurang luwih telung menit meneh aku tekan. “Gepura ngajeng, Pak”, aku ngadeg karo nudhing mengarep, matur karo pak kenek.
Pancen omahku dudu pinggir dalan iki. Aku kudu mlaku kira-kira telungatus meter liwat tengah sawah. Dhewe. Gliyak-gliyak tak-lakoni. Pisan-pisan ngguyu manthuk aruh-aruh nalikane ana simbah-simbah sing lagi nggarap sawah. Srengengene wis manjlung mangulon. Swara banyu kalen anteng senajan iline banter, kaya-kaya nggambarake aku sing kawit mau gaweane mung ngalamun, meneng wae nanging pikirane tekan ngendi-endi. Ora jelas, ora cetha, critane Yojawates.

(Dening : Rinda Asy Syifa, kapethik saking UDYANA edisi April 2011)
»»  READMORE...