Jumat, 24 Juni 2011

Kucing Loreng



"Dasar, pelit...!", teriak seekor semut kepada kucing loreng yang baru saja masuk gudang. Si kucing loreng hanya tersenyum sinis dan melanjutkan langkah dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa. Wajah semut memerah, sepasang matanya yang bening mulai berkaca-kaca, bibirnya ia gigit, ia menanahan tangis.

Semut hitam itu kini termangu di pojok gudang, di bawah meja tua bekas meja makan Napoleon. Di pojok lain kucing loreng sedang menata kain perca untuk dijadikan alas tidurnya. Beberapa helai benang yang berceceran di lantai membuat semut itu enggan menghapiri si kucing, toh jika ia melakukannya itu hanya akan membuat tangisnya pecah. Ruang yang remang-remang gelap menjadikan suasana terasa nyaman untuk mencucurkan tangisnya, namun ia tak melakukannya.

Memorinya kembali pada masa beberapa menit tadi, ketika pintu gudang terbuka. Pintu yang terbuat dari kayu jati tua itu berdenyit merdu, hampir membuat irama nyaring di telinga. Sorot cahaya lampu petromak menyapu salah satu sudut ruang. Beberapa potong cahaya itu terhalangi oleh sebentuk bayangan hitam, seperti sosok rahwana yang bertengger di kelir putih. Semut hitam di berlari menuju balik tumpukan kadus, kepalanya nampak timbul tenggelam mengintip kejadian di sekitar pintu tadi. "Meooooooowwng..uaaarkkk..!", terdengar jeritan dari arah bayangan hitam itu. Seonggok karung terlempar ke pojok gudang, "gubraaaaaaaaakkk!", menumbuk tumpukan kardus dimana semut itu bersembunyi. "Brukk..!", dari arah lain terdengar suara benda yang jatuh. Semut terbelalak kaget. Hampir saja tubuh mungilnya terjepit antara kardus dan tembok.

Dengan langkah yang gemetaran, semut hitam mendekati karung itu. "Meooooooownggg..," suara itu kembali terdengar, namun lebih lemah. Tiba-tiba dari mulut karung itu keluar seekor kucing loreng, tubuhnya kurus kering, matanya memancarkan tanda bahwa dia sedang lemah. "Emm...Apa kau baik-baik saja?", semut hitam mencoba membuka percakapan. "Hm...", sahut si kucing loreng, tanpa melirik sedikitpun kemudian berjalan tertatih menuju kolong meja. Semut hitam bingung, apa yang terjadi, dan mengapa kucing itu begitu acuh tak acuh.

Semut hitam teringat benda lain yang juga terjatuh tadi, dia mencoba mencari di seluruh penjuru gudang. Hanya dengan berkas cahaya dari ventilasi jendela, dia mempekerjakeraskan matanya. Sesekali dia menengok ke arah kucing tadi, dilihatnya kucing loreng itu tergolek lemas. Dia ingin menolong kucing malang itu, namun apa daya, tubuhnya yang kecil itu tak mampu berbuat apa-apa.
Bau apa ini...? Semut mencoba mencari arah sumber bau itu. Didapatinya sebungkus plastik kresek putih. "Ah, aku tau, ini bau makanan", bisiknya. "Bagaimana bisa aku membuka plastik ini?", semut hitam pun ragu. Dia pun terdiam, mengitari plastik itu. Setelah beberapa menit, "Aha..!! Aku tau!", wajah semut hitam pun sumringah. Segera dia berlari menuju balik tumpukan kardus tadi, masuk ke dalam lubang kecil di pojok tembok. Tak selang lama, berhamburanlah koloni semut hitam, sumamburat keluar, dan menyerbu plastik kresek itu.

"Aku harus mendapat potongan yang besar..!". teriak seekor semut sambil menggerogoti plastik itu. "Ah, apa apa an kamu, kita harus bagi rata...! Toh, plastik ini nampaknya besar sekali, pasti makanannya banyak!", jawab semut lainnya yang juga menggerogoti plastik. Suasana menjadi gaduh, gaduh bagi semut itu, bukan bagi kucing. Nampak kucing loreng masih tergolek tanpa suara.

"Sudah-sudah, makanan ini nanti kita bagi menjadi dua, satu bagian untuk kita, dan sebagian yang lain untuk kucing itu," semut hitam itu nampaknya bertindak sebagai pemimpin, menjelaskan niatnya menolong kucing itu.
"Ah...apa??!! Dia kan hanya tiduran, sementara kita bekerja keras, kenapa harus berbagi dengannya?", protes salah satu prajurit.
"Kasihan kucing itu, lemah sekali, baru saja dia dilempar ke gudang ini oleh manusia hitam. Sepertinya dia butuh asupan tenaga, lihat, bergerak pun nampak lemas sekali," jelas si semut hitam sembari menunjuk ke arah kolong meja dimana kucing loreng itu berada.

Mendengar penjelasan itu, semua koloni setuju untuk berbagi makanan dengan kucing malang itu. "Okelah kalau begitu, kita harus berbagi, siapa tau kita bisa bersahabat dengannya, jadi tidak kesepian di gudang gelap ini", seekor semut termuda. "Sepatu...!", sahut para koloni, hampir serentak.

Setelah berjuang menggerogoti plastik kresek putih itu, akhirnya sobeklah salah satu pojok plastik. Serentak para koloni semut hitam berbaris rapi dan satu persatu masuk ke dalam plastik. Mereka terbiasa hidup teratur, tanpa dikomando pun sudah bisa menempatkan diri. Satu per satu semut menggendong sebutir nasi keluar menuju dekat tumpukan kardus. Sedangkan untuk mengusung lauknya yang berupa potongan ikan asin dan telur itu mereka lakukan dengan cara gotong royong.

Setelah semua makanan keluar dari plastik, semut hitam yang berniat tulus tadi segera berkata, "Sekarang, saatnya makanan ini kita bagi menjadi dua". "Oke!", teriak koloni berbarengan. Sementara itu, semut hitam itu mendekati kucing loreng yang masih tergeletak di kolong meja.

"Maaf, apakah kau sudah makan?", dengan penuh rasa simpati semut itu bertanya pada kucing. "Ah..apa urusanmu?", jawab kucing ketus. Semut hitam terdiam. "Emm...em...em....aku, aku, hanya ingin menawarkan makanan, mungkin, mungkin kau butuh makan untuk mengembalikan tenagamu... ku, ku, kulihat kau, kau nampak lemah..", suara semut itu terputus-putus, dia takut jika kucing loreng itu marah.

Namun, tanpa berucap sepatah kata pun, kucing loreng bangkit, kemudian jelalatan mencari dimana makanan itu. "Itu, disana, sebagian untukmu, sebagian untuk keluargaku", ucap semut hitam, menunjuk ke arah tumpukan kardus. Dengan tertatih, kucing itu berjalan mendekati gundukan nasi, ikan asin, dan telur, yang ada di dekat tumpukan kardus. Semut hitam mengikutinya dari belakang. "Untukku?", tanya kucing. "Ya, ini.. Yang itui untuk keluargaku", jelas semut hitam.

Kucing loreng pun makan dengan lahabnya. Sementara koloni semut pun juga membagi makanan untuk makan bersama. Namun, berhubung kucing lebih cepat makannya, maka jatah makanannya pun habis duluan. Dengan mata penuh harap, kucing itu menatap para koloni yang sedang menikmati makanan mereka. "Hai semut kecil, kalian hanya makhluk kecil, apa butuh banyak makanan?", ucap kucing. Seperti terkena tombol pause, seluruh koloni semut itu berhenti mengunyah makanan, mereka saling berpandangan. Apa yang ada di pikiran mereka semua sama, "pasti kucing ini masih kelaparan" pikir mereka.

Setelah berembug, akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan jatah makanan mereka untuk kucing loreng. Dengan senang hati, kucing loreng pun menerimanya dan segera melahabnya.

"Ya, kasian dia, kalau kita masih bisa mencari makanan di bawah tanah, tapi kalau dia???", ucap salah satu semut. "Benar apa katamu", sahut semut lain. Mereka berkomentar, mengungkap simpati masing-masing. Sementara kucing loreng masih menikmati makanannya.

"Hei, apa kalian melupakan sang ratu??", teriak salah satu semut di barisan belakang. "Hah??!!", para koloni terbelalak, menyadari kesalahan mereka. Mereka lupa bahwa sang ratu sedang mengandung, dan hampir melahirkan. Ratu butuh makan, sekedar tenaga untuk melahirkan. Semut hitam langsung tanggap, segera dia menghampiri kucing loreng dan menceritakan masalah itu. "Kawan, maaf, kami lupa untuk membawakan makanan untuk ratu kami yang hampir melahirkan, maukah kau memberi kami seupa nasi untuk ratu kami?", dengan lembut semut hitam berbisik, dia pikir kucing loreng itu pasti sudah tidak temperamen lagi, toh sudah diberi banyak makanan.

"Apa??!! Kau sudah memberikannya padaku, tak bisa diambil lagi!!", ucap kucing loreng, tetap denga nada meninggi. "Ta...ta...tapi ini..ini...untuk ra...ra...ratu,", semut hitam mulai ketakutan mendengar gertakan kucing. Kucing loreng tak menjawab, tetap menikmati makanan yang tinggal beberapa bagian saja. "Sebutir saja," semut hitam bersikukuh meminta, demi ratunya.

Ketika nasi tinggal beberapa butir, para koloni menyerbunya. Namun dengan cekatan kucing loreng itu melahab semuanya. Terlambat. Para koloni itu terlambat. "Meooowng....aaarrrkkhh!", kucing loreng mengeong seperti melihat musuh. Kemudian dia berjalan menuju meja, melompat ke atasnya, kemudian melompat lagi ke ventilasi jendela yang lumayan lebar, cukup untuk mencaplok tubuhnya. Kucing loreng menoleh ke bawah, kemudian melompat keluar.

Mengingat kejadian itu, membuat semut hitam sesak dalam diamnya. Tertegun.
Tanpa kata. Semut hitam pun menangis..


Pendhapa Tedja Kusuma FBS UNY, 24 Juni 2011
»»  READMORE...

Ikhtiar Kang Daknut


Tan kena kinaya ngapa,
ujare para sepuh.
Kabeh mono wis ditakdirke,
saka tibane godhong,
nganti jugruging gunung,
apa maneh takdirku lan takdirmu
yen ta dudu dalane,
bakal sirna sakabehing pangrasa.
Tan kena kinaya ngapa,
ujare para sepuh,
amung ikhtiar kang daknut.
Yogyakarta 24 Juni 2011
»»  READMORE...

Rabu, 15 Juni 2011

Juwara Sejati


Radyan Mahardika, jeneng paringane bapak lan ibune. Jeneng kang katulis ana ing akte kelahirane, ijazah, rapot, lan sakabehe dokumen identitase. “Mas Radyan Mahardika”, wis ora gumun maneh yen akeh uwong kang salah njelukake. Nalika jeneng kuwi disebut, sing methungul ora liya ya bocah wadon cilik kang awake kuru, kulite ireng, rambute kang dawa dikucir loro kiwa tengen. Beda adoh karo panganggepe para wong kang lagi kenal pisan, Radyan Mahardika mesthi dikira bocah lanang kang gagah, pinter, tur ngalim. Ewa dene akeh kang kecelik, Radyan tetep nggunakke jeneng kuwi minangka jenenge.
Setu pahing, tanggal 13 Agustus, tibane dina pambiwaran kelulusan kelas telu SMA Janturan. Esuk-esuk njenggut Radyan wis tangi banjur tumuju sumur. “Ndhuk, mengko sing menyang sekolahanmu pakdhe Yono,” ngendikane ibune sinambi nyugokake kayu ing luweng. Pancene antarane sumur lan pawon ora adoh, ya mung ana aling-aling gedheg. Radyan ora semaur, kepara malah mlebu kamar mandhi banjur gebyar-gebyur. Ibune amung bisa ngelus dhadha, kebak welas marang anak wedoke nomer telu kuwi.
Byur…byur..byur. Radyan gebyur banyu kolah ing sakujur awake. Ora ngrasakke adhem meneh, sing ana atine luwih adhem tinimbang adheme banyu lan hawa pirang-pirang dina iki. Sinambi nelesi awak, Radyan kelingan jaman semono.
Wektu kuwi Radyan kelas telu SMP. Nalika arep mendhet kasile ujian, Pak Cahyo, bapake, kapundhut Gusti Allah merga gerah struk. Mula wektu kuwi juwara siji wis ora dadi barang kang nyenengake atine, kabeh wis katutup rasa sedhihe ditinggal sowan bapake marang Gusti Allah. Siji kang sisih dieling-eling, “Dyan, apuranen bapak ora bisa njupuk asile ujianmu. Takweling, kowe sinau sing tenan, ewangi ibumu, lan jaga adhi-adhimu”, ngendikane bapak sejam sadurunge malaikat Izroil methuk ruhe. Yen eling marang ngendikane bapake mau, Radyan nangis.
Kawit dadi bocah yatim, Radyan saben esuk menyang pasar kanggo dodolan gorengan. Ibune kang kerja ana pabrik tahu ora sepiraa gajine, mung cukup kanggo tuku beras. Kanggo mbayar sekolahe lan sekolahe adhi-adhine, Radyan nrima bakulan sadurunge menyang sekolah. Mengko ing sekolahan uga nitipake dagangane arupa gorengan ing kantin lan warung-warung cerak sekolahan. Kaya esuk iki, Radyan kudu cepak-cepak kanggo menyang pasar.
“Ndhuk, mengko yen bijimu apik, ibu arep syukuran.”, Bu Cahyo unjal ambegan. “Wis suwe seploke bapakmu sowan kae ora tau syukuran maneh”, tutuge sinambi leren anggone ngedhuk sega saka katel. Radyan kang lagi nata gorengan ana ing tampah, nuli mangsuli, “Boten sah, Bu. Artane ngge mbayar sekolah Tika - Tina mawon. Kula pun bersyukur banget gene pakdhe uga pun paring pambiyantu murih kula saged ngrampungake SMA. Syukuran kanthi pamuji marang Gusti mawon, Bu.”
“Bener kandhamu, Ndhuk. Ning ibu pengen weruh Radyan sing ceria kaya biyen”, ibune nyekeli tangane Radyan nalika Radyan menyat saka empyak pawon kuwi. “Jane kowe kuwi kenangapa, apa ibu ana salah?”
Radyan nangis ngguglu, ngekep pangkone ibune. Luhe netes nelesi jarik kawung kang wis klumus lan suwek-suwek pinggire. Ibune ngelus-elus rambute Radyan kang dikepang loro. “Ndhuk, kandhaa, ana apa.”
“Bu, nyuwun ngapunten nek mangke biji kula jeblok. Kula khawatir ndamel kuciwane ibu lan pakdhe”, Radyan mangsuli sinambi tetep ngekep pangkone ibune.
“Iya, Ndhuk. Aja pesimis, ibu ngerti kowe kuwi bocah pinter, biasane ya rengking siji. Wis, aja nangis. Mosok wis gedhe semene kok isih cengeng, isin karo adhi-adhimu kae”, ngendikane Bu Cahyo rada guyon.
Radyan ngudari kekepane, nuli mesem sinambi ngulapi luhe kang nelesi pipi.
***
“Dyan, krungu-krungu SMA-mu ana sing ra lulus lho, ngerti ora?”, guneme Lik Yati, wong wadon kang bakul iwak pitik ana sisih tengen panggonane Radyan bakul gorengan.
“Nggih napa, Lik? Pirsa saking pundi?”, wangsulane Radyan.
“Lha…lak adhi ipeku guru olah raga nang kono ta..”, Lik Yati nyemauri.
Radyan mung meneng, nggusah laler kang pisan-pisan teka marani gorengane. Pancene seploke ditinggal bapak, Radyan bisa sekolah ana SMA kuwi merga diewangi ragad Pakdhe Yono, kakange ibune. Nanging kanggo ngragadi adhi-adhine kang isih SD, Radyan kumudu mbiyantu ibune. Kang mangkono dilakoni saben dina. Mula awake kang kuru kuwi sangsaya cilik, merga kesayahen. Yen ana kelas, pelajaran, Radyan kerep keturon. Apa kang disinau ing kelas jan blas wis ora mlebu uteke. Biji 8, 9, 10, kang biyen akrab karo Radyan, saiki wis ora gelem kekancan maneh. Radyan wis ora tau juwara meneh kaya biyen. Apa maneh sewulan sadurunge ujian nasional kae ibune opname ana rumah sakit merga gejala malaria. Wektu kuwi Radyan wis ora bisa konsentrasi sinau kanggo ujian, wedi yen ibune bakal senasib karo kakang lan mbakyune kang sowan Gusti nalika cilik biyen merga lara malaria. Kabeh kuwi dadi khawatire Radyan, gek gek dheweke ora lulus lan gawe kuciwane ibu lan pakdhene.
Wanci wis saya awan, Radyan kukut-kukut.
“Arep pindah?”, pitakone Lik Yati.
“Nggih, Lik. Ajeng ten sekolahan, sinten ngertos para tiyang sepuhe siswa-siswa kersa mundhut gorengan. Hhehehe..”, wangsulane Radyan sinambi ngguyu.
“Ya wis, kana. Ngati-ati”.
“Pareng, Lik..”
***
Sekolahane Radyan pancen ora adoh saka pasar, mung keletan telung omah banjur nyebrang dalan. Satekane sekolahan, wis akeh para waline siswa kang tindak kanggo nampa asil ujiane para siswa. Radyan mandheg ana ngarep gerbang. Thingak-thinguk ngalor ngidul, kaya kaya ana sing digoleki. “Pakdhe Yono nangendi ya..?”, batine Radyan.
Radyan nuli nata dagangane ana sapinggire kantin sekolah. Pancene dina iki kantin tutup, dadi ya mung Radyan dhewe sing bakulan nang kono. Radyan ora isin nglakoni kuwi, ewa dene para guru wis pirsa seluk beluk kahanan kaluwargane Radyan. “Ah, paling pakdhe wis mlebu nang kelas”, Radyan nyoba ngayem-ayem atine bareng sawetara wektu durung weruh pakdhene.
Wetara sajam candhake, para wali murid siji baka siji metu saka kelas banjur tumuju parkiran. Weruh kuwi Radyan celingak-celinguk nggoleki pakdhene. Akehe uwong ndadekake Radyan kangelan anggone nggoleki pakdhene. Atine sangsaya kemrungsung. Gek gek pancen dheweke ora lulus, mula pakdhene ora ana ing sekolahan iki. Radyan bingung.
Kedadak saka kadohan keprungu swara njeluk Radyan, “Dyan..! Ngapa kowe nang kono?! Mrenea!”. Katon Juwita ngawe-awe. Radyan kaget.
“Ngapa?”, Radyan rada bengok.
“Didhawuhi Pak Joko!”, wangsulane Juwita ora kalah sero.
Radyan nuli mlaku nuju kantor, panggone Juwita ngawe-awe mau. Radyan khawatir, Juwita kuwi bocah paling pinter ana kelase, saben-saben tampa rapot mesthi juwara siji. “Aku iki ora tau entuk rengking meneh, ngapa aku ditimbali Pak Joko? Apa aku bener ora lulus?”, batine Radyan. Nanging rasa khawatir kuwi digusah saka atine, Radyan nguwatake ati, siap nampa apa bae kang bakal dingendikake Pak Joko.
“Ayo, cepet!”, Juwita nggeret tangane Radyan.
“Ana apa ta, Wit?”, Radyan malah mandheg lan nakokake perlune deweke ditimbali.
“Halah, wis ta, rasah takon aku, nyuwun pirsa Pak Joko wae. Ayo..”
Bareng mlebu kantor, aku kaget. Sangarepe mejane Pak Joko ana wong loro kang ora asing kanggoku. Sing lanang, pasuryane ndhingkluk, astane nutupi pasuryane, kaya-kaya lagi ngamini donga. Sing wadon, socane nyorotake pangarep-arep kang gedhe, pangarasane kebak luh, astane nyepeng amplop werna soklat lan werna putih. Radyan sangsaya bingung.
“Ibu…! Pakdhe..!”, Radyan nyeraki pakdhe lan ibune. Pak Joko amung kendel.
“Nyuwun pangapunten menawi kula boten lulus”, tembunge Radyan.
“Ora, Ndhuk, ora,” ngendikane ibune sinambi ngrangkul anak wedoke.
“Boten pripun ta, Bu? Radyan estu boten lulus?”, swarane Radyan meh mertandhakake arep nangis.
“Lenggaha mrene, ben Pak Joko sing njelaske”, ngendikane ibune.
Radyan lungguh ana antarane pakdhe lan ibune. Pak Joko nuli ngendika, “Ngene, Ndhuk, mau bapak pancen sengaja ngabari ibumu supaya rawuh mrene. Iki wigati banget. Takjaluk kowe aja kaget.” Pak Joko leren anggone ngendikan. Banjur ngulungake amplop putih.
“Iki, kasilmu, Ndhuk. Tampanana”, Pak Joko nerusake pangandikane.
“Menika menapa, Pak?”, Radyan rada bingung nalikane nampani amplop putih mau, merga ora kaya amplop soklat sing digawa Juwita.
“Kuwi cek, isine dhuwit sayuta. Hadhiah nggo kowe”, ngendikane Pak Joko.
“Estu, Pak?? Nanging hadhiah napa? Kula lak boten juwara ta, Pak?” Radyan tambah bingung.
“Pancene kowe ora juwara siji. Sing juwara siji Juwita. Nanging kowe juwara loro. Iki wujud tresnane para guru lan kancamu. Dongamu kabul, muga-muga bisaa mbantu kowe lan adhi-adhimu.”, Pak Joko ngandharake.
Radyan nyalami astane Pak Joko, bathuke ditemplekake astane Wali Kelase kuwi. Krasa anget, kaya angete tresnane para guru. “Matur nuwun, Pak”. “Iya, Ndhuk, bapak bangga nduwe murid kowe, ing kahanan kaya mangkono isih bisa berprestasi sinambi golek pangupaboga kaluwarga, nadyan dudu juwara siji nanging kowe juwara sing sejati, Ndhuk, Pak Joko ngrangkul Radyan. “Matur nuwun sanget, Pak”.
Bu Cahyo lan Pakdhe Yono sawang-sawangan, saklorone trenyuh. Radyan nuli ngrangkul saklorone mau. Luh kang netes ana pangarasahe Bu Cahyo nelesi pundhake Radyan. Pakdhe ngepuk-puk gegere Radyan, nuli ngendika,”Kowe panjen juwara sejati, Ndhuk. Cocog karo jenengmu, Radyan Mahardika, bocah sing semangat kaya semangate para pejuang nggayuh mardika.”
(Dening : Rinda Asy Syifa, kapethik saking PANJEBAR SEMANGAT edisi Juni 2011)
»»  READMORE...

Selasa, 31 Mei 2011

Beringsut


Beringsut dari pembaringan semalam, seperti mendapati rasa sosok tubuh yang ngambang njomplang-njomplang. Tidak lupa juga akan perjalanan kemarin sore yang cukup formatif kreatif inovatif dan primitif. Hah..istilah apa lagi itu? Setelah gliyer-gliyer di kampus akhirnya pulang e kos hujan-hujanan dan bermaksud pulang ke rumah orang tua (hah?). Menebengkandiri di belakang kakakku, kukira akan aman dan nyaman untuk kepalaku yang masih nyut-nyutan. Ternyata justru diajak muter-muter mencari sesuatu sepesial untuk calon kakak iparku (lhoh?). Angin jalanan pun membuat badanku agak menggigil nggak jelas. Setelah perjalanan lumayan muter-muter itu, dengan kekuatan alakadarnya aku pastikan kepalaku masih tertancap di leher. Tiba-tiba… Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…tittttttttt..tiiiiiittttttt.. Beberapa kali kakakku hampir membahayakan orang lain (termasuk aku dan dia sendiri). Akhirnya kami berhenti di tepian sawah sebelah barat jembatan progo. “Ngapa e?”, ucapku agak konyol juga menanyakan sesuatu yang sudah jelas. Tanpa sekecap kata, kakakku menyandarkan motor lalu turun dan merebahkan tubuhnya di atas tepian kalen tepi jalan raya. Satu kata, “ngantuk”. Tiba-tiba… merem, tidur. Fyuh…aku mengela nafas agak panjang. Beranjak dari tempatku berdiri, aku ndheprok di dekatnya. Tak peduli lagi siapa yang lalu lalang di jalanan. “Ah..ra kenal kok”. Hehe. Sedetik dua detik, semenit dua menit, sejam..(oh, tidak, tidak sampai sejam). Ah, itulah cerita yang nggak jelas, mengapa harus kuteruskan untuk menulis? Hm..

Tak ingatkah aku bahwa kemarin saat kembali ke jogja pun aku mengalami kisah yang agak dramatis? Ketika aku berdiri di bis gedhe dan ada simbah-simbah terjatuh di sampingku. Lalu di pasar gamping aku kehabisan bis jalur 15, hanya ada satu bis terakhir, aku ikut dan aku diturunkan secara agak terpaksa di demak ijo. Kebingungan nggak ada ojek, padahal shalter trans jogja berkilo-kilometer (emang iya? Nggak tau juga sih). 

Dalam kebingungan itu, aku ingat sesuatu, kunci kamarku ketinggalan. Fyuh, luar biasa. Mencoba tetap bersikap tenang dan senang, agar tak mengundang hasrat calon ‘penjahat’ yang (mungkin) berseliweran. Ketika adzan maghrib sudah selesai, aku baru mendapat solusi untuk ikut bis gedhe jurusan magelang. Oke, aku cegat dia, aku ikut dia, menumpang samapi di terminal Jombor. Krik krik krik..agak bingung dalam bis, karena belum pernah tau letak terminal Jombor itu di mana, inilah aku yang nggak gaul dengan situasi jogja. Haha. “Mbak, njombor, mbak.”, kata pak kenek. 

Aku diturunkan. Sejenak menikmati dan menghayati suasana terminal yang sepi.. Hi.. What am i going to do here? Hihi. Yups, di sebelah sana ada shalter transjogja. Oke, segera berjalan cepat hampir berlari menujunya. “Panti Rapih, Mbak”, ucapku sambil menyodorkan uang. “2B”, katanya. Dalam batin aku bilang : udah tauuuuuuu. Hehe. Agak tenang ketika di dalam bis trans jogja walaupun kedinginan AC. Brrrrr… 

Yah, ini juga cerita nggak penting, mengapa harus kutulis? Hm.. Tak usah aku ceritakan bahwa aku juga berjalan kaki 15 menit sendiri di keramaian dan kesepian jalanan depan maskam UGM. (lhoh?? bukankah dengan begitu sama saja aku cerita? Hu..dasar). Alhasil aku menjebol gembok kamar, dan fyuh…. Tergeletak, dan makan, dan mengurusi tugas, dan baru ingat kalau belum mandi, dan mandi. Haha. 

Sudahlah..
Itu cerita basi. Sekarang? Sekarang? Sekarang aku bingung untuk mengutarakan isi hatiku. 

“Rinujit rujit jroning atiku, sakabehe kang dadi amanahku katon sangsaya abot nggangdhul ana pundakku. Pundakku abot, gegerku lara, mlakuku kaseret-seret. Panduluku wus krasa panas, panas, panis. Merem ora lali, melek ora kuat. Yen kok takoni kenangapa, laraku udu lara awak. Laraku udu lara ati. Laraku lara pikir. Kepara malah lara jiwa.”, jangan kira ini keadaanku sekarang, ini adalah cuplikan cerkak berjudul..em….berjudul….em……”aku wis gedhe”. Hah? 

Sungguh..judul yang konyol. Hehe..cengengesan.
Sudahlah, ini hanya pelampiasan nikmatnya suatu proses pendewasaan… 
Untuk tugas kuliahku yang belum finish 100% : Buku Ekspresi Tulis, Buku Ajar, Kamus Konotatif, Semantik, Filologi. Dan untuk tugas nonkuliah : Laporan PKM untuk besok kamis. Dan untuk tugas kampung : Proker Karang Taruna, Atribut PIK-R, Rekapan tabungan santri, Pendataan perpus masjid, dan minggu depan wartawan amatir ini beraksi pada kampanye bupati di desa. Untuk semua pegawean rumah tangga, baik di rumah maupun di kos. Untuk semuanya : BUDAYAKAN ANTRI…!

Akhir tulisan,
Syifa sedang akan beranjak dewasa, sungguh dia masih anak-anak.
31 Mei 2011 (12:27)
»»  READMORE...

Rabu, 25 Mei 2011

Aku Bukan Mesin


Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, pada rumput-rumput teki di sebawah semak belukar, pada pucuk-pucuk pinus yang menjulang, pada tepian daunt alas yang kadang menggoyangkan butir air, juga pada seekor semut di atas batu hitam itu. Aku katakan bahwa aku bukan mesin.
Tak sadar mereka memberi julukan pada semua saudara mereka, masing-masing terlihat menyenangkan. Lalu apa julukan untuk seorang kecil macam aku? Hah. Si Mesin! Apa yang ada dibenak mereka tentang aku? Si Mesin kecil ini.
Aku punya mata, dua, sama seperti mereka. Aku punya tangan, dua, sama seperti mereka. Aku punya hidung, mulut, kaki, perut, dan lain lain semua sama seperti mereka. Lalu kalau aku mereka sebut “mesin”, lalu mereka apa? Teman mesin, solar, bensin, batu bara, gas LPJ, apa lagi? Itu pun bukan!
Aku bukan mesin. Sekali lagi aku katakan, aku bukan mesin. Mereka kurang benar jika memandangku sebagai sebongkah mesin yang punya tombol-tombol untuk dipencet sesuka hati dan mengendalikannya. Seperti ketika menyalakan magiccomku, aku nyalakan lalu aku tinggal pergi lalu pas aku kembali nasinya sudah matang. Hah! Aku bukan magiccom! Juga bukan blender! Buka juga mesin cuci! Aku bukan mesin!
Andai mereka tau. Gelundungan tulang belulang yang mereka sebut “mesin” ini kadang ingin rehat dari semuanya. Ketika dia terlalu keras mempekerjakan seluruh bagian-bagiannya, nafasnya itu kadang tersengal. Siapa yang paham kalau mesin punya pernafasan, bahkan nafas itu sesak. Konyol sekali jika ada berita “mesin pun sesak nafas”. Hah…lelucon konyol.
Sebenarnya, aku adalah alien. Alien yang berasal dari planet R. Alien yang mereka pandang sebagai “mesin”. Sebenarnya ini bukan planetku, aku hanya mampir, karena mendapat dhawuh dari sespuh untuk mampir ke planet ini. Aku adalah alien! Aku adalah penyusup! Aku adalah tamu! Tamu yang menjadi mesin di rumah si tuan rumah. Lelucon apa lagi. Sama sekali hambar!
Alien kini lelah. Mesin itu kini sudah panas. Aku bukan mesin. Aku bukan mesin. Karena aku bukan mesin. 
»»  READMORE...

Kamis, 05 Mei 2011

Awal Penghujung 18


Hujan pagi ini terasa hangat menyapaku. Ketika sepasang sepatuku kudapati dalam keadaan basah di depan kamar. Kehangatan yang kurasakan, bahkan lebih hangat daripada perapian tungku di dapur. Dinginnya air di kolah tak lagi terasa dingin oleh poriku. Tetesan air dari atap sana tak terasa olehku. Aku membeku.

Mungkin airmataku lebih dingin dari semua itu. Hingga suhu abstrak yang dia ciptakan jauh dibawah suhu alam yang mengitarinya. Basahnya hatiku olehnya, lebih membekukan daripada kubangan-kubangan di tepian jalanan.

Maaf kepada aku yang sedang menikmati acara pelapukan. Mirip seperti keterangan ibu guru di SMP dulu, pelapukan terjadi karena perubahan suhu dadakan yang sangat kontras. Benar saja, pelapukan sungguh terjadi.

Hujan menyapaku, sekali lagi, hujan menyapaku. Desir suara rincikan air merasuk sumsum tulang belakangku. Mengingatkanku pada masa itu, saat aku terbaring di balik tirai kamar rumah sakit, ditemani puluhan jarum di sekujur badanku. Masih ingat betul suara pak dokter yang lemah lembut menghibur anak kecil yang meneteskan air mata ini. Masih ingat betul pamitan bapak ketika meninggalkanku keluar kamar. Masih ingat betul sambutan mamak di depan pintu penuh kasih, tetap menghibur aku yang menyerahkan foto rongsen dengan pasrah. Masih ingat betul hiburan masku dan adikku yang tak henti, membujuk aku untuk keluar kamar lantaran aku mengurung diri. Masih ingat betul. Hujan ini, sama seperti hujan pada masa itu, hujan yang menemaniku bercinta dengan jarum.

Tak terasa memang, sudah dua tahun lebih masa itu berlalu. Namun memoir tentang itu masih lekat erat di benakku. Tulisan tangan pak dokter yang tertera di amplop besar itu, “Nn Rinda, 16 thn”. Masih terlalu labil gadis seusia itu untuk menerima kenyataan, bahkan itu adalah saat menjelang ujian nasional, sungguh jika saja ada yang mau merasakan, mungkin akan paham tentang perjuangannya yang dahsyat. Vonis itu, berita datangnya adik baru, percikan api kecil dalam silsilah, berpadu menyatu menemaninya menyambut ujian nasional. Walhasil dengan keterpurukan psikis yang menyerangnya, gadis itu mampu merampungkan masa SMA nya dan melesat meninggalkan masa kepenjarahan itu.

Maaf, memang seperti ini nostalgia ketika hujan menyapa. Sapaan yang hangat. Menghiasi al kisah penghujung 18 ku. Memutar momoar masa lalu untuk instroprksi diri dan mengukur serta up grade kualitas diri. 


»»  READMORE...

Rabu, 04 Mei 2011

hati goyah karena si dia


Malam minggu, seperti yang lalu, sendirian di rumah. Kakakku ngeBand, bapak-mamak-adik2ku, semua ke rumah simbah. Dan aku jaga rumah (tentunya di rumah) sendirian. Yah, sudah agak terbiasa. Jadi aku senam jemari saja. Hm... kali ini senam bejudul “ketika hati goyah karena si dia”.

Dia..dia..dia. Mirip lagunya lelaki berkacamata dan bersuara agak empuk serak basah. Dia lagi, dia lagi. Seakan bayangan si dia ada di setiap pandangan mata kita. Ketika kita menikmati hamparan bintang-bintang di langit, bukan bayangan betapa agungnya Sang Penciptanya, namun bayangan si dia yang tampak. Ketika kita melihat pemandangan dari atas bukit bintang, mungkin (padahal aku nggak tau bukit bintang itu kayak apaan. hehe), bukan ucapan pujian untuk Sang Pencipta yang kita gumamkan, tetapi segala hal tentang si dia yang terpatri di ingatan kita. Pun ketika kita dalam perjalanan ke kampus, ketika sedang mendengarkan dosen berSesorahRia, ketika jam istirahat, ketika ngantri di warung makan, ketika on line, ketika pulang ke kosan, ketika nyuci baju, ketika nyetrika, ketika ngerjain tugas, ketika beres-beres kamar, bahkan ketika membuang sampah pun yang ada di benak khayal kita hanya dia, dia, dan tetap dia. Bahayanya lagi, jika sampai ketika kita sholat dan membaca Qur’an kita tetap memikirkannya. Bahaya!! Yang semacam ini sudah terjangkit virus hakcih stadium akhir. (Lhoh???!!.... Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian)

Kalau sudah begitu, hari-hari kita menjadi kacau hanya gara-gara fokus kita tersamarkan oleh bayangan si dia. Sungguh kacau, kacau, dan kacau. Hingga terasa hambar bin hampa, melalui hari-hari yang nggak jelas. Yang ada hanya lamunan, lamunan, dan lamunan. Entah lah, memang segala tentang si dia telah mendikte software di otak kita. Lantas kalau sudah terlanjur virusen, bagaiaman lagi? Bayangkan jika kita adalah sebuah hand phone, kita harus mereset semuanya. Atau jika kita adalah flashdisk, kita harus diformat ulang. Atau jika kita adalah laptop, kita harus diinstall ulang. Hanya saja, kita adalah seonggok daging yang diliputi selang-selang pembuluh darah, yang bergerak karena ada unsur otot dan tulang, yang bernafas. Dimana bisa kita temukan tombol reset? Pilihan format atau istal ulang? Dimana? Apa kau menanyakannya kepadaku?

Entah jenis virus trojan atau apa, aku tidak pernah berkenalan dengan koloni virus di laptopku. Dan aku beri nama virus yang membuyarkan pandangan ini adalah virus hakcih. Ya, hakcih. Kedengarannya seperti bunyi bersin tetangga, namun bukan itu maksudku. Tidak akan dipermasalahkan mengenai maksud dari penyematan nama itu, yang utama adalah bagaimana tindakan kita jika terindikasi virus tersebut. Begini, ehem..

Ketika  kita merasa sudah terjangkit virus memabukkan itu, segeralah kita cuci muka!! Mungkin Anda akan bertanya, mengapa cuci muka? Karena menurut penelitian (hanya khayalan oleh ilmuwati bernama Rinda. Haha), cuci muka atau yang biasa kita sebut ‘raup’ dapat merangsang otot wajah kita kembali fresh dan rileks segar kembali setelah lesu lelah melamun. Ya! Kukira semua orang sudah tahu akan hal itu. Hehehehe. Itu hanya cuci muka! Bagaimana kalau berwudhu saja sekalian? Tentu saja itu akan membuat semangat kita kembali seperti semula, pikiran pun akan jernih. Dengan catatan wudhunya dengan sebenar-benarnya, bukan sekedar basah saja. Ketika kita membasuh telapak tangan, bayangkan apa saja kerjaan si tangan ini yang telah mengundang virus itu (misal : sms-an, rajin sms walau jarang dibalas. Hahahahaha). Ketika kita berkumur, bayangkan ucapan apa saja yang menjadi bumbu menyubur virus itu (misal : crewet hanya untuk cari perhatian. Heheh). Ketika kita membasuh muka, bayangkan berapa jam waktu yang kita habiskan untuk melamunkannya (sampai2 tidur pun susah. Hihihi). Ketika kita membasuh tangan, bayangkan apa saja yang telah kita perbuat hanya untuk menarik perhatiannya (misal : banyak ‘pertolongan’ yang tidak ikhlas, mengharap balasan berupa perhatian. Hayooo...). Ketika kita membasuh kepala dan telinga, bayangkan berapa sering otak dan telinga kita tiba-tiba blank saat perkuliahan atau saat mengerjakan tugas hanya karena bayangan si dia berseliweran (horoooh..). Pun ketika kita membasuh kaki, bayangkan berapa ribu langkah yang telah kita lakukan hanya untuk bertemu dengannya (dibela-belain muter lewat jalan yang jauh hanya untuk berpapasan. Hohoho). Sudah selesai?? Kok? Semua organ tubuhmu kau gerakkan hanya untuk sidia?? Lalu mana bagian untuk teman, para sahabat, bahkan mana untuk orang tua kita??!! Kalau semua itu saja belum menduduki posisi atas, lalu bagaimana dengan Tuhan kita?? Bagaimana dengan Allah?? Apakah Allah masih menduduki peringkat teratas di data ‘perhatian’ kita??? (...)

Jika wudhu kita sudah sebenar-benarnya wudhu, maka lima puluh persen konsentrasi kita akan kembali pulih, bayangan sidia sedikit bergeser. Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencapai konsentrasi yang optimal?? Tentunya kita laksanakan kewajiban kita, yaitu sholat. Tentunya dengan sholat yang sebenar-benarnya sholat, tidak asal, orang jawa bilang ‘waton jengkang-jengking’. Hehehe (sepertinya aku adalah orang jawa. Hah!). Setiap gerakan sholat kita lakukan dengan sungguh-sungguh, itu akan merangsang otot menjadi rileks dan aliran darah ke otak menjadi lancar. Kenapa? Ketika kita rukuk, tulang belakang kita merenggangkan syaraf-syarafnya, dan aliran darah lancar. Ketika kita sujud, darah akan mengalir ke otak, sehingga suplai oksigen ke otak kita meningkat, hal itu akan mengembalikan konsentrasi kita. (Wuaaa...jadi sebelum memasuki ruang ujian, sebaiknya kita bersujud dulu. Heheheheee). Yah, penjabaran tentang keajaiban wudhu dan sholat kita cukupkan dulu, habis. Lain kali dilanjutkan. Sudah terlalu mbliber-mbliber, hihihii.

Kita. Ya, memang kita. (Siapa yang nggak mau ikut? Ya sudah, berarti “kita semua kecuali kamu”. Hahahaha). Itu lah kita semua kecuali kamu. Hehe. Begitu. Sebenarnya ini terinspirasi dari beberapa buku yang menjabarkan tentang percintaan. Tentang “jomblo adalah pilihan”, tentang “nikah dan pacaran”, tentang “kujemput jodohku”, tentang semuanya. Apa lagi?? Entah, aku lupa. Namun terlalu berat pembahasannya, yang menurutku “iiihhhh.....sok banget sih! Terlalu perfect..!”. Opsss...sebenarnya tidak begitu, aku saja yang lebai. Memang, aku tak akan menyangkal jika kita pernah atau bahkan sedang terjangkit virus hakcih itu. (Lhoh...?). Itu wajar, kata seorang psikolog. Itu godaan setan, kata seorang ustadz. Dan apa kataku? Itu nyata, kataku. Hehehehee. (semrawut.com).

Akhirnya aku pun kehabisan kata-kata (baru menyadari bahwa aku itu boros, boros kata). Kita harus bangkit! Wujudkan mimpi indah masa depan! (yah, ini contoh konsentrasi buyar gara-gara lapar, pembahasan sudah tidak kohesif dan koheren apa lagi komprehensif. Hahaha.. ingat mata kuliah deh jadinya).

Ketika hati goyah karena si dia. Pokoknya, tenanglah, “masa itu” akan tiba, dan akan lebih indah... Tenanglah.
»»  READMORE...