Senin, 22 Oktober 2012

Senyumlah, sayangku...

Ini adalah awal dari tangga impian, sayang...
Senyumlah...
:)
Tak usahlah lagi kau pikirkan tentang keputusan itu, meski tak mudah...
Sudah tak perlu lagi kau tangisi kisah itu...
Senyumlah...
Meski kau sendiri, aku yakin kau pasti bisa, sayang...
Aku sayang padamu...
Senyumlah...
:)
Kini kau sendiri, berjalan di atas trotoar kehidupan.
Jangan takut, aku selalu mendukungmu, sayang...
Allah selalu melindungimu..
Senyumlah...
Aku ingin kau tetap ceria seperti dulu..
:)
Sayangku,
:*
Aku kangen...
he he he
:P
Hehmmm....
Sayang,
coba lihat kau sekarang...
Kau sekarang sedang belajar berjalan sendiri...
Semangat ya, sayangku....
Em...
Ketika keputusan itu jatuh begitu saja di pagi - pagi buta..
Kau tau air mataku pun berseluncur di pipiku..
Ah, aku bukan menangisi suatu kesakitan...
Aku bahkan trenyuh, karena kisah yang dituliskan Allah begitu indah...
Aku masih ingat betul impian kecintaanmu ketika itu..
Kau ingin jilbab itu kan?
Kau ingin kitab itu kan?
Kau ingin pengajian itu kan?
Kau ingin pondok itu kan?
Sungguh, aku yakin itu menjadi arang dalam sekam, dalam hatimu yang terdalam..
Aku paham, kau masih menyimpan cinta itu...
Hingga kau berada dalam kepayahan dan mengalir bersama arus sungai..
Kini arus sungai itu harus terhenti.
Mau tak mau.
Meski terasa seperti terhempas di bebatuan karang yang tajam.
Tapi kini kau akan belajar bangkit dari sungai itu, dan kembali mengejar impianmu...
Sayangku,
Maafkan aku yang dulu mengajakmu mengalir dalam arus itu..
Aku akan melepasmu pergi mengejar impianmu...
Aku mencintaimu dalam diam...
Senyumlah..
:)
Sayangku,
Jangan menangis lagi...
Meski ketika kau belajar berjalan kau juga harus belajar keseimbangan...
Keseimbangan tanpa alas kaki..
Sayangku,
Senyumlah....
:)
Meski kini kau tak punya apa pun..
Meski kini kau harus menguras isi perut untuk mendapatkan isi perut esok pagi...
Meski kini kau dalam kepayahan sendiri...
Bahkan saat ini ketika baru saja kau bangkit dari hempasan arus sungai itu..
Percayalah, sayangku....
Aku sayang kamu....
Aku selalu mendoakanmu, meskipun aku diam...
Senyumlah...
:)
Sayangku,
Jangan kau ratapi laptopmu yang rusak,
Jangan kau ratapi hapemu yang rusak,
Jangan kau ratapi nasib isi dompetmu,
Jangan kau ratapi nasib proposal skripsimu,
Jangan kau ratapi semua ini sebagai suatu pesakitan lanjut..
Ini sama sekali bukan kesedihan, sayang...
Ini adalah jawaban dari do'amu...
Bukankah kau berdoa setiap hari :
"Ya Rabb, ingatkan apa bila hamba lupa... Tegurlah apa bila hamba khilaf... Tunjukan jalan-Mu, tuntun langkah hamba menuju-Mu"
Ya, mungkin itulah pertanda dari Allah, sayang...
Allah sedang mengingatkanmu,
Allah sedang menegurmu,
Maka,  bersabarlah sayangku....
Allah pasti juga akan menuntun dan menunjukan jalan untukmu...
Percayalah, sayang..
Usap air matamu..
Senyumlah...
:)
Aku mencintaimu, setulusnya....
Love you, sayang...
:*
Fighting!
Ini adalah awal dari tangga impian.



Your lovely heart,
Syifa
»»  READMORE...

Minggu, 14 Oktober 2012

jika esok tak bersama


Kawan, ketika suaraku tak semerdu hari lalu, apa masih betah kau bercengkrama bersamaku? 

Mungkin saja jenuh mendengar nyanyianku. Atau mungkin malah bosan dengan wujudku. Kawan, akan aku katakan dengan nada yang manja, berbisik pada telingamu, mengusap lembut jemarimu, atau mengelus punggungmu seperti aku memanjakan anak kecil..... Bahwa aku mungkin tak selamanya berada di sini, di sisimu, kawan. Tak mungkin aku selalu ada menyapamu dengan teriakan kecil yang manja. Tak mungkin aku selalu ada tertawa mendengar guyonanmu yang unik dan menggemaskan. Tak mungkin selalu ada untuk membuatkanmu teh anget ketika kamu sedang sakit. Tak mungkin selalu ada menemanimu membuat proposal. Tak mungkin selalu ada merengek manja minta untuk diajari sesuatu. Tak mungkin... Tak mungkin.... Tak mungkin.... 

Kawan, sungguh teramat berharganya persahabatan yang terjalin ini. Hingga suatu saat aku tak lagi merasakannya, cerita ini akan aku tulis, karena tak mungkin aku dongengkan semuanya ke seluruh pelosok negeri. Kawan, mungkin saja kau tak berkenan jika kujadikan tokoh utama dalam secerita kisahku. Maaf kawan, tak ada surat ijin, hitam di atas putih atas hal ini.

Ketika aku merajutnya, kau mungkin masih tertidur pulas, menikmati dedongengan mimpi yang mungkin jauh berbeda dengan mimpiku semalam. Kawan, rajutan kisah bersahabatan ini akan aku kenakan hingga kelak aku memiliki anak cucu, karena sejarah tidak boleh dihilangkan. Atau aku akan memuseumkannya dalam etalase kaca yang indah, siapa saja yang melihatnya akan merasa ingin mencicipinya. Aku tahu, Allah telah merencanakan sesuatu untukku dalam waktu dekat ini, dan sayangnya, aku tak tahu rencana apa itu. Kawan, mungkin saja rajutan ini belum sempurna, maaf jika tak mampu tangan ini menyempurnakannya....

Untukmu, sahabatku
»»  READMORE...

Rabu, 10 Oktober 2012

aku pertaruhkan semuanya


Lama tak kutuliskan tentang hidupku (lagi) semenjak anganku runtuh (saat itu), sudah setahun lebih. Begitu dalam kurasakan sebuah keterpurukan. Ketika aku bertahan bersandar pada satu pohon, nyatanya pohon itu tidak berkenan menyanggaku, aku terjatuh. Hingga akhirnya ditengah hempasanku di jurang pesakitan, aku ingin menunggangi sebuah permadani yang bisa membawaku terbang dan bersembunyi di sebuah hutan, hingga kelak aku keluar dari hutan itu dengan rupa rupa baruku yang lebih siap untuk ‘hidup’. 

Namun, sayang, kedua pahlawan yang telah membesarkanku tidak mengijinkan aku menunggangi permadani dan masuk ke dalam hutan itu. Aku masih tergolek di jurang pesakitan. Sesekali mengesot dan berpegang pada rumput teki, berjinjit di atas tunggak pohon jati untuk mengintip angkasa yang memantulkan bayang hutan rindang. Hembusan angin kuhirup perlahan, merasakan hempasan aroma dari hutan itu, membuatku sedikit merasakan nuansa di dalamnya dan membayangkan aku berada di sana. Berbulan – bulan aku di situ, melakukan rutinitas itu, tanpa ada yang paham bahwa aku ingin sekali keluar dari jurang itu dan menjadi bagian dari penghuni hutan itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, bayang hutan itu semakin jelas kulihat, rimbun pepohonan itu semakin membuatku ingin berlari ke arahnya. Sebelum angka tahun berganti walau hanya satu digit, aku merasakan suatu keteduhan di tempat dimana aku terduduk dalam jurang. Kutengadahkan wajah sayuku, mendapati sebuah pohon rindang melambai ke arahku, memayungiku dari terik mentari. Aku seperti mendapati sebuah  bayang nyata hutan itu, meskipun pohon itu tidak serindang pohon – pohon yang ada di tengah hutan sana, dan juga tidak sekokoh pohon yang dulu menjatuhkanku. Kuulurkan sulurku, membiarkan aku dan batang pohon itu berlilitan, hingga aku bisa merasakan nuansa hutan yang sesungguhnya. Hingga akhirnya di tengah perjalananku berbelit dengan batang pohon itu, di antara cabang – cabang itu, aku berpapasan dengan sulur – sulur lain yang lebih dulu melilitnya dan bahkan yang baru saja mulai melilitnya. Aku dan mereka saling mencari tempat untuk melilit. 

Ah…. Tuhan….Begitu sulit jalan ini kutempuh. Aku tak mungkin berebut dengan mereka. Aku tak mungkin serakah. Namun aku tak mungkin mampu berbagi tempat, jika hanya dengan sejengkal ruas pun aku akan menggantung di udara tanpa ada yang menyangga. Tuhanku…. Aku terlanjur melilit di sini, apa mungkin aku berbalik arah untuk melepas lilitanku?? Tuhanku, maafkan aku… Aku yang lengah… Aku yang telah bodoh, hanya karena kecintaanku akan sebuah impian untuk merasakan hutan itu, aku pertaruhkan semuanya… 

Allah, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan Engkau selalu menyayangiku.. Namun aku telah berdosa besar. Aku telah salah jalan. Untuk menggapai cinta-Mu melalui hutan itu, aku menyemai cintaku untuk membelit pohon ini yang nyatanya mempunyai banyak cabang bersulur yang membuatku tak bisa bergerak. Allah, maafkan aku…. Mungkin Engkau cemburu, hingga Kau tunjukan betapa banyak sulur – sulur itu melilit pohon yang kulilit. 

Maafkan aku…. Allah, jika ini adalah pohon yang tepat untukku melanjutkan langkah, ijinkan aku mencari tempat di sini untukku melilit tanpa ada sulur lain. Tapi jika bukan pohon itu tempatku, maka bantulah aku berbalik arah melepas lilitan yang terlanjur erat ini, aku tak mau menggantung di udara mobat mabit tertiup angin tanpa penyangga. Dan kepada para sulur itu, maafkan aku yang pernah serakah mencari tempat untukku membelit melanjutkan perjalananku. Maafkan keserakahanku.

Kini, bukan kepada pohon manapun aku memapankan diri. Aku ingin kembali pada kecintaan impian yang dulu. Entah bagaimana pun caranya. Telah lama aku membeku di sini.

Rinda Asy Syifa

»»  READMORE...

Minggu, 07 Oktober 2012

Aku Tak Akan Menggadaikan Cinta-Mu


Wahai Tuhanku, Allah...
Mungkin tak pernah kupahami sebelumnya
Tentang apa apa yang telah Kau ciptakan untukku
Hanya untukku, spesial untukku.

Ketika semua ini hanya tampak seperti sebuah bola salju
Yang dingin menyenangkan dan terlempar pecah di hadapku
Itu hanya permainan belaka yang tak pernah ada maksud baiknya
Aku yang memunguti bola-bola salju yang tercecer itu
Terkadang merasa beku di ujung jemarianku

Tak mungkin
Tak mungkin
Dan tak mungkin

Terus-terusan saja aku menelan kosakata TAK MUNGKIN
Bukan karena aku tak percaya bahwa Kau Maha Berkehendak
Namun, ini adalah perkara TAK MUNGKIN yang lain

TAK MUNGKIN kau ridhoi aku memunguti bola-bola salju itu
Bahkan melemparkannya kembali ke tempat asal
Hingga terjalin lelemparan yang menyenangkan
Yang seperti menimang-nimangku dalam buaian fana!

FANA! Dan FATAMORGANA!!

Allah, Kau yang sebut Tuhanku..
Tidak pantaslah aku memohon yang terlalu lebih dari ini.
Yang aku tak pernah menghitung jumlah dari semua itu
Rumus mana yang harus kugunakan, tak ada

Jika apa yang Kau beri adalah sebagai wujud CINTA-MU padaku
Etisnya aku MEMBALAS CINTAMU
Memang Kau tak mengirimkan sekuntum bunga mawar atau sepucuk surat cinta
Namun lebih dari itu
Kau mengirimkan SURAT CINTA dengan sabar
Bahkan aku mengacuhkannya!!
Surat cinta yang kau titipkan pada seorang lelaki tampan itu
Beliau yang tersemat gelar Al Amin

Sungguh, Allah...
Aku telah mengacuhkan surat cinta itu
Maaf..
Baru aku sadari, bahwa KAU MEMANG BENAR CINTA...!
CINTA-MU yang membelaiku selama ini
Hingga aku bisa merasakan banyak rasa
Malahan, apa yang kau beri sebagai wujud CINTA-MU itu
Aku jadikan alat untuk mencintai MAKHLUK CIPTAAN-MU

APAKAH KAU CEMBURU, WAHAI ALLAHKU...
Jika benar Kau cemburu,
Jalan mana yang harus aku tempuh
Untuk menukar rasa cemburu itu dengan segenggam ampunan

Entah apa yang kuyakini selama ini
Imanku yang seolah seperti gelombang tsunami yang tak menentu
Maaf jika cinta-Mu seolah tergadaikan
Tapi sungguh,
Aku ingin
AKU TAK KAN MENGGADAIKAN CINTA-MU


»»  READMORE...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Sipus Kembang Telon


Salah sawijining dina, ing satengahing alas, ana kucing lagi golek pangan. Kucing kuwi mlaku turut dalan cilik, sinambi nembang, “Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus. Sipus sing paling bagus, pinter nyanyi, ora ana sing ngalahke aku. Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus.” Kucing kang lagi mlaku kuwi pancen gembagus, warna wulune putih, perangan weteng lan buntute ana warna semburat ireng, mripate mencirit, suarane gagah. Kahanan awak kang kaya mangkono kuwi dadekake Sipus kumalungkung. Sipus ngrasa yen awake kang paling apik, paling pinter. Saben dina tembangane ya mung kuwi. “Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus. Sipus sing paling bagus, pinter nyanyi, ora ana sing ngalahke aku. Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus.”
“Ah…aku ngelih, pengen maem iwak.”, Sipus banjur tumuju kali sapinggiring alas. Satekane ing pinggir kali, kucing kuwi leyeh-leyeh sangisore wit. “Fyuh…sayah. Aku tak leyeh-leyeh dhisik ah”. Angine sumilir sumbribit, ndadekake kucing kuwi ngrasa lier-lier ngantuk.
Teka-teka, ana godhong tiba, pas nibani buntute Sipus. “Gandrik…!! Wah, jan..ngaget-ngageti!!”, ucape Sipus njenggirat kaget merga buntute krasa grisi ketibanan godhong waru.
Sipus malah muna-muni dhewe, ndremimil. Godhong mau banjur ditendhang kecemplung kali. “Huh…aku ki lagi bersantai, malah dikaget-kageti. Lunga kana..!”, celathune Sipus. Godhong mau dicemplungake kali. Sajak ora ngerti yen ing godhong kuwi ana omah ngangkrang. Godhong mau kecemplung kali, nanging kesangkut ana ing antarane watu-watu gedhe satengahing kali.
“Alhamdulillah…untung godhong iku kesangkut nang watu-watu gedhe. Coba yen kentir bablas kegawa iline banyu, mbuh wis kaya ngapa awakku iki,” ucape semut ngangkrang cilik kang ana ing godhong waru mau. Nanging saikine semut kuwi bingung olehe arep nyebrang tekan pinggir. “Haduh….watu iki adoh saka pinggir kali, kepiye olehku nyebrang”, Semut ngankrang bingung.
Srengenge tansaya dhuwur. Sipus kang kawit mau leyeh-leyeh banget anggone ngrasa luwe. Sipus banjur ngadeg sapinggiring kali, nganti-anti yen ana iwak liwat banjur dicakar. Durung suwe anggone ngenteni iwak liwat, ana Siti, tikus cilik. Siti mara ing kali kuwi perlune arep ngombe banyu sapinggiring kali.
“Huss…! Ngapa kowe ngombe nang kene. Awakmu kuwi mambu, ngambon-amboni banyu kali kene. Lunga kana…! Ambumu kuwi marakke iwak-iwak ora gelem liwat”, Sipus ngurak Siti kang lagi arep ngombe. Nanging Siti tetep ana kono, ora gelem lunga.
“Meeeeoooowngg..aaaarrkh..!”, kucing sombong kuwi meden-medeni tikus supayane lunga. “Tikus mambu..!! Lunga!”, urake kucing.
Weruh Sipus nesu kuwi, Siti mlayu munggah wit. “Hiiiiiiiii…..iiih jan, kucing sombong, galak!”, grundhele tikus ana ndhuwur wit.
“Nah, lunga..kana. Yen wis ngene ki rak ya ora ana kang ngambon-amboni”, ucape kucing.
Kucing kuwi banjur neruske anggone golek iwak sinambi nembang. “Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus. Sipus sing paling bagus, pinter nyanyi, ora ana sing ngalahke aku. Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus.”
Nalikane Sipus lagi asyik ngadhang iwak, saka tengah kali keprungu suara tangis. “huhuhu…huks..hiks..”, suara tangis kuwi sansaya cetha.
Kucing banjur muni, “He…sapa kang nangis nang tengah kali??!”. Dhasare kaline amba, kucing mau rada ora weruh yen satengah kali ana semut kang lagi nangis ana ndhuwur watu.
“Aku….!”, wangsulane Simut.
“Hah? Kowe sapa?”, pitakone Sipus rada sero.
“Aku Simut. Aku nang ndhuwur watu tengah kali, ora bisa nyebrang minggir”, ngangkrang cilik kuwi mbengok. “Tulungana aku…!”, panjaluke Simut.
“Apa? Apa? Apa? Nulungi kowe?”, Sipus nyauti panjaluke Simut kanthi cengengesan. “Eman-eman wuluku…mengko yen aku mrono njuk wuluku teles, eman-eman. Hahahaha…”, Sipus malah ngguyu ngakak.
Saka dhuwur wit mau, Siti weruh kedadean kuwi. Atine mangkel weruh tumindake Sipus kang mangkono kuwi. Sipus wis kalangkung anggone sombong. Mula Siti pengen gawe Sipus sadar.
Saka ndhuwur wit, Siti ngrikiti pang kayu kang mulung pas sandhuwure Sipus. Kayu kang dikritiki mau metu tlutuhe. Tlutuh kuwi netes-netes, netesi awake Sipus. “Heh..apa iki netesi aku?!”, Sipus kaget. Sipus ra nglegewa yen wit kuwi duweni tlutuh warna soklat lan yen wis gupak angel diilangi.
“Pus, saiki wulumu tambah apik, warnane dadi ireng, putih, soklat!”, kandhane Siti saka dhuwur uwit.
“Ho’o pa? Wah…mesthi aku tambah ayu ya…”, guneme Sipus karo sajak ke-GR-an.
“Ayu tenan…sip!”, celathune Siti, nggawe seneng atine Sipus. “Nah, gandheng saiki wis tambah ayu, tulungana Simut kae”, panjaluke Siti.
“Nulungi Simut cilik elik kae?! Oh…sory ya..!”, wangsulane Sipus.
“Pelit, sombong, aku ora arep kekancanan karo kowe!”, Siti mbengok.
“Ora ya wis..”, unine Sipus sinambi mlaku lunga saka papan kono.
Bareng Sipus wis lunga, Siti nulungi Simut. Siti nibakake pang kayu kareben kanggo wot Simut tumuju pinggir kali. “Mut, iki tak tibani pang, nggonen wot mrene”, kandhane Siti. “Yoh, matur nuwun ya..”, Simut sumringah.
***
Dina candhake. Sipus mlaku-mlaku turut lurung sinambi nembang. “Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus. Sipus sing paling bagus, pinter nyanyi, ora ana sing ngalahke aku. Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus.” Aku Sipus, aku Sipus, aku Sipus. Saiki wuluku werna telu, aku paling bagus, paling ngganteng”, tembangane Sipus sansaya kumalungkung saploke ditetesi tlutuh.
Ana dalan Sipus ketemu Siti, “Hei, aku bagus tenan ta? Aku paling ngganteng ta?”, pitakone Sipus marang Siti. Siti mung manthuk-manthuk, “hemm..”, wangsulane. Sipus banjur nerusake lakune.
Simut kang kawit mau ndhelik ana mburine Siti, muni, “Sipus bodho! Ra ngerti pa yen kucing kang wulune werna telu kuwi akeh digoleki manungsa! Haha..”. Sipus pancen bodho, ra ngerti yen wulune kang dadi telung werna kuwi mbebayani tumrap awake.
Ora let suwe, ana manungsa kang lagi berburu. “Wah…! Ana kucing kembang telon..! Dakcekele”, ucape manungsa kuwi sajak arep nyekel Sipus kang lagi pamer kuwi. “Pus…pus...pus…wulumu kok apik, apik tenan, ngguanteeeng..!”, manungsa gedhe dhuwur kuwi ngrayu supayane Sipus gelem nyerak.
Sipus kang sipate sombong sansaya bungah atine, banjur nyeraki manungsa kuwi. Nalikane Sipus wis cerak, manungsa kuwi ngetokake karung banjur nyekel Sipus dilebokake karung. “Meeeoooowng…arrrrkh..!!”, Sipus njerit-njerit ana jero karung. Sipus digawa menyang kutha marang manungsa kuwi. Weruh kedadean kuwi, Siti lan Simut mung cekikikan.
(Dening : Rinda Asy Syifa, kapethik saking DJAKA LODANG edisi 25 Agustus 2012)

»»  READMORE...

Senin, 06 Agustus 2012

Menuju Rumah Panggung


Aku percaya bahwa ibuku lah yang melahirkan aku. Sama halnya aku percaya bahwa Allah telah menjadikan aku seorang manusia yang mereka sebut perempuan atau wanita atau cewek atau wadon atau wedok atau wanodya atau apa lah itu. Sama halnya juga dengan aku percaya bahwa aku diciptakan lengkap dengan dua atributku, yaitu kelebihan dan kekurangan. Sama juga demikian aku percaya bahwa Allah pasti telah tepat memilihkan jalan untukku.

Di malam yang agak mendung ini, berjalan menyendiri menyisiri setapak demi setapak perjalanan kurengkuh. Bebatuan menyambutku, namun tidak menyumbatku, hanya menggelitik di telapakan kakiku. Semut dan beberapa temannya berlarian montang manting lantaran takut terinjak olehku. Ada juga guguk dan angsa yang mendekati dan mengolokku sambil membuntuti bahkan menjajariku. Beberapa perwujudan lainnya (yang sebangsa denganku) berkelebat di sekitarku, sesekali mendahuluiku dengan berlari. Ya, berlari menggunakan sepatu mirip kepunyaan pesepak bola. Ada juga yang berjalan santai gontai tak jauh dari aku. Dan di tepian sana, ada juga yang hanya duduk sambil mengacungkan tangannya ke arahku dan berteriak berbagai macam teriakan, “mengapa tak kau kenakan sepatu seperti mereka??!”, “tak usahlah tergesa-gesa, mereka tak akan menggigitmu!!”, atau “sudahlah, untuk apa lagi? Lihat, dibelakangmu itu, mereka santai.” Bahkan ada yang berteriak “cepat!! Kau tak boleh kalah! Apalah artinya sepatu, itu sama saja!!”, dan juga “terserah kamu!! Itu perjalananmu!” dan “apaan sih kalian ini!! Biasa aja!!”

Aku percepat langkahku, hingga aku setengah berlari. Bukan karena aku takut, namun aku ingin segera bersimpuh di sebuah rumah panggung dengan semilir angin buritan yang membelai perasaanku. Namun ditengah perjalanan sesaat setelah aku terengah-rengah karena berlari, aku melihat berkas cahaya di sudut jalan sana. Semakin dekat, dan dekat. Uh, ini pun yang kualami beberapa kali di waktu yang lalu, seberkas cahaya menghampiriku. Aku tak bermaksud mengajaknya ikut serta, namun berkas itu meloncat begitu saja di atas kepalaku. Entah. Mungkin dia ingin punya teman. Ya, di atas sana, dia punya beberapa teman yang beberapa waktu yang lalu juga melakukan hal yang sama dengannya. Aku tak mengusirnya dari sana, biarkan saja.

Aku melanjutkan perjalanan, ditemani beberapa berkas cahaya yang berada di atas kepalaku, membentuk setengah lingkaran. Persis seperti mahkota boneka barbey kepunyaanku dulu. Berkasan itu menyinari jalan setapak di depanku, tidak membiarkan kakiku meraba-raba sendiri bebatuan tajam di saentoro jalan. Mereka-mereka yang melontarkan uneg-uneg tadi terdiam sejenak, melihat aku yang tak mempedulikannya dan terus mengikuti arah bias cahaya dari atasku. Sesekali aku menoleh dan tersenyum pada mereka, sekedar memberitahukan bahwa aku akan baik-baik saja, di kegelapan ini, tanpa sepatu, dan sendiri. Sunyi.
Kadang aku ingin berhenti dan duduk di tepian jalan, melepas penat yang erat, atau mungkin mencari tempat adanya angin yang menyejukan. Namun setiap kali aku berniat ingin menghentikan kepenatan itu, setitik berkas cahaya melompat di atas kepalaku. Semakin banyak titik berkas cahaya yang menyertaiku, semakin berat aku menjunjung kakiku sendiri namun semakin jelas mata ini menerawang. Mereka memang berat. Tak seperti senter yang ringan. Lebih berat dari berat badanku sendiri. Dan jika aku berhenti, sungguh-sungguh berhenti, maka satu demi satu cahaya itu perlahan akan padam. Padam, dan berakhir gelap gulita. Jangankan melihat jalan setapak itu lagi, untuk menunjuk hidungku saja mungkin akan sulit.

Akhirnya aku putuskan untuk tetap melangkah. Berirama seirama biasan cahaya yang tersorot. Lelah yang mendera tak sempat aku pensiunkan dari bangku pejabat rasaku. Aku melangkah, dan mereka yang ada di tepian itu kembali melempar berbagai teriakan (lagi). Kupendam semua keinginanku seperti mereka yang duduk santai di tepian jalan (walau bukan rumah panggung) ditemani semilirnya angin. Tenang. Aku percaya aku kelak juga akan merasakannya. Entah dimana. Entah kapan. Yang jelas itu pasti akan indah pada waktunya. Dan ibuku pasti akan tersenyum bahagia, air mata itu akan berarti keharuan atas kebahagiaan, dan bapak pasti mengelusku lembut,, saat aku bersimpuh di hadapan mereka, dan ditemani angin semilir yang membelai hatiku dengan segala kehalalannya. Dan kupersembahkan segala berkas cahaya di atas kepalaku kepada ibuku, ibuku, ibuku, dan bapakku,, dan beberapa khusus untuk angin itu. Hingga ibu percaya bahwa ibu telah dipercaya untuk melahirkan seorang anak yang penuh perjuangan, dan bapak bersyukur karena titipan Allah ini akan tangguh seperti ibunya. Dan angin itu pun akan mengerti bahwa kekuatan itu bukan terletak pada sepatu atau jaket tebal, itu terletak pada dinding-dinding hati.
»»  READMORE...

Jumat, 15 Juni 2012

Sekolah Iku


sekolah iku,
papan kanggo ngangsu ngelmu,
kang kudu dilakoni kanthi laku,
kuwi wis dadi wajibku lan wajibmu.

pawiyatan nora bisa laku tanpa guru,
kang kudu digugu lan ditiru,
tansah sareh anuntun murid,
anggone padha nggulang ngelmu.

ngelmu petung siji loro telu,
ngelmu maca a be ce de,
ora lali ha na ca ra ka,
tumekaning ngelmu ngaurip,
saka alam, sosial, lan agama.

sekolah iku,
kawah candradimukaning ngelmu,
kang dhasar nem taun wis lumaku,
tiba titi wancine mentas.

dhuh bapa ibu guru,
sewu agunging panuwunku,
kaaturaken awit setyamu.
daksuwun donga pangestu,
kanggo kakang mbakyu kang wus lulus,
mugya tanssaha nggayuh impen,
jenjem anggone sinau.


(Dening Rinda Asy Syifa, geguritan perpisahan Kelas VI SD Tawangsari 2012 kawaos dening Rina Putri Nauritika)
»»  READMORE...